
🍀
🍀
🍀
Lala tertunduk, tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini. Walaupun dia belum tau maksud sebenarnya dari pertanyaan Nyonya besar didepannya ini tapi cukup menyentilnya.
Apa ada yang salah dengan pekerjaannya selama ini. Atau jangan-jangan ada hubungannya dengan tuan Revan.
Lala terus bermonolog dalam hati seraya menduga-duga kemungkinan hal yang penyebabnya.
"maaf nyonya apa saya ada salah...?" memilih bertanya langsung. Sekaligus memusnahkan rasa was-was yang timbul.
"kenapa bertanya seperti itu..?" nyonya Fatma kembali bertanya. Sedangkan Revan memilih mendengarkan dulu maksud perkataan sang mama.
"maaf nyonya, karena menurut saya ini terlalu tiba-tiba.." mencoba menjelaskan.
"memangnya saya tidak boleh bertanya..?" ucap Nyonya Fatma kembali seolah menikmati menggoda gadis didepannya.
"hmmm..., maaf Nyonya saya kurang tau masalah itu. Mungkin bisa tanya langsung ke tuan muda" akhirnya mengalah dari rasa penasarannya. Memilih menjawab sesuai dengan apa yang diketahuinya.
Mama Fatma menatap putranya, seolah bertanya hal yang sama padanya. Dan Revan paham maksud tatapan sang mama.
"umumnya pemecatan karyawan harus melalui beberapa tahap dan alasan yang mendukung pemecatan. Tapi tidak untuk Revan dan Ayah ma. Kalau memang ada yang tidak cocok ya tinggal pecat. Karena kami punya kuasa penuh. Tapi___ kalau mama ingin memecat karyawan, mama harus tetap meminta persetujuan Revan atau Ayah" menjelaskan panjang lebar. Dan mama Fatma menganggukan kepalanya tanda paham.
Yang padahal dia tidak perlu bertanya karena mama Fatma paham betul akan hal itu. Tapi menyelesaikan masalah putranya lebih penting kali ini. Karena itu mama Fatma bertanya hal tersebut.
"kalau gitu mama mau kamu pecat dia..!" menunjuk langsung ke arah Lala membuat Lala terkejut luar biasa. Tidak hanya Lala Revan bahkan menatap langsung sang mama, seolah tidak setuju dengan ucapannya.
Walau terkejut Lala tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berfikir mungkin dia sudah menyinggung sang Nyonya besar.
Lala makin menunduk dalam, seolah dia pasrah dengan pemecatan atau hal apapun yang akan diterimanya.
Toh dia bukan siapa-siapa, sedangkan mereka bosnya tentu saja bisa melakukan apapun. Terlebih Lala tidak bisa meminta bantuan tuan Revan.
Karena memang tidak ada alasan tuannya membantunya. Terlebih yang meminta pemecatan adalah mamanya sendiri.
Seharusnya aku tidak penasaran dengan kesalahan ku. Atau mungkin seharusnya aku hanya fokus pada kata pemecatan itu.
__ADS_1
Toh kalau nyonya ini tau perihal hubungan ku dengan tuan Revan dulu mungkin aku akan menerima hal yang lebih parah dari ini.
setidaknya dia tidak memecatku dengan mempermalukanku didepan banyak orang.
Lala pasrah sepasrah-pasrahnya. Toh memang seperti itu seharusnya.
...****************...
Lala masih bingung dengan hal yang dialaminya. Bagaimana bisa dia yang seharusnya tengah sibuk dengan pekerjaannya malah berada di pusat perbelajaan terbesar dikota ini.
Iya setelah pembahasan yang cukup mengguncang jantungnya Lala sedang menemani Nyonya besar yang pagi tadi hampir membuatnya pingsan karena terkejut.
Bukan hanya karena kata pemecatan yang disebutnya melainkan kata-kata selanjutnya yang lebih membuatnya terkejut dan bingung.
Iya, bagaimana tidak bingung dia yang harusnya tengah berduka karena menerima pemecatan secara sepihak malah menemaninya berbelanja bahkan tidak habis hanya itu saja. Dia bahkan disebut sebagai calon menantu.
Astaga yang benar saja.
Plak...
"Huh.... Ternyata aku tidak sedang bermimpi" Ucap Lala pelan sambil memperhatikan nyonya Fatma yang melihat beberapa dress cantik yang ada didepannya.
