Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 46 Mencoba Jujur


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Suasana kantor pusat Jaya Group tampak lenggang sore ini. Semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Sekedar mengistirahatkan tubuh sejenak sebelum esok kembali disibukkan dengan berbagai pekerjaan.


Rutinitas yang terbilang membosankan namun sangat di inginkan bahkan sangat diimpikan oleh kebanyakan orang, karena merupakan sebuah keharusan.


Begitu pun dengan Lala.


Lala tampak berdiri sendiri di halte dekat kantor pusat Jaya Group. Terlihat tenang seolah menunggu seseorang.


Setelah mendapat chat dari kekasihnya, Lala memilih menunggu di halte yang sedikit jauh dari gedung kantor, untuk menghindari kemungkinan seseorang melihat interaksinya dengan tuan mudanya. Lala masih takut mengetahui reaksi orang-orang setelah tau mengenai hubungannya dengan tuan muda Jaya Group.


srek srek srek


Gesekan dari sepatu yang dipakai Lala jelas terdengar. Suasana di halte menjelang malam ini tampak sepi. Jika tidak diminta menunggu rasanya malas sekali berdiam diri di halte ini. Permintaan kekasihnya melalui pesan tadi membuat Lala masih setia di halte di jam segini. karena biasanya dia sudah sampai kos dan mulai beristirahat.


Karena menurutnya waktunya terpakai sia-sia. Disaat orang lain sudah beristirahat dengan nyaman berbeda dengannya yang masih duduk termenung.


Tin tin tin


suara klakson mobil terdengar, dan tampaklah wajah yang ditunggu-tunggu.


"ayo..." Revan berteriak dibalik kemudi.


Lala bangkit dan berjalan dengan setengah berlari menghampiri mobil sang kekasih. Seolah takut membuat tuan sekligus kekasihnya menunggunya terlalu lama.


Setelah masuk mobil Lala langsung memakai sabuk pengamannya. Seolah ingin mempercepat proses laju mobil yang sekarang dinaikinya.


"sudah lama menunggu?" Revan memecah keheningan dengan bertanya pada kekasihnya.


"lumayan.." Lala menjawab pendek.


Revan kembali fokus pada jalanan didepannya setelah mendapat jawaban atas pertanyaannya. Dia bingung memulai bicara dari mana. Dia kesal tapi bahkan emosi itu tidak berpengaruh untuk kekasihnya.


"hmm..., apa tidak lebih baik kita berangkat dan pulang masing-masing saja.." Lala berbicara dengan hati-hati.


Revan menatap sekilas kekasihnya " apa aku membuatmu lama menunggu?" Revan menerka kemungkinan penyebabnya.


"bukan begitu, hanya saja saya takut kalau ada orang yang mengenali kita" meyampaikan kekhawatirannya.


"kamu tau?, aku tidak masalah siapa pun mengetahui soal hubungan kita. Hanya saja itu mengenai perasaan ku. Aku memaksa mu memiliki perasaan yang sama dengan ku. Dan aku tidak akan memaksa mu untuk hal yang lain. Jadi, tenanglah akan aku pastikan soal kita hanya kita yang tau" Revan menjawab dengan penjelasan yang membuat Lala terdiam. Karena kesal Revan berbicara tegas pada wanitanya.


Revan menghela nafas sejenak. " bagaimana caranya membuat mu nyaman disaat bersama ku?" Revan bertanya dengan raut serius. Membagi fokusnya antara jalanan dan kekasihnya. Mencoba meredam emosi yang timbul karena kesal.


Lala terdiam sejenak. " aku nyaman, hanya saja_____" Lala menunduk dalam merasa bingung dengan perasaannya.


"aku membuat mu bingung?" Revan mengernyitkan alisnya dan menatap kekasihnya setelah mendengar jawaban ragu darinya.


" tidak tuan, aku___, hanya takut mengenai reaksi orang sekitar kita" Lala akhirnya menjawab sesuai dengan kegundahannya.


"reaksi siapa?, bahkan kau tidak pernah takut dengan reaksi ku" Revan bertanya setelah menepikan mobilnya di bahu jalan yang terbilang sepi.


Lala terkejut disaat tuan sekaligus kekasihnya ini menepikan mobilnya. Lala merasa khawatir apalagi dia dalam kondisi lelah saat ini, sedangkan kekasihnya terlihat sangat kesal dengan jawabannya selama ditanya tadi.

