
🍀
🍀
🍀
"Siapa?" Riva bertanya langsung pada Dimas.
"Nona bisa tanya tuan muda langsung" Dimas memilih aman.
"Baiklah, terserah siapa orangnya yang pasti, kamu harus bawa dia kerumah" Riva memberitahu sekaligus menantang adiknya.
"belum bisa kak, kami belum sampai pada tahap itu" ucap Revan pelan.
"tidak masalah yang pasti, kami harus mengenalnya. Paling tidak kenalkan dia pada mama!" mereka memang selalu terbuka mengenai pasangannya.
Apalagi dengan orangtua. Mereka selalu diajarkan untuk saling menghargai pasangan masing-masing.
Bahkan mereka menerima semua masukan yang diberikan orangtuanya terkait pasangan mereka.
Sama halnya dengan mantan mereka yang terdahulu.
"Iya" Revan menjawab lemah
"kenapa?, kau berniat main-main?" Riva memastikan, karena dilihat dari sikap lemah adiknya.
"bukan begitu. Dia hanya belum yakin saja. Dia juga memerlukan alasan apa aku menyukainya. Apalagi melihat aku ini siapa. intinya dia belum yakin" Jelas Revan.
Riva mengernyit termasuk juga Dimas yang baru mendengar cerita versi Revan.
"apa memang serumit itu?" kali ini Dimas ikut bertanya. Dan memilih duduk di sofa samping nonanya.
Ikut mendengarkan cerita versi tuan mudanya.
"Hah...." Revan menghembuskan nafasnya.
"kan __kan__ kan.....,setiap ditanya pasti selalu begini. Makanya cerita. Siapa tau bisa di bantu!" Kesal Dimas melihat tuan sekaligus sahabatnya bersikap lemah seperti ini.
"Kalau gitu cari yang lain" saran Riva.
Dimas mengalihkan pandangannya pada nonanya " tidak sesederhana itu, kalau cowok sudah bilang suka itu artinya suka beneran. Akan sulit mengalihkan atau mencari yang lain" Dimas menjawab perkataan nonanya.
Entah kenapa Dimas merasa perlu untuk menjawab pertanyaan nonanya.
mungkin karena itu juga yang dirasakannya.
Revan memperhatikan Dimas, dan entah kenapa dia ingin tertawa terbahak-bahak. Rasanya lucu sekali dan dia seolah baru sadar kalau masalah asmara mereka hampir sama.
"Curhat pak" Revan menggoda Dimas.
Dimas yang digoda mengernyitkan keningnya begitu pula Riva.
"apa kamu juga menjalani hubungan rumit kaya gitu?" bertanya langsung pada Dimas.
__ADS_1
"saya nona?" merasa bingung, karena topik pembahasan berbalik menyerangnya.
"tidak nona" Dimas menjawab cepat.
"Kalian ini aneh sekali, aku bahkan sempat curiga kalau kalian serong". Riva menyampaikan kecurigaannya.
"astaga, memangnya kakak fikir kami ini apa. Ishhh...., kami hanya terlalu sibuk saja" Revan membela diri sedangkan Dimas tidak habis fikir kenapa nonanya bisa berfikir sampai sana.
"iya, siapa tau kan?" Riva mengendikkan bahu.
"apa kami terlihat aneh?. Ah atau apa saya terlihat menjijikan atau mungkin menggelikan" Dimas sepertinya menganggap serius pertanyaan nonanya.
Mungkin saja dia merasa tersinggung. Bagaimana mungkin perasaan yang dia pendam selama ini, tidak sama sekali di rasa oleh nonanya. Namun hal mustahil itu malah yang masuk dalam fikirannya atau terfikirkan oleh nonanya.
Revan memperhatikan perubahan wajah sahabatnya. " maksudnya bukan gitu Dim___" Revan akan menjelaskan namun terpotong dengan pergerakan Dimas.
Revan tau kalau kakaknya hanya bercanda. Tapi mungkin candaannya terbilang kelewatan sampai membuat sahabatnya ini tersinggung.
Dimas berdiri" aku kembali keruangan, kalau ada masalah langsung hubungi saja" Dimas memotong apapun yang akan diucapkan tuan sekaligus sahabatnya.
"saya permisi tuan, nona" dengan sedikit membungkukkan badan.
Riva tidak sadar kalau ucapannya menyinggung sekertaris adiknya. Dia hanya mengernyit melihat perubahan sikap Dimas yang kembali formal.
"Dia kenapa?" memilih bertanya pada adiknya setelah Dimas keluar dari ruangan.
"menurut kakak kenapa?" balik bertanya.
"dia terlihat labil. Sikapnya gampang sekali berubah-ubah" Riva menjawab.
Riva menatap tajam adiknya " kenapa tanya kakak, aneh sekali kamu ini. Oh ya masalah wanita mu jangan lupa kenalkan dengan kami" karena tidak mengerti akhirnya Riva memilih kembali ke fokus awal.
