
🍀
🍀
🍀
Pagi hari di ruangan yang terletak dilantai utama gedung Jaya Group, Lala terlihat sibuk membuka pekerjaannya.
Benar adanya pekerjaan yang semalam dia akan kerjakan, tidak terlihat diatas mejanya.
Hanya beberapa email baru masuk yang harus mulai dia kerjakan.
"mungkin mama benar. Kalau pekerjaan ku diambil alih pak Dimas. Huh leganya" Lala berucap sambil mengelus dada.
Lala mulai membuka email pertama yang masuk. Dan disaat tengah fokus ke layar monitor didepannya Lala dikejutkan oleh dentingan suara lift yang terbuka.
Ting
Lala mengalihkan atensinya, dan langsung berdiri untuk menyambut tuan muda dan sekertarisnya.
Aku harus bersikap bagaimana sekarang?. rasanya canggung sekali.
Tapi lupakan La. Mungkin yang kemarin tidak berarti apa-apa untuk tuan muda.
"pagi tuan, pak...!" menyapa dengan halus sama setiap harinya. Dengan pandangan sedikit tertunduk.
"pagi.." Dimas menjawab sedang Revan hanya menatap sekilas saja. Dan langsung masuk keruangannya. Dan Dimas berhenti tepat didepan meja Lala.
"email sudah ada yang masuk?" bertanya mengenai pekerjaan yang akan dikerjakan Lala hari ini.
"sudah pak. baru saja saya buka.." menjelaskan langsung, toh memang benar adanya
"oke susun semua jadwal tuan Revan dan setelah siap konfirmasikan segera. " titah Dimas seraya berjalan kearah ruangannya.
"oh iya, sebelum itu siapkan cemilan dan teh seperti biasanya untuk tuan muda...!, ingat tehnya jangan terlalu panas" Dimas mengingatkan. Karena merasa khawatir apakah Lala masih mengingat kebiasaan Revan atau tidak.
Harap maklum sajalah.
"baik pak" jawab Lala dan bergegas pergi kearah pantry untuk menyiapkan cemilan tuan mudanya.
__ADS_1
"Semua sudah siap. Huh, jangan khawatir hanya mengantar saja. Kalau masalah hubungan kami nanti terserah abang saja. Ah maksud ku tuan Revan saja" berbicara sendiri. Berharap ucapannya dapat menghibur dan mengurangi kegelisahannya.
Untungnya tidak ada drama disaat Lala mengantar pesanan tuan mudanya. Tuan Revan hanya memintanya menyimpan nampan yang dibawanya ke meja kerjanya saja supaya mudah dijangkau.
Tidak ada kecanggungan seperti yang ditakuti Lala. Atau mungkin tuan Revan memang menganggap apa yang terjadi kemarim memang hanya berupa angin lalu.
"Huh...kenapa aku kecewa. Apa karena dia kembali ke mode awalnya atau karena dia bersikap biasa saja setelah kejadian kemarin" Lala bergumam pelan, bahkan sangat pelan. Seolah gumamannya memang khusus dia kumandangkan hanya untuk dia sendiri.
Lala memilih melupakan rasa kecewanya. Dia harus mulai bekerja. terlebih sekertaris Dimas juga pasti sudah menunggu jadwal tuan Revan hari ini.
"semangat La.." ucapnya sambil mengepalkan tangannya kuat. Seolah menyalurkan energinya untuk bekerja.
Lala sudah bolak balik keluar masuk ruangan sekertaris Dimas. Hanya karena sekertaris Dimas merasa beberapa jadwal dan dokumen yang dicek Lala masih ada kesalahan. Padahal tanpa dipanggil keruangan pun Sekertaris Dimas bisa menghubunginya via chat atau email. Tapi entahlah sepertinya seketarisnya Dimas memang sengaja mengerjainya.
"Hah___ aku fikir bakal dikerjain bosnya, taunya malah sekertarisnya" Kesal Lala seraya menghemaskan bokongnya ke kursi kerjanya. Beruntung lah kursi itu bukan kursi murahan seperti kursi anak SD yang semuanya kayu.
Kalau seandainya kursinya semua kayu tanpa ada pelindung busanya. Lala pasti teriak mengaduh karena hempasannya tadi.
"siapa yang mengerjai..?" terdengar suara tepat ditelinganya. Membuat Lala terkejut luar biasanya
bahkan dia hampir terjungkal karena kecerobohannya.