__ADS_1


Lala tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan kekasihnya padanya.


"aku mencintai kamu!. Itu reaksi ku. Apa reaksi orang lain perlu disaat aku mengatakan itu?.


Sama sekali tidak penting bukan?, kita yang menjalani ini semua kenapa reaksi mereka perlu?" Revan mengatur deru nafasnya yang bergejolak karena kesal.


" kamu bisa berbicara dengan orang lain dengan santai tapi tidak dengan ku?. Aku tidak meminta mu bersikap kurang ajar tapi setidaknya perlakuakan aku layaknya kekasih mu. Bukankah dua bulan ini waktu yang kau berikan untukku?. Bagaimana bisa aku meyakinkan mu disaat kamu bahkan tidak membuka perasaan mu sedikit pun. Beri aku waktu artinya berikan aku kesempatan untuk meyakinkan mu. Tapi tentu saja dengan bantuan kamu juga." Revan terdengan sangat kesal dan putus asa. Menunjukan bahwa hanya dia yang menjalaninya


Lala terdia seolah menunggu kesempatannya untuk berbicara. Lala sengaja memilih diam karena menurutnya kekasihnya perlu ruang untuk meluapkan kekesalannya.


" astaga, kita bahkan baru mulai". Revan menghela nafas penjang.


"apa berbicara dengan yang lain lebih membuat mu nyaman jika dibandingkan dengan ku?" Revan menatap Lala dalam. Seolah meyakinkan wanitanya bahwa dia dan perasaannya memang benar adanya.


Setelah tenang Revan melajukan mobilnya kembali dan memilih diam. Dia merasa apapun yang akan dikatakannya tidak penting dan tidak akan merubah apapun.


Mereka tiba di gang masuk ke kos, untuk sejenak suasana masih membisu disaat mobil sudah berhenti sekian menit, mereka masih terdiam dan fokus dengan fikirannya masing-masing.


Lala merasa bersalah tapi dia juga bingung. Dia hanya takut salah dalam bertindak.


" terimaksih. Hati-hati, bawa mobilnya pelan aja.." ucap Lala dan keluar dari mobil kejasihnya. Lala merasa khawatir, tapi hanya itu yang bisa dia katakan.


"Lala ke kos ya!" memberitahu dan seolah memancing reaksi kekasihnya.


"hmmmmm..." jawab Revan pendek. Membuat Lala menghela nafas.


Lala merasa kosong disaat kekasihnya bersikap biasa saja. Padahal ini sikap yang dia harapkan.


Revan menatap Lala masuk ke gang menuju kosnya. Dengan sesekali membalikkan badannya.


Batin Revan, dia sudah mengetahui dengan pasti sikap yang akan di tunjukan wanita ini setelah menetujui tawarannya. Tapi kenapa dia merasa kesal akan itu.


Mungkin dia tidak pernah berfikir kalau bakal sesakit ini.


Revan beranjak dan keluar dari mobil. Mulai mengikuti langkah kekasihnya dengan jarak hampir 2 meteran.


Lala yang merasa di ikuti membalikkan badannya. Dan dia cukup terkejut karena melihat kekasinya berada di belakangnya.


Ditengah keterkejutannya, entah kenapa dia merasa sangat senang. Hatinya berdebar-debar seolah menyadari ada seseorang yang istimewa dihantinya.


Lala memilih berhenti dan menunggu kekasihnya, Lala memutuskan untuk menunggu lagi meski lelah dia merasa senang dan tenang kali ini.


Kekasihnya tetap memperhatikannya dan terlebih dia merasa dilindungi.


Setelah jarak mereka semakin dekat, Lala merentangkan tangan kananya. Seolah meminta untuk di raih. Dan dengan senang hati Revan menyambut tangan itu dan menggenggamnya dengan erat.


"kenapa berhenti?" Revan menatap kekasihnya dengan lembut. Hilang sudah semua kekesalannya sepanjang jalan ini. Disaat melihat kekasihnya berhenti dan memberikan tangannya.


"maaf" Lala berucap dengan membalas tatapan hangat kekasih sekaligus tuan mudanya.


