
🍀
🍀
🍀
Lala tersadar dari lamunannya, setelah lama berkecamuk dengan berbagai fikiran yang masih membuatnya bingung.
Bagaimana bisa mereka membuat keputusan tanpa diskusi dengannya. Atau mungkin memang begitu cara mereka berdiskusi.
Menekan lawan mainnya, membuatkan pilihan yang tidak bisa dipilih. Dan membuat lawan mainnya terpaksa menerima keputusan sepihak itu.
Terpaksa, kata yang kurang tepat sebenarnya. Karena Lala tidak merasa terpaksa sama sekali. meski terkejut Lala merasa lega entah karena apa.
Mungkin karena dia mulai sadar dengan perasaannya. Mungkin loe ya!.
"sayang coba lihat ini, cantik kan?" mama Fatma terlihat sangat gembira. Lala yang terbangun dari lamunannya mengahmpiri wanita anggun yang mau dipanggil mama itu.
"Bagus ma" menjawab singkat. Karena menurutnya gaun itu sangat mahal dan sudah pasti baguskan.
Mama Fatma terlihat puas dengan jawaban calon menantunya, merasa puas karena itu semua pilihannya. Mama Fatma bisa saja membawa Lala ke Butiknya, hanya saja mama Fatma belum membahas ini dengan Riva. Anggap saja mencari aman dulu, nanti setelah membahas ini dengan putri sulungnya itu mama Fatma pasti akan memperkenalkan usaha yang digelutinya dan kebetulan sedang di kelola oleh putri sulungnya itu.
terlebih mama Fatma tidak mau anak sulungnya itu terkejut, karena tindakan sepihaknya, yang terkesan memaksa.
"apa cukup..?" tanya Mama Fatma seraya menunjuk semua pilihannya. Membuat Lala kembali merasa bingung.
"cukup ma" memilih jawaban yang menurutnya aman.
"oke...., tapi kalau ada yang kamu perlukan lagi bilang saja sayang." Mama Fatma melangkah kearah kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
Lala mengekor dibelakangnya. Merasa semakin pusing dengan semua sikap dan ucapan nyonya mertua.
Dan Lala memilih diam tidak menyahuti perkataan sang Nyonya.
Aku bahkan masih bingung bagaimana harus memanggil. Batinnya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"terimakasih" ucap Mama Fatma kekasir yang melayaninya. Dan sebelum mama Fatma mengambil belanjaannya sang sopir yang terus mengikuti mereka bergegas mengambil belanjaan untuk disimpan kedalam mobil.
Setelah mereka keluar dari toko tempat belanja. Mama Fatma menatap calon menantunya dengan teliti membuat Lala merasa canggung.
"kamu lapar..?" bertanya karena waktu jam makan siang hampir lewat. Seolah mereka tidak sadar waktu berjalan dengan sangat cepatnya atau mungkin terlalu asik dengan kegiatan belanjanya.
"hmmmm...." ragu.
" kalau gitu kita makan, habis itu kita spa" mama Fatma memutuskan serangkaian kegiatan yang akan mereka lakukan hari ini.
"maaf Nyonya, ah maksud saya Mama. Apa kita tidak kembali ke kantor. Soalnya Lala meninggalkan pekerjaan Lala.." jelas Lala sedikit tidak enak.
"hahahaha...," tertawa dengan renyah.
" santai saja sayang. Hari ini kamu free anggap saja bonus libur karena kamu akan menjadi menantu mama. Dan satu lagi__ masalah pekerjaan Dimas akan menghandle semuanya jadi tenanglah" jelasnya santai. Seolah semua hal berada dalam genggamannya.
Astaga aku lupa pergi sama siapa. Tapi bagaimana kalau tuan Revan dan pak Dimas mengamuk besok.
Aduhhh..
"ayo...." mama Fatma menarik Lala kearah lantai atas tempat mereka akan melakukan kegiatan berikutnya.