Lala terkejut karena masih merilexkan badannya karena lelah mondar-mandir keruangan sekertaris Dimas. Meskipun ruangan sekertaris dimas tidak jauh dari meja kerjanya tapi tetap saja kalau dilakukan lebih dari 3 kali akan terasa melelahkan.
Revan yang keluar ruangan karena ingin ke Dimas malah teralihkan disaat melihat wanitanya ( benar bukan?) menghela nafas kasar dengan gumamannya. Entah apa yang dia lakukan tapi jika diperhatikan secara kasat mata, Lala terlihat sedang bermalas-malasan. Meskipun waktu istirahat sebentar lagi tiba.
Karena merasa gemas dan mendengar sedikit gumaman wanitanya, Revan memilih untuk mengejutkannya. Tapi keterkejutan yang ditunjukan Lala terlalu berlebihan. Sama sekali tidak terfikirkan oleh Revan.
Meski merasa kasihan melihat wanitanya yang terkejut sampai terjungkal dari kursinya Revan memilih tetap bersikap dingin dan santai.
"tidak tuan maaf..." ucap Lala segera setelah berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Jangan lupakan tangannya yang terjalin kuat satu dengan yang lainnya.
Rasa malu yang harusnya dikhawatir Lala menguap karena rasa takut yang lebih dominan.
Melihat sikap wanitanya Revan hampir tertawa namun yang keluar hanya senyum samar yang jelas tidak terlihat oleh wanitanya yang masih setia dengan sikap tertunduknya.
"ayo..." ajak Revan sambil mengulurkan tangannya. Lala yang melihat tangan terulur mencoba mengalihkan pandangannya.
Dengan hati-hati dia merubah pandangannya mulai dari tangan yang terulur sampai pada sang pemilik tangan.
__ADS_1
Lala masih diam, merasa ragu untuk meraih tangan itu. Dia takut kalau ini hanya sekedar angannya.
"tidak mau...?" bertanya karena Lala hanya memperhatikannya dalam diam.
"kalau tidak mau ya sudah.." Revan menarik tangannya dan bersiap akan pergi dari hadapan staf istimewanya.
Namun sebelum Revan melangkah, langkahnya terhenti disaat mendengar suara yang sangat dirindukannya.
" Abang..." Panggil Lala ragu. Takut sikapnya melewati batas tapi Lala harus melakukan ini untuk memastikannya bukan.
Revan kembali menghadap wanitanya, jual mahal bukan solusinya sekarang. Dia sudah merasakan akibat dari sikapnya yang begitu.
Rasa menyesal, marah, dan rindu ia rasakan dan itu cukup membuatnya tersiksa.
Dan yakinlah bukan hanya Revan yang merasakan itu. Lala juga merasakan hal yang sama. Merasa menyesal dengan sikap jual mahal yang dilakukan. Lala menyebutnya jual mahal apalagi setelah dia sadar kalau dia mulai menyukai tuan mudanya.
Meski logikanya menolak tapi hatinya terus mengatakan bahwa dia merasa nyaman. Dan hal itu yang dia perlukan.
" ayo..." mengulurkan tangannya kembali. Dan tanpa berfikir lagi Lala meraihnya. Membuat senyum mereka merekah seketika.
Dimas yang melihat sahabat dan stafnya berjalan ke arah lift dengan tangan saling tertaut mendengus kesal.
" tau begitu, dari awal aku sudah minta bibi datang kesini." Dimas kembali keruangannya dan berniat memesan makan siang untuknya sendiri. Karena sepertinya dia akan kembali sibuk hari ini.
Dan dapat Dimas pastikan sahabatnya akan pergi lumayan lama. Jadi dia tidak perlu menyediakan makan siang untuknya.
Kembali kasmaran...
Menyebalkan dan....melegakan
Dimas membatin. Merasa lucu dengan tingkah mereka.
"Huh....., ayo kita bekeja keras Dim. Lupakan mereka yang tengah berbahagia" ucap Dimas menyemangati dirinya.
Sementara Revan dan Lala masih menikmati tautan tangan mereka. Seolah rasa rindu akan memudar melalui tautan yang mereka lakukan.
disaat lift terbuka Lala menarik tautan tangannya, dan menatap kearah depannya. Sedang Revan terkejut dengan tindakan wanitanya. Terlebih Lala tidak mengatakan apapun dengan pandangan lurus kedepan.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