Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 34


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


satu bulan berlalu


Revan bersikap tenang seperti biasa. dia memang pintar menyembunyikan perasaannya.


Revan anggap ucapan stafnya satu bulan lalu merupakan waktu untuk dia mencari alasan mengenai perasaannya.


Revan paham kekhawatiran stafnya, meski tidak semua. Dia merasa perlu waktu juga untuk berfikir.


satu bulan ini, Revan berfikir lumayan keras mengenai alasan apa yang membuatnya jatuh hati pada stafnya.


walau sebenarnya, dia tidak butuh alasan itu. tapi dia hanya ingin memastikan kembali perasaannya. Revan tidak ingin salah langkah yang mengakibatkan kacaunya hubungan kerja diantara mereka.


selama satu bulan ini, satu hal yang pasti dirasakan Revan. dia bersyukur karena stafnya tidak merubah sikap meski dia sudah tau mengenai perasaannya.


"ngelamun aja, kesambet baru tau rasa loe.." ucap Johan yang merupakan salah satu sahabat Revan selain Dimas dan Dino.


"biasa aja" jawab Revan pendek.


"kenapa dia?" tanya Johan ada Dimas melalui sorot matanya.


Dimas yang paham maksud Johan hanya mengedipkan mata tanda jangan diganggu.


"huh....." hembusan kasar nafas Revan seolah membuang semua beban yang menghimpit dadanya.


Dimas, Johan dan Dino yang baru saja bergabung setelah meminta karyawannya untuk menyiapkan makanan untuk sahabat-sahabatnya merasa bingung.


mereka diminta berkumpul tapi setengah jam berlalu pembahasaan belum juga dimulai.


"kali ini ada apa?..." ucap Johan lebih serius bertanya pada Tuan muda sekaligus sahabatnya ini.


iya Johan termasuk salah satu orang kepercayaan Revan yang memegang salah satu anak cabang Jaya Group.


"masalah perempuan?" tanya Johan sekali lagi.

__ADS_1


Entah kenapa Johan yakin kalau kali ini masalah perempuan. Kalau perusahaan akan sangat tidak mungkin sahabatnya setenang ini.


Dino memilih diam, seolah mencari aman.


"menurut kalian gue harus gimana?" tanya Revan akhirnya.


"soal apa?" Johan yang belum mengerti memilih bertanya langsung.


"lupakan!"ucap Revan mengibaskan tangannya. dan beranjak dari duduknya.


ketiga sahabatnya hanya melihat tingkah tuannya yang menurut mereka makin aneh saja jika sedang berkumpul.


"kalau loe serius?, yakinin dia lah. buat dia tidak punya alasan untuk nolak loe" ucap Dino menengahi dan mencoba memberi saran. Dengan menyandarkan punggungnya.


Revan yang akan melangkah pergi mengurungkan niatnya. dan memilih menatap Dino mencoba bertanya maksudnya melalui sorot matanya.


"duduk dulu!, kita bicarakan baik-baik." suara Johan terdengar.


"hahhh....." Revan menghembuskan nafasnya.


Revan emilih mengalah dan kembali duduk untuk mendengar saran dari para sahabatnya.


Ternyata benar, ini masalah perempuan


Batin Johan


"kenapa kau bisa menyimpulkan begitu?" tanya Johan penasaran sedangkan Dimas dan Dino memilih diam dan memperhatikan.


"aku mengatakan suka padanya. selang sehari aku mengatakan masih menunggu jawabannya. dan___ dia memintaku untuk berfikir ulang karena orangnya adalah dia" jelas Revan singkat.


"menurut kamu gimana Di, Dim?" ucap Johan meminta pendapat sahabatnya yang lain mengenai permasalahn hati tuan sekaligus sahabat mereka.


Entah kenapa pembahasan ini terasa sangat penting dan serius.


"pepet teruslah" jawab Dimas santai


"cih....," Revan mendelik. Seolah mengatakan kalau cuma ngomong mah gampang.


"memangnya apa lagi coba?. Menurut gue, loe terlalu hati-hati. Seolah tidak yakin" sambung Dimas.

__ADS_1


"maksudnya?" malah Dino dan Johan yang tidak mengerti dengan ucapan Dimas.


Suka tapi tidak yakin, maksudnya gimana sih?


Batin mereka bermonolog


"gini ya, Revan bilang suka tapi dari gestur maupun tindakannya menunjukkan kalau dia tidak yakin dengan rasa sukanya. Jangankan Lisa aku aja enggak yakin!" jelas Dimas dengan posisi duduk tegak seolah penjelasannya harus wajib di simak oleh sahabat-sahabatnya teruma tokoh utama dari pembahasan ini.


Ohhhhh....namanya Lisa.


Batin Dino dan Johan seolah bersamaan


"kenapa bisa?" tanya johan dan kali ini dia bertanya pada si empunya hati.


"entahlah..." ucap Revan bersandar pada belakang sofa. Seolah menandakan masalahnya yang berat kali ini.


" aku yakin suka sama dia, apalagi setelah beberapa hari ini menjauh tapi gue bingung untuk memulai jadi terkesan kurang yakin" jelas Revan kembali.


"apalagi dia seolah menjaga jarak setelah aku mengatakan soal itu" sambung Revan.


huh......


Sahabatnya yang mendengarkan hanya bisa menghela nafas.


"apa mungkin dia sudah punya kekasih?" ucap Dino dengan fikirannya.


mendengar ucapan Dino membuat tiga orang lainnya seolah tersadar, mereka melupakan hal ini.


Bisa sajakan?


"sekali pun benar, Dia tidak mungkin menolak tuan mudanya bukan?, kecuali kalau kekasihnya lebih segalanya dari Revan!" Dimas mencoba mengurai titik permasalahannya.


Revan terdiam, dia seolah mengingat kejadian di Restaoran waktu itu.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2