Didalam mobil Lala tersenyum bahagia, entah kenapa dia senang sekali. Efek perut kenyang dan spa mahal yang dijalaninya cukup membuat badannya rilex dan membuat moodnya membaik.
"masuklah, mama tidak mampir. Mama harus ketempat lain lagi." jelas mama Fatma setelah meminta sopir pribadinya untuk menyimpan semua belanjaan yang dibelinya tadi kedepan kos calon menantunya.
"iya ma" menjawab namun pandangannya tidak terlepas dari sopir yang menurunkan semua barang belanjaan di Mall tadi.
"ma, kenapa semua diturunkan?. Maksud Lala apa semua itu untuk Lala?" bertanya langsung.
"tentu saja. Lagian penampilan mu harus sedikit ditolong. Ya walaupun mama tau putra mama jatuh cinta padamu karena apa adanya kamu. Tapi kamu juga harus ingat siapa pacar kamu itu. Ah maksud mama calon suami kamu itu" ralat mama Fatma dengan cepat.
terkejut luar biasa " tapi ini berlebihan ma...!" Lala terdengar memelas. Walau bagaimana pun dia tidak mau disebut aji mumpung.
" tidak sama sekali sayang. Laki-laki Jaya Group memang memperlakukan wanitanya dengan sangat istimewa dan ini belum termasuk setengahnya. Jadi tenanglah..."memberi pengertian dengan dibumbu ke pameran yang nyata.🤭🤭
__ADS_1
Sebelum akan pergi mama Fatma kembali mengingatkan. " ingat dipakai semua. Dan buat putra mama tidak bisa berpaling. Walaupun mama tau kalau putra mama tidak akan mungkin melakukan itu. Dan satu lagi jangan sampai membuat mama kecewa dengan hubungan kalian. Okee" mama Farma mengultimatum dengan gerakan tangannya membentuk hurup O.
"iya ma..." akhirnya Lala memilih mengalah karena memang dia sudah kalah. Karena Lala sama sekali tidak bisa membantah Nyonya anggun didepannya ini. Berbeda dengan disaat dia berbicara dengan Revan. Malah Lala yang lebih dominan. Karena memang tuan Revan akan cenderung mengalah dengannya. Walaupun, tidak semuanya.
" terimakasih ma" Lala mengucapkan rasa terimakasihnya. Untuk semua hal yang dia dapat hari ini.
"hm, hubungi Revan dan katakan langsung. Soalnya semua belanjaan, makan dan biaya spa semua dia yang bayar. Hahahahahh" mama Fatma menjelaskan dengan tawanya yang renyah.
"astaga..." ucap Lala spontan sambil menepuk keningnya.
mama Fatma masih tertawa merasa lucu dengan reaksi calon menantunya.
Gemasnya....
Kali ini sepertinya kamu memerjuangkan hal yang layak Van.
batin mama Fatma sambil tersenyum samar.
"mama pergi sayang. Nikmati waktu bersantai mu" mama Fatma melambaikan tangan seraya memasuki mobil yang pintunya sudah terbuka.
Setelah mobil mama Fatma menghilang, Lala menghembuskan nafasnya.
"oke La, kita jalani ini anggap saja ini semua mimpi indah. Dan lagi mama Fatma terlihat menerimanya" gumam Lala sambil masuk ke kos yang ruang tamu merangkap ruang utama kosnya penuh dengan paper bag.
"astaga, kenapa banyak sekali. Bagaimana aku akan berterimakasih pada tuan Revan. Ah maksud ku abang. Hehehe apa sekarang aku bisa memanggilnya seperti itu lagi?" Lala bertanya pada dirinya sendiri sambil dibumbui tawa renyah. Karena merasa malu sendiri dengan ucapannya.
Setelah kembali sadar dengan banyaknya kemungkinan uang yang mereka habiskan tadi Lala kembali menjambak rambutnya frustasi.
Astaga aku harus bagaimana ini......
🍀
🍀
🍀
__ADS_1