
🍀
🍀
🍀
Lala terlihat sangat bersemangat, bahkan pekerjaannya selesai sebelum waktunya. Dengan begitu Lala memilih sedikit bersantai di ruang pantry seraya membuat minuman dan memotong beberapa buah sebagai cemilannya.
Hah... Rasanya lega sekali. Pekerjaan beres dan aku hanya perlu bersiap untuk pulang dan kesupermarket.
Lala bersenandung pelan seolah mengekpresikan suasana hatinya.
"ada kabar gembira..?" seseorang membuyarkan suasana santainya.
Lala menatap asal suara dan sedikit terkejut pada siapa yang menyapanya.
Lala spontan berdiri dan membungkuk sedikit tanda hormat. "santai saja kalau sampai tuan mu lihat bisa ngamuk dia" Radit tertawa dengan ucapannya.
Lala masih terpaku di tempatnya berdiri melihat sepupu dari kekasihnya tertawa renyah entah mentertawakan apa dia tidak mengerti.
Bahkan mbak Sasa tidak datang bersamanya. Itu tandanya tuan satu ini datang karena urusan pribadinya.
"ada yang bisa saya bantu tuan..?" memilih bertanya setelah tersadar dari keterkejutannya.
"ada, ada banget. Apa kamu bisa menceritakan apa yang membuat mu seceria tadi bahkan sampai bersenandung?. Suara mu lumayan juga." goda Radit. Radit meraya senang menggoda staf kesayangan sepupunya ini.
"maaf tuan..." Lala sedikit menundukan badannya. " sebentar tuan saya sambungkan ke dalam" meminta ijin dan meraih telepon yang terhubung langsung ke ruangan tuan mudanya.
"maaf tuan mengganggu, disini ada tuan Radit ingin bertemu. Apa boleh tuan?" menyampaikan langsung dengan sesekali mengalihkan pandangannya pada sepupu tuan mudanya, bahkan Lala tidak menunggu jawaban awal tuan mudanya.
"......"
"Baik tuan" Lala mengangguk dan memutus sambungan telepon.
"silahkan tuan, Tuan muda ada didalam" Lala memppersilahkan dengan tangannya.
"Radit memainkan jari telunjuknya seraya menggeleng" sepertinya kau tidak nyaman dekat dengan ku..." Radit menerka. Dan sejujurnya Radit paham betul apa penyebabnya.
"baiklah kalau begitu lanjutkan senandung mu oke. Saya masuk.." Ucap Radit seraya membuka pintu ruangan utama di gedung ini.
Entah apa yang tengah dua bersaudara itu bicarakan Lala memilih melanjutkan membereskan barang-barangnya. Dengan sesekali menatap jam dipergelangan tangannya.
Sebentar lagi jam pulang kerja...
Hehehehe, ahh aku bahkan belum membuat daftar belanjanya.
Lala melanjutkan kerjaannya dan setelah masalah perlengkapan selesai Lala akan lanjut membuat daftar belanjanya. Rasanya menyenangkan sekali bisa berbelanja sendiri.
Perasaan yang aneh, apa dia tidak nyaman dengan perlakuan tuan sekaligus kekasihnya itu selama ini.
Tapi Lala merasa biasa saja. Tapi entahlah kenapa bisa dia sesenang ini hanya karena akan pergi berbelanja. Atau memang sudah sifat perempuan ya jika urusan berbelanja pasti membuatnya sumringah.
setengah jam berlalu
__ADS_1
Lala memperhartikan jam tangannya, ini sudah hampir jam pulang kerja tapi tidak ada tanda2 tuan muda, tuan Radit bahkan sekertaris Dimas. Akan meninggalkan ruangannya.
Ditengah kegundahan Lala. Tiba-tiba pintu ruangan utama terbuka dan muncullah sosok tuan mudanya. Berdiri di depan pintu seraya memegang pulpennya.
"sayang..., kamu jadi berbelanja?" tanya tuan Revan pada kekasihnya tanpa merasa canggung. Padahal Radit masih ada diruangannya.
Lala terkejut dengan kemunculan tuan merangkap kekasihnya itu ditambah lagi panggilan yang membuatnya selalu berdebar setiap mendengarnya.
"jadi tuan..." jawab Lala spontan.
"Revan menajamkan pandangannya seolah menunjukan ketidaksukaannya dengan panggilan dari wanitanya.
"jadi bang.." Lala meralat panggilannya.
"sini...." memanggil dengan tangannya meminta kekasihnya mendekat.
Lala bergegas menghampiri kekasihnya walaupun dia bingung kenapa harus.
Disaat Lala sudah berdiri didepannya Revan menyodorkan kartu Debit Platinum pada wanitanya. " pakai ini, maaf abang tidak bisa ikut. Masih ada kerjaan yang harus abang selesaikan " jelas Revan dengan kartu yang masih ditangannya.
