
semua persiapan rapat dadakan yang dilaksanakan di ruang rapat utama berjalan dengan lancar.
setidaknya Lala bisa bernafas dengan lega karena bisa menyelesaikan persiapan dengan baik. tidak seperti rapat biasanya, dimana staf di biarkan berada diruang rapat.
berbeda untuk kali ini mereka menunggu di meja kerja mereka masing-masing.
"apa tadi ada yang kurang" tanya Sasa khawatir.
"sepertinya tidak mbak" jawab Lala yakin
"aku baru pertama kali melihat presdir secara langsung, dan mudahan tidak ada yang mengecewakan". kata Sasa dengan nada yang sama.
Lala memperhatikan perubahan mimik wajah rekannya, dimana biasanya Sasa terlihat bersahaja, berbeda dengan sekarang ini dia jelas terlihat tengah gugup dan cemas (maklum orang no.1 yang datang).
tidak berselang lama semua tamu datang sebanyak tiga orang, di susul Revan dan Dimas yang menyusul.
prakkkkk...
Presdir memukul meja keras "kamu gegabah Revan, bagaimana bisa hal seperti ini tidak kamu sadari". geram presdir yang merupakan ayah kandung tuan Revan. " mempercayakan proyek sebesar ini pada orang baru adalah tindakan terbodoh yang kamu lakukan"sambungnya.
"Tuan besar, kita harus cepat memanggil tersangka jika bukti sudah cukup" suara Surya selaku tangan kanan presdir Jaya Group.
"tidak perlu....,Revan akan menyelesaikan masalah ini dengan caraku" potong Revan.
Tuan besar yang mendengar anaknya makin geram, bagaimana bisa di selelet ini.
mendengar anaknya yang terkesan mengulur waktu membuat Tuan besar mengambil gelas di depannya dan melemparkannya ke dinding.
__ADS_1
pranggg.....
disaat bersamaan Lala muncul di depan pintu dengan membawa beberapa makanan ringan yang biasa dia siapkan ketika rapat.
Lala yang terkejut hampir menjatuhkan nampan jika tidak dia genggam erat.
"ayahhhhh......."suara Revan yang berteriak, disaat melihat pecahan gelas hampir mengenai Lala.
semua orang terkejut denga reaksi Revan, mereka tidak pernah melihat Revan meninggikan suaranya.
"Revan yang bertanggungjawab penuh dengan semua yang terjadi dikantor. apa ayah lupa, ayah sendiri yang meminta Revan memegang jabatan ini jadi ikuti aturan Revan. tatapan Revan tajam langsung ke sang ayah mengisyaratkan ke tegasan.
Tuan besar mengernyitkan dahi mendengar sanggahan anaknya" baik, selesaikan dalam minggu ini. tapi kalau tidak mundur dari jabatanmu". tantang sang ayah.
setelah mengatakan itu tuan besar dan sekertarisnya meninggalkan ruangan. tersisa Revan, Dimas dan paman Surya.
Revan memutar pandangannya kearah stafnya yang masih berdiri di tempatnya tanpa menjawab paman Surya. "letakan itu disini" memerintah lalu menunjuk keatas meja.
" Dim, panggilkan OB"
Lala yang disuruh segera masuk dan meletakan makanan ringannya di meja. pandangan Revan tidak lepas dari Lala sampai matanya melihat langsung tangan lala berdarah tertenga pecahan gelas yang terlempar.
"langsung ke kelinik kantor, obati lukamu" perintah Revan kembali.
"baik tuan" Lala menjawab tanpa berani memandang lawan bicaranya.
setelah tugasnya selesai Lala keluar ruangan dan tersisa 3 orang yang terdiam. entah apa yang mereka fikirkan tapi pandangan Dimas dan paman Surya tidak terlepas dari semua gerak gerik Tuan mudanya.
__ADS_1
...****************...
setelah pembahasan dengan paman Surya selesai, Revan meminta Dimas memanggil penanggungjawab proyek yang bermasalah. dan disinilah mereka.
"aku tidak perduli dengan alasanmu yang jelas kau harus selesaikan proyeknya..!" suara tuan Revan menahan rasa geramnya." kalau kau ingin memperkaya diri setidaknya gunakan otakmu dan jangan mengacaukan rencanaku bodoh" geram Revan tak tertahan.
"maaf tuan, beri saya kesempatan sekali lagi. saya akan menyelesaikan semuanya" suara penanggungjawab mengiba.
setelah menghembuskan nafasnya kasar, Revan menatap tajam targetnya.
"selesaikan dalam satu bulan ini, kalau tidak bisa aku sendiri yang turun tangan" suara Revan melemah namun tegas.
" satu bulan tuan?, bagaimanaa....."
Dimas geram mendengar orang tersebut mencoba menambah waktu. "satu atau tidak sama sekali" potong Dimas tidak kalah tegasnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1