
🍀
🍀
🍀
"hari ini menunya apa sayang .?" Revan bertanya dengan pandangan tidak terlepas dari wanitanya. dan jangan lupakan tangannya yang merangkul tangan kiri wanitanya.
menjelang makan siang, Lala masuk ruangan tuan yang merangkap kekasihnya itu. jadwalnya bertambah karena sang kekasih meminta menyiapkan makan siang untuk mereka berdua setiap harinya.
"menu sederhana seperti biasanya, ada ayam masak kecap dengan capcay sayur dan juga buah seger seperti biasanya" jawab Lala mengabsen barang bawaannya.
"maaf ya, makanannya biasa terus. aku bisanya cuma masak yang kaya ginian" merasa menyesal karena makanan yang disiapkannya sangat berbeda dengan makanan yang biasanya dimakan kekasihnya.
Revan tersenyum manis seolah mengatakan tidak masalah karena aku menyukai semua yang kamu buat. tapi Lala mana mengerti dengan apa yang difikirkan kekasihnya.
namun melihat senyum manis kekasihnya membuatnya tenang. Dan syukurnya kekasihnya menyukai makanan buatannya.
"ini enak.." sambil menunjukan potongan kecil ayam masak kecap yang akan di ambilnya setelah melepas rangkulannya.
" sepertinya aku harus belajar memasak makanan sehat mulai sekarang.." gumam Lala pelan. karena jujur Lala merasa kekasihnya terlalu berusaha untuk mengikuti gaya hidupnya yang apa adanya.
"enggak usah dipaksa sayang. aku bisa makan apapun buatan mu dan lagian abang akan makan seperti biasanya di rumah. ini juga!," menunjuk capcay sayur" kurang sehat apa lagi coba?, sayurnya bahkan terlihat masih hidup begini" ucapnya sambil mengangkat wadah sayur capcay yang dibuat kekasihnya.
Melihat itu Lala tertawa lepas yang kemudian diikuti Revan.
"lihat daun ini bahkan masih bisa berfotosintesis" ucap Revan menunjuk salah satu daun yang terlihat hijau itu.
Lala tertawa terbahak merasa lucu dengan ucapan kekasihnya yang sebenarnya ditunjukkan untuk menghiburnya.
Revan tersenyum dan mulai menikmati makanan didepannya.
"A...." pintanya
"Lala bisa sendiri" jawab Lala cepat seraya mengambil makanan dengan sendok yang dipegangnya.
"A....." tidak menyerah
__ADS_1
Lala mendelik namun tetap membuka mulutnya. " enak enggak?"
"iyalah...., kan Lala yang masak" jawabnya percaya diri, membuat Revan gemas.
Revan tersenyum mendengar jawaban wanitanya yang entah kenapa terlihat menggemaskan.
"Van.." pintu didorong dengan cepat. Dan Dimas membeku ditempatnya berdiri.
sial, bagaimana bisa aku lupa kemungkinan ini.
Babatinnya dengan ekspresi wajah mendelik tidak suka dan tidak enak secara bersamaan
Revan yang melihat sahabat merangkap sekertarisnya itu datang tanpa bertanya sempat mengerutkan dahi. tapi melihat keterkejutan sahabatnya, Revan menormalkan raut wajahnya.
"kenapa..." ucapnya dengan tangan menyerahkan sendok kewanitanya seolah meminta untuk disuapkan. beruntung Lala paham maksud kekasihnya.
Lala yang menerima sendok melanjutkan menyuapkan kekasihnya. sepertinya dia mulai paham gestur kekasihnya disaat ingin pamer.
Revan membuka mulutnya bersiap untuk menerima suapan dari wanitanya, meski dia penasaran dengan Dimas. sepertinya dia tidak akan menyia-nyiakan perhatian wanitanya.
"soal pak Burhan. kebetulan Beliau ingin mempercepat waktu bertemunya. dan Beliau mau anda sendiri yang menemuinya langsung" jelas Dimas.
"sepertinya Beliau akan segera kembali ke kota nya tuan" memberitahu
"cih..., merepotkan" kesal.
"memangnya kapan dia minta bertemu?" sambungnya. meski kesal Revan harus tetap profesional bukan. terkadang, dia juga melakukan hal yang sama dan itu terbilang lumrah.
"setengah jam lagi Beliau sampai sini tuan" jawab Dimas gemas. gemas karena dia sadar kalau mereka tidak punya banyak waktu untuk bersiap dan sialnya mereka masih terus membuang waktu dengan ocehan tidak bermutu ini.
"apa....!!, loe gila..!" Geram Revan langsung berdiri dari duduknya.
"maaf tuan, saya tidak bisa menolak karena posisi Beliau sudah ada di Jakarta" jawab Dimas membela diri.
" karena itu saya menyiapkan materinya tuan" mengangkat map yang dibawanya. seolah menunjukkan kalau kamu cukup pelajari ini saja.
Lala yang menyimak pun ikut terkejut. dengan spontan Lala juga berdiri dari duduknya " kalau gitu saya akan siapkan ruang meeting nya" Lala berinisiatif. toh ini memang tugasnya bukan.
__ADS_1
Revan mengalihkan pandangannya ke wanitanya. meski berat dia menganggukan kepalanya tanda setuju.
melihat itu Lala langsung beranjak keluar ruangan tanpa bertanya lagi. karena bukan hanya tuannya yang dikejar waktu melainkan dia juga.
Revan menatap kepergian wanitanya dengan perasaan khawatir.
" udah tampangnya biasa aja, suap-suapannya bisa loe lanjut nanti. sekarang pelajari berkas ini dulu.." jelas Dimas setelah kembali ke mode santai sambil duduk di Sofa tempat Lala duduk tadi.
Revan mendelik tajam. tapi dia memang tidak punya pilihan lain. dia harus menyelesaikan pekerjaannya sekarang.
"Dia makan sedikit tadi.." ucapnya sendu seraya duduk kembali. dan mulai membuka map yang dibawa sahabatnya.
"makanya gantian!" sanggah Dimas.
" ayo pelajari, entar pas kelar kalian lanjut deh sampai puas. atau loe bisa minta dia makan disaat kita meeting nanti" menyarankan.
Revan mengangguk menyetujui dan kembali tersenyum, sepertinya dia benar menerima ide sahabatnya.
"baiklah, kamu pastikan dia melanjutkan makan siangnya nanti" pintanya.
"iyaaaaa.." jawab Dimas sambil memakan makanan didepannya. Revan mendelik tajam.
"ngapain loe makan?" merebut wadah ayam masak kecap yang tengah di makan Dimas.
"elah..., sisa ini. lagian enggak mungkin kalian, loe atau Lisa makan ini lagi. kasian dia mending suruh makan di kantin yang lebih sehat" ucapnya santai dan kembali mengambil wadah yang tadi diambil Revan.
"sekali-kali bawa makan di luar ke anak orang. jangan suruh dia masak terus. capek tahu" ucapnya telak. dan hal itu cukup menyentil perasaaan Revan. membuatnya berhenti membaca berkas ditangannya dan menatap kearah sahabatnya.
"kayanya loe benar deh..."
"memang 💯% benar. situ kemana aja pak?" goda Dimas.
Revan mendelik namun tidak menyanggah. karena apa yang dikatakan sahabatnya memang benar adanya.
🍀
🍀
__ADS_1
🍀