"kalau gitu mama mau kamu pecat dia...!" suara Nyonya Fatma tidak hanya membuat Lala terkejut, Bahkah Revan pun tak kalah terkejutnya.
"ma...." suara Revan memperingati, seolah tidak suka dengan sikap sang mama.
"loh kenapa?, mama hanya minta hal remeh kan..." mama Fatma tidak mau kalah.
"maaf nyonya kalau saya menyinggung anda. Tapi apa saya boleh tau kesalahan saya..." Lala bertanya sekaligus memotong ucapan Revan yang akan keluar.
mama Fatma mengalihkan pandangannya kearah staf iatimewa putranya " Cih....., kau bahkan tidak sadar kesalahan mu apa...!" mama Fatma terdengar tidak suka. Tapi entahlah.
"ma, Revan akan urus sisanya jadi mama bisa selesaikan sampai sini. Dan sebaiknya mama...." Ucapan Revan terpotong lagi, kali ini oleh sang pembuat masalah siapa lagi kalau bukan mamanya sendiri.
"Kau benar tidak tau dan tidak sadar kesalahan mu?" bertanya lagi.
"iya Nyonya, maaf" Lala menjawab dengan kepala masih tertunduk.
" kau membuat putra ku galau beberapa minggu ini, dan membuat perusahan yang dibangun suami ku hampir bangkrut. Dan kamu masih tidak sadar juga...!!" menekan setiap kalimatnya agar mudah tersampai ke lawan bicara.
__ADS_1
"galau?, bangkrut?, maksudnya gimana ya Nyonya?. Maaf sekali lagi" Lala makin tidak mengerti.
Jujur Lala merasa aneh dengan semua ucapan nyonya didepannya.
"astaga....., pantas saja anak saya harus banyak mengalah dengan mu. Ternyata kau selemot ini." Nyonya Fatma merasa gemas.
Lala masih terlihat bingung dengan sesekali mengalihkan pandangannya kearah tuan Revan yang terlihat biasa saja.
Revan baru mengerti arah dari ucapan sang mama tapi dia memilih diam dan mendengarkan. Toh kenyataannya memang benar kalau dia galau dan karena kegalauannya bisa saja perusahaan bangkrut karena kelalaiannya. Walaupun itu terbilang berlebihan. Tapi tidak apalah.
" pilihannya ada dua kamu mau kerja dan ikut kata saya atau berhenti dan mengikuti kata mu...?" mama Fatma memberika pilihan yang sangat ambigu.
" maksudnya Nyonya...?" Lala kembali bertanya. Dan Revan seolah puas melihat kebingungan pada mantan wanitanya.
"tidak ada maksud tertentu, kamu hanya perlu memilih. Tapi ingat kalau kamu pilih yang kedua, silahkan tinggalkan kantor kami...!" Ucap Mama Fatma dengan tenang dengan ekpresi wajah yang biasa saja. Namun cukup mengintimidasi Lala.
"maaf nyonya, saya perlu pekerjaan ini." Lala menjawab lugas membuat Revan sedikit terkejut. Tidak menyangka Lala akan menjawab begitu.
"kalau gitu ikuti kata saya, mulai dari sekarang..!" Mama Fatma tersenyum puas. Dia tau perempuan ini memang berbeda dari perempuan kebanyakan. Dan menggertak dengan kerjaan adalah pilihan terakhir yang sangat disyukurinya.
Lala menatap Nyonya besar didepannya, seolah bertanya mau Nyonya apa sekarang.
"oke, baiklah. Mulai sekarang panggil saya mama!" Lala mengernyit mendengar perkataan yang barusan didengarnya. Sedang Revan hanya tersenyum samar seolah mengatakan cara mamanya menyelesaikan masalah terbilang kekanakan. Tapi anehnya dia suka.
"Dan sekarang bersiaplah, kita akan kesuatu tempat. Mama rasa kamu perlu itu..." berucap seraya berdiri dari duduknya.
"mama bawa calon menantu mama ya. Jangan khawatir dia akan kembali dalam keadaan baik, atau bahkan sangat baik.." mendengar itu Lala spontan berdiri. Merasa terkejut dengan apa yang didengarnya.
Tapi dia memang tidak salah dengar, nyonya didepannya ini menyebutnya calon menantu.
"terserah mama saja. Revan titip calon menantu mama ini.." Revan pun ikut beranjak seraya mengusap puncak rambut Lala, yang membuat Lala makin terkejut.
Keluarga aneh, seenaknya.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1