"astaga..." Revan menepuk keningnya.
"aku akan bawa kalau sudah waktunya. Jadi, kakak tenang dan tunggu saja" jawab Revan meyakinkan. Terpancing pembahasan akhir kakaknya dan melupakan kegamangan sahabatnya.
"iya, tapi ingat jangan terlalu lama. Kamu tau bukan kalau mama dan ayah sudah tidak sabar menimang cucu!" ucap Riva mengingatkan.
Revan mendelik" kenapa jadi semua dibebankan sama Revan sih?. Seharusnya kakak duluan dong" Revan membela diri. Dan berfikir kalau kakaknya lah yang harus lebih memikirkan soal keinginan orangtuannya.
"ishhhh..., tetap saja mama dan ayah menginginkan cucu pertama dari anak lelakinya." bantah Riva kembali
"jangan bilang kakak gagal move on?" Revan menerka. Bagaimana tidak semenjak putusnya hubungan kakaknya dengan kekasihnya dulu, kakaknya tidak pernah terlihat dekat dengan orang lain.
Jadi wajar bukan, kalau Revan berfikir kalau kakaknya sebenarnya gagal move on.
"sembarangan!" Riva terlihat kesal. Entah kenapa dia merasa sangat muak bila di ingatkan dengan mantannya itu.
"bukannya gagal move on, kakak hanya ingin yang benar-benar baik kali ini. Kakak tidak ingin hal seperti kemarin terulang kembali" Riva menyampaikan unek-uneknya. Sekalian menyanggah semua tuduhan adiknya.
"hah...., padahal yang jelas baik sudah ada". Gumam Revan pelan, sambil menutup wajahnya dengan satu punggung tangannya.
"apanya yang ada?" bertanya karena mendengar samar gumaman adiknya.
__ADS_1
"lupakan" mengibaskan tangannya dan beranjak dari duduknya.
"kakak pulang dan ingat tetap waspada" Riva berjalan ke arah pintu setelah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.
Disaat akan membuka pintu keluar, Riva membalikkan tubuhnya" jangan lupa bawa kekasihmu!" lagi-lagi mengingatkan soal pembahasan terakhir.
"hah.....".melihat kakaknya sudah meninggalkan rungan kerjanya. Revan menghela nafas kasar dan memilih kembali kemeja kerjanya.
Bukannya melanjutkan kerja, Revan termenung seolah tengah berfikir keras.
Apa harus aku kenalkan?, tapi kami masih tahap percobaan. Dan lagi aku enggak yakin Lisa mau di ajak bertemu mama.
Bukankah itu tanda keseriusan. Tapi tidakkah terlalu mendadak?.
Revan terus membatinkan pertanyaan-pertanyaan yang menguatkan alasannya untuk memperkenalkan Lisa pada keluarganya.
Ditengah kegalauan Revan menekan interkom yang berada di meja kerjanya.
"keruangan saya sekarang!" Memerintah seperti biasanya.
Setelah mendapatkan perintah Lala segera masuk kerungan tuan sekaligus kekasihnya itu.
Tuan Revan masih diam dan fokus pada monitor didepannya. Tanpa menggubris orang yang dengan sengaja di panggilnya.
"ada yang bisa saya bantu tuan?" Lala akhirnya memilih bertanya karena merasa lelah menunggu dan kakinya agak kebas karena berdiri terlalu lama.
Revan mengalihkan pandangannya dan mulai memindai staf di depannya. Revan masih diam dan tengah berfikir keras. mengenai keputusannya untuk mengenalkan Lala atau tidak.
"pekerjan mu sudah selesai?" memilih bertanya hal yang lain.
"tinggal beberapa dokumen yang harus saya periksa tuan" Lala menjawab pasti.
"kalau gitu kembali ke meja kerja mu. Dan kalau sudah selesai datang lagi kemari" Ucap Revan santai menatap langsung staf sekaligus kekasihnya ini.
"ada yang ingin aku katakan" Revan melanjutkan.
"baik tuan" jawab Lala dengan sedikit membungkukkan badannya.
"hah....., padahal aku bersikap santai padamu" Revan berucap lirih. dia ingin marah tapi tidak bisa.
Entah memang dia jatuh cinta seperti itu atau memang dia sudah terlalu jatuh pada stafnya itu.
Lala terdiam mendengar ucapan samar tuan sekaligus kekasihnya itu. Meski demikian dia bersikap seolah tidak mendengar.
Selain karena masih canggung, situasinya sekarang ini kurang mendukung. Mereka masih dikantor dan lagi, ini masih jam kerja.
"saya permisi tuan" Lala beranjak kembali kemeja kerjanya.
Revan menatap kepergian kekasihnya. Entah kenapa dia merasa ngilu melihat sikap kekasihnya yang terkesan acuh. tapi mengingat mereka dimana sekarang membuatnya memilih diam.
Hanya aku dan perasaanku. Bahkan sampai saat ini.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