Lala mengernyit tanda tidak mengerti toh dia ada uangnya karena memang Lala selalu mempersiapkan uang-uangnya, baik untuk berbelanja bulanan atau untuk hal yang lainnya.
"Lala ada kok bang.." Lala merasa keberatan.
"yang bilang tidak ada siapa sayang?, sudah pakai ini dan simpan uang mu." ucap Revan seraya menyimpan kartu di tangan kekasihnya.
" oh iya, Dimas sudah menyiapkan supir dan sudah menunggu mu dibawah. Untuk pinnya nanti abang chat ya.." sambung Revan sebelum beranjak seraya mengusap kepala kekasihnya.
Lala merasa tidak nyaman dengan semua perhatian yang diberikan kekasihnya namun disaat bersamaan Lala juga merasa tersanjung seolah memiliki sosok yang mengasihi, dan memperhatikannya.
Setelah membaca pesan dari kekasihnya Lala terdiam sejenak menatap ke arah pintu ruangan tuan sekaligus kekasihnya itu.
Lala masih merasa tersentuh dengn semua perhatian yang dia dapatkan walaupun masih ada sedikit rasa takut jika semua perhatian itu hilang disaat dia sudah mulai terbiasa.
📱
" abang Lala berangkat ya, abang titip apa?"
Lala merasa perlu ijin ulang dan bertanya soal apa yang mungkin diinginkan kekasihnya.
📱
" abang titipnya semua keperluan kamu aja. Dan ingat jangan sungkan untuk memakai kartunya."
Bahkan lewat pesan pun Revan mengultimatum kekasihnya. Merasa sangat tahu sikap kekasihnya yang cenderung merasa sungkan.
Lala mencebik setelah menerima balasan pesannya.
📱
"oke, jangan sampai menyesal ya!😉"
Lala menggoda kekasihnya. Sepertinya Lala hanya berani menggoda melalui chat saja.
__ADS_1
Tapi tidak masalah yang penting tersampaikan.
Disaat Lala sampai lobi kantor seseorang memberhentikan langkahnya.
"maaf nona, saya Yanto di minta tuan Dimas untuk mengantar anda hari ini." Sopir bernama Yanto itu menyampaikan maksudnya.
"baik pak..." Lala menjawab seraya mengikuti langkah sang sopir. Ternyata mobil kantor sudah terparkir dengan manis di depan kantor.
Astaga bukankah ini berlebihan. Bagaimana kalau ada yang curiga.
Lala menepuk keningnya tidak habis fikir. Menurutnya kekasihnya sangat berlebihan.
Seharusnya aku meminta abang untuk menyuruh sopirnya nunggu dijalan saja.
Kalau sudah begini kan gawat. Mana ini jam pulang kerja lagi.
Lala terus ngedumel dalam hatinya. Tetap tidak habis fikir, dia seolah menjadi ratu sehari oleh kekasihnya itu.
Dan untuk pertama kalinya uang tidak menjadi masalah buat Lala.
Sesampainya di Supermarket Lala mulai mendorong troli belanjanya. Mengarah ke arah pertepungan, lanjut ke arah perbumbuan, persabunan dan terakhir kearah sayur dan daging.
Disaat Lala hendak menyimpan beberapa siput pilihannya, dia tercengang.
Astaga apa aku kesurupan?. Bagaimana bisa trolinya sudah hampir penuh.
Dan aku rasa kulkas dikos ku tidak akan cukup menampung semua ini.
Rasa bingung menghantui Lala, merasa tidak habis fikir dengan tindakannya. Bagaimana bisa dia tanpa sadar memasuki barang sebanyak ini. Walaupun dia merasa semua barang itu penting tapi ini sudah sangat berlebihan.
Lala bahkan masih berdiri mematung dengan siput yang masih ditangannya. Beruntung siput yang dipilih dalam plastik wrap yang membuat tangannya aman.
Kembalikan aja kali ya?, abang pasti akan menyesal beneran kalau aku belanja sebanyak ini.
Tapi sekali-kali boleh dong. Lagian aku bisa membayar setengahnya dengan uang ku.
Ah aku rasa itu keputusan yang tepat. Masalah nanti aku simpan dimana, aman lah ya...?
Lala terus menenangkan dirinya dengan tindakan yang menurutnya bukan seperti dia yang sebenarnya. Biasanya Lala akan membeli keperluannya sesuai dengan list yang sudah dibuatnya.
Namun hari ini, list yang bahkan susah payah dibuatnya menjelang pulang kerja tadi tidak tersentuh sama sekali.
List itu masih tersimpan rapi didalam tasnya.
"Belum selesai..?" tanya seseorang tepat di telinga Lala. Membuat Lala terjengkit kaget.
Lala yang merasa terkejut, melotot sempurna pada orang yang menurutnya kurang ajar.
Karena berani berbicara seolah berbisik dengan jarak yang menurutnya sangat dekat.
🍀
🍀
__ADS_1
🍀