
Ruangan utama tampak sunyi walau di isi oleh beberapa orang.
setelah pemeriksaan yang dilakukan dokter dari klinik kantor, Lala bisa bernafas lega karena sakit pada kakinya berkurang.
meski sakit di kakinya berkurang, perasaan Lala masih gundah karena semenjak pemeriksaan sampai pada dokter kembali ke tempat prakteknya tuan muda Revan masih diam membisu.
entah apa yang sedang difikirnya, tapi yang jelas kondisi ini sangat terasa canggung.
ingin keluar dan kembali kerja, tapi Lala takut untuk sekedar meminta ijin.
"maaf tuan, apa saya___" semua hal yang ingin diucapkan Lala terhenti setelah mendengar suara emas tuannya yang semenjak tadi diam.
"diamlah....." ucap Revan tegas namun terselip kekhawatiran.
disaat keadaan kembali sunyi pintu kembali dibuka dan tampaklah sekertaris Dimas dan beberapa pekerja kantin masuk dengan beberapa barang bawaan.
pekerja kantin mulai mempersiapkan makan siang dimeja tepat didepan tuan mudanya.
setelah semua siap, Revan meminta para pekerja meninggalkan ruangan dengan tak melupakan ucapan terimakasihnya.
"kau juga boleh keluar Dim!, akan saya panggil jika perlu sesuatu..." ucap Revan terdengar sangat formal ditelinga Dimas.
Dimas yang mengerti maksud tuan sekaligus sahabatnya memilih keluar dan mencari makan siangnya sendiri.
bahkan karena emosi sahabatnya berubah membuat Dimas menempatkan diri sebagai sekertaris yang sesungguhnya kali ini.
Lala masih Diam dan tidak berani memulai makan siangnya. meski ini bukan yang pertama kali untuk mereka makan bersama tapi tetap saja situasi ini membuat Lala grogi.
satu ruangan dengan orang nomor satu di perusahaan tempatnya bekerja membuat Lala waspada.
"makam lah, setelah ini minum obatnya..!" suara Revan membuyarkan semua fikiran yang melintas di kepalanya.
"baik tuan" jawab Lala seolah mencari aman
toh, Lala juga sudah lapar sekali, bahkan sebentar lagi jam makan siang akan berakhir. karena itu Lala harus cepat menghabiskan makan siangnya. dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"pelan-pelan, coba juga yang lain.." ucap Revan yang memperhatikan stafnya yang jelas terlihat gugup.
__ADS_1
selang beberapa menit, mereka sudah selesai dengan makan siangnya. dan Revan sudah meminta OB untuk membereskan bekas makan mereka berdua.
karena melihat acara makan sudah selesai Lala berniat untuk kembali bekerja. tapi yang menjadi masalah bukan kegiatan makannya melainkan mimik wajah tuannya yang belum berubah semenjak tadi dia masuk keruangan ini.
"minum obatnya!" perintah Revan dengan menyodorkan gelas berisi air putih ke stafnya.
Lala segera meraih gelas dan meminum obat pereda nyerinya. entah kenapa hal ini penting padahal dokter bilang kalau dia baik-baik saja.
hanya terkilir biasa, tapi tidak ada salahnya bukan? mengikuti apa kata tuannya.
Lala kembali diam disaat sudah selesai meminum obatnya. melihat hal itu Revan segera berpindah duduk dan meminta Lala untuk mengangkat kakinya.
"kaki mu sini!" ucap Revan yang terdengar ambigu.
"maksud____" ucapan Lala terhenti dengan gerakan cepat tuan Revan yang mengangkat Kaki Lala dan menaruhnya di atas bantal sofa yang tadi di simpannya di pahanya.
"astaga Tuan..." ucap Lala spontan merasa tidak nyaman dengan sikap tuannya.
"Diamlahh!" ucap Revan dengan menatap stafnya sekilas dan kembali fokus pada lebam di pergelangan kaki stafnya.
"tuan saya bisa sendiri...." ucap Lala lirih. karena merasa tidak nyaman ditambah dia memakai rok slimfit yang panjangnya tepat dibawah lutut.
meski masih aman tapi Lala merasa tidak nyaman. ini terlalu kurang ajar untuk dia yang hanya seorang staf.
mendengar penolakan stafnya, Revan menatap Lala dengan intens.
"apa kamu selalu seceroboh ini?, hanya karna ini tidak berbahaya untuk nyawamu bukan berarti kamu menanggapi biasa saja bukan?" kekesalan tuan Revan belum sepenuhnya surut.
"maaf tuan.." Lala memilih meminta maaf meski tidak yakin ini salah dia atau bukan?.
Revan mengernyit" kenapa minta maaf, ini tubuhmu. tapi kalau bisa berhati-hatilah" sambungnya.
masih dengan tangan yang berada di kaki stafnya Revan kembali menatap Lala.
"saya masih menunggu jawaban kamu soal yang kemarin".
"hm......sa__ya" Lala tampak ragu.
__ADS_1
"lupakan" potong Revan "kau bisa memikirkannya lagi. anggap saja saya memberi tambahan waktu untuk mu" jelas Revan . karena jujur Revan belum siap menerima penolakan atas jawaban stafnya.
"maaf tuan.." ucap Lala lirih, merasa tidak nyaman.
"kenapa meminta maaf?, apa kau berencana untuk menolak saya" ucap Revan yang terdengar kesal dengan fikirannya sendiri.
"hmmm...sa__ya.." ucap Lala ragu.
"fikirkan dengan baik. dan saya akan memberi banyak waktu saya, supaya kau bisa memberi jawaban yang saya inginkan" jawab Revan dengan pandangan lurus ke stafnya.
"kenapa harus saya?.." tanya Lala hati-hati dengan pandangan menunduk kebawah.
Revan mengernyitkan dahi. " dari mana saya tahu!, ini masalah hati dan..., sialnya hati ini memilih kamu" jawab Revan asal, seraya memindahkan kaki stafnya dari pangkuannya.
"maaf tuan" ucap Lala kembali. " maaf kalau orangnya harus saya, karena itu bisakah tuan memikirkannya lagi?" sambung Lala hati-hati.
"apa yang harus aku fikirkan ulang?. perasaan ku baik-baik saja. hah.....kenapa pembahasan ini terdengar sangat menyebalkan" ucanya.
Lala memilih diam karena dia khawatir ucapannya tadi membuat tuan mudanya tersinggung.
"kembali ke meja kerjamu sekarang" ucap Revan sambil berjalan ke arah meja kerjanya.
Lala yang mendengar perintah tuannya, memilih segera bangun dan hendak kembali ke meja kerjanya.
Lala berjalan dengan sedikit tertatih, setidaknya tidak semenyakitkan tadi sebelum dia masuk keruangan ini.
"lain kali hati-hatilah. dan saya akan memikirkan ulang, seperti katamu" ucapan Revan membuat Lala berhenti.
Lala merasa bersalah. tapi bila dilanjutkan akan lebih salah lagi bukan?. dan sepertinya dia membuat tuan mudanya tersinggung.
Lala hanya tidak ingin berangan terlalu tinggi mengenai perasaannya. karena menjalani hidup seperti sekarang ini membuat Lala sudah sangat merasa cukup. dia tidak perlu menanggukan hidupnya pada orang lain. dan dia tidak ingin mendapat masalah mengenai hal ini, terlebih soal perasaan.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1