"saya hanya__" Lala ingin mrlanjutkan ucapannya. Namun terpotong karena Revan berhenti dan membalikkan badannya menatapnya.


"bukankah kita sepakat mengganti nama panggilan disaat berdua. Terlebih cara bicaramu aneh dan aku tidak suka" Revan mengucapkan hal yang membuatnya kesal sejak awal.


" saya....,hmmm aku___ belum terbiasa saja" Jawab Lala ragu dengan menundukan kepalanya menatap kearah kakinya yang terus bergerak.


Revan tersenyum dan kembali melanjutkan jalannya dengan tangan yang terus menggandeng kekasihnya.

__ADS_1


"maka biasakan lah." menatap ke arah Lala dengan senyum manisnya. " bahkan sekali pun dikantor tetap panggil seperti biasa biar cepat terbiasa" lanjut Revan.


"dikantor?" Lala mengernyitkan dahinya.


"hmmm.." mengangguk. " selama tau tempat saja. Abang yakin dengan begitu kita akan terbiasa lebih cepat" jelas Revan menyelipkan panggilan yang harus di sebut kekasihnya.


"hmmm" mengangguk mengerti.


"Lala akan belajar membiasakan diri" lanjut Lala pasti.


"A_bang harus sabar ya. Jangan ngambekan. Serem..." Lala menjawab pelan dan tersenyum ke arah Revan yang membalas tak kalah manisnya.


"aneh ya?" tanya Lala yang merasa aneh sendiri dengan panggilannya.


"sedikit..., tapi abang suka" mereka tertawa bersama merasa lucu dengan pembahasan mereka kali ini.


Semua kesal karena perdebatan di jalan pulang tadi seolah lenyap tak berbekas. Karena yang terasa sekarang rasa nyaman dari masing-masingnya.


Tak terasa mereka sampai di depan gerbang kos yang ditinggali Lala. Mereka berhenti serempak dan menatap satu sama lain. Dengan tangan yang masih menggenggam erat.


"terimakasih.." ucap Revan jujur.


"iya, Lala juga terimakasih" balas Lala.


"untuk?" mengernyit heran.


"semuanya" merentangan tangannya selebar mungkin. Yang mengakibatkan genggaman mereka terlepas.


"makasih sudah ngantar Lala, makasih sudah sayang Lala, makasih sudah baik sama Lala. pokoknya makasih semuanya" jelas Lala dengan mengabsen satu-satu hal yang dilakukan tuan sekaligus kekasihnya ini.


Revan tersenyum merasa gemas dengan sikap wanitanya. " abang baru sadar kalau sudah melakukan hal sebanyak itu" goda Revan membuat Lala mengerucutkan bibirnya.


"ahh.. Abang hampir lupa. Mau sengaja atau tidak abang tidak suka kamu bicara sama Radit. Apapun alasannya!" peringat Revan yang mengingat hal awal yang membuatnya kesal pada wanitanya.


Pagi tadi disaat Revan sampai ruangannya. Revan merasa lucu mengingat sikap kekasinya. Dan Revan ingin melihat wanitanya dari CCTV kantor yang terhubung langsung dengan monitor di meja kerjanya . Revan mulai memperhatikan kekasihnya, dimulai dari lobi, Revan yang awalnya merasa lucu dengan sikap wanitanya tiba-tiba saja merasa kesal di saat wanitanya membalas sapaan sepupunya.


Walaupun terlihat jelas kalau wanitanya menjaga jarak dan menjawab seadanya. Tetap saja dia merasa kesal.


Lala mengernyitkan dahi mendengar ucapan kekasihnya. " abang tau dari mana kalau Lala bicara sama pak Radit?" tanya Lala penasaran.


"lupakan" Revan mengibaskan tangannya tidak ingin melanjutkan pembahasan soal Radit.


"pokoknya harus diingat, oke!" Revan mengulang ultimatumnya


"iya..." Lala menjawab meski masih bingung.


" masuk sana, langsung istirahat!" lagi-lagi membuat aturan baru.


"iya,...." Lala masuk gerbang dan terus berjalan ke arah kamar kosnya.


menaiki tangga dan membuka pintu kamar kosnya, sebelum masuk kos Lala melambaikan tangannya pada kekasihnya. Seolah memberitahu kalau kekasihnya bisa pergi disaat dia masuk kamar kos.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2