Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 15


__ADS_3

" keterlaluan" ucap Riva seraya melempar tasnya ke sofa.


Revan mengernyitkan keningnya, " ada masalah" tanya Revan.


"maaf tuan, saya...." belum selesai Lala bicara Revan memotong ucapannya.


" kau boleh kembali ke meja mu" ucap Revan.


"baik Tuan " seraya menundukan pandangan, Lala bergegas keluar ruangan.


setelah tinggal mereka berdua, suasana berubah sepi, hanya terdengar hembusan nafas kasar dari Riva yang masih tidak mengerti dengan aturan di kantor ini.


"apa kamu tidak meminta karyawan mu untuk mengenal anggota keluarga mu?" tanya Riva kesal.


"untuk apa.." jawab Revan pendek.


"untuk apa?, kau gila... bagaimana kalau ayah atau mama yang datang, apa mereka akan diperlakukan sama seperti ku" sambung Riva.


Revan menatap tajam kakaknya,"kenapa mempermasalah hal sepele seperti ini, dan kalau kakak mau diperlakukan beda kenapa tidak langsung bilang siapa kakak..., Revan yakin mereka langsung menurut."jelas Revan.


"terlebih mereka tidak bersikap kurang ajar, hanya berkerja sesuai dengan aturan yang ada". sambung Revan kembali.


"jadi karena dia...." terka Riva tanpa perduli penjelasan panjang adiknya.


"maksudnya.." tidak mengerti.


"huh, alasan kau mempertahankan jabatan mu"


"hah...., semakin ngaco saja"

__ADS_1


"aku serius..., kau bahkan meninggikan suara mu pada ayah karena staf itu" lanjutnya.


"kau gila....," membuang nafas kasar. " sekarang katakan apa tujuan kak Riva datang menemui ku" lanjutnya.


" aku harus memastikan sesuatu" tiba-tiba riva maju dan menekan interkom yang tersambung pada staf.


"iya tuan, ada yang bisa di bantu" jawab suara dari meja staf.


"siap kan minum dan apapun, suruh staf yang mengantar saya untuk membawanya keruangan CEO, sekarang.....!" setelah selesai Riva bahkan memutus sambungan tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.


Revan yang menyaksikan sikap kakaknya memilih diam, dan menunggu tindakan selanjutnya.


pintu ruangan terbuka, muncul Lala membawa pesanan seperti yang biasa dia bawa.


Riva memperhatikan Lala dari atas sampai ujung kaki, mencari alasan apa yang membuat adiknya tertarik pada staf ini.


Lala menyimpan minuman dan lainnya di atas meja, yang tepat berada di depan Riva yang duduk dengan anggun di sofa.


" nama mu siapa" tanya Riva pada staf di depannya.


"Lalisa nona"


"jika orangtua kami datang, apa kau akan memperlakukannya sama seperti kau memperlakukan ku sebelumnya?" ucap Riva tegas dengan tatapan tidak lepas dari Lala.


"maaf nona"


"hanya itu yang bisa kau ucapkan, menyebalkan sekali...!"


Revan beranjak dan duduk di sofa tunggal dekat dengan kakaknya

__ADS_1


"kenapa mempermasalah hal ini lagi.., disaat ayah atau mama datang, mereka selalu mengabari ku jadi seluruh staf akan tau" jelas Revan lagi.


"sebenarnya kakak ada apa datang kemari?" mengalihkan pembicaraan.


"keluarlah, saya akan memanggil jika perlu sesuatu..." sambung Revan kepada stafnya.


Lala yang diperintahkan memilih segera keluar ruangan, mencari aman dari kemungkinan amukan dari nona mudanya.


entahlah, Lala berfikir apapun yang akan dikatakannya selalu salah dan menyinggung. karena itu Lala lebih baik menurut untuk keluar.


setelah Lala keluar, hening menyelimuti kakak beradik ini, Riva mulai menikmati suguhan staf istimewa adiknya.


"hah.... lucu sekali" seraya tertawa yang tertahan.


Revan merasa rehan dengan perubahan sikap kakaknya "kenapa...? tanya Revan melihat kakaknya mencoba tertawa namun ditahan.


"kau lucu sekali...., tapi aku akui dia memang mempunyai pesona tersendiri. dan kau cukup jeli untuk melihatnya" ucap Riva dengan tawa tak tertahan melihat reaksi adiknya.


tok tok tok


Mereka serentak melihat ke arah pintu yang diketuk.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2