Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 68 Bingung


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Ditempat lain, Lala yang tengah berbaring malas di ranjang kecilnya. Menatap tajam kearah langit-langit kamar kos yang catnya mulai memudar.


Menikmati kesendirian dengan semua fikiran yang terasa semakin menambah beban hidupnya.


Iya, Lala menganggap beban karena dia merasa terganggu. Sebelum ini hal yang paling mengganggunya hanya masalah uang. Dan sekarang tidak hanya itu. Perasaannya seolah kacau, bingung menentukan sikap.


Apalagi disaat dia mengingat kejadian di dalam mobil setelah mereka akan kembali ke kantor petang tadi.


Bagaimana bisa dia tertidur dengan nyamannya, dan lebih gilannya lagi bagaimana bisa dia terbangun disaat tuan Revan tengah menatapnya. Yang akhirnya membuat pandangan mereka bertemu. Dan hal itu cukup mencabut kewarasan mereka bedua.


Mereka seolah menikmati keterkejutan itu, tapi mengalihkan pandangan bukan hal yang mereka inginkan saat itu.


Tanpa sadar, mereka mungkin menikmati rasa rindu yang mencoba mereka salurkan dari tatapan mata.


Dan setelah beberapa menit saling memandang, Revan menegakkan posisi duduknya membuat pandangan mereka terputus.


Dan Lala merasa malu karena tertangkap basah menikmati suasana yang mereka ciptakan.


Lala terus merutuki dirinya, seharusnya dia yang mengalihkan pandangan lebih dulu. Entah karena hal apa tapi yang jelas Lala merasa seharusnya dia yang lebih dulu melakukannya.


"bodoh...bodoh...bodoh...." Lala menjambak rambutnya frustasi.


"entah apa yang dia fikirkan saat ini tentang mu. Kau menyakitinya dan sekarang kau menunjukkan sisi lemah mu...." Lala terus menyalahkan dirinya.


"seharusnya aku bertanya soal kartu dan gelang yang akan aku kembalikan..., kenapa malah diam La...


astaga..." Lala bergerak seperti orang gila. Seharusnya dia tidak menunjukan sikap salah tingkahnya.


"murahannnn......" Lala meneriaki dirinya sendiri.


Padahal belum tentu Revan berfikir seperti itu. Tapi menurutnya begitu maka begitulah seterusnya.

__ADS_1


Lala beranjak dari tidurnya, memutuskan untuk membersihkan diri. Meski rasa kesal akan dirinya terus terbayang bersamaan dengan pandangan hangat tuan Revan siang tadi yang seolah terekam jelas dimemorinya.


Membuat Lala berulang kali menghembuskan nafasnya berharap dengan begitu dia bisa melupakan kejadian petang tadi.


Setelah membersihkan diri Lala kembali membaringkan badannya ke ranjang tempat tidurnya tanpa mengeringkan rambutnya lebih dulu.


Besok aku harus berbicara dengan abang. ah maksud ku tuan Revan. Aku harus mengembalikan barangnya lebih cepat. Jangan sampai dia berfikir aku sengaja mengulur waktu untuk menikmati uangnya.


"Hah....." menghembuskan nafas lagi. Sepertinya kali ini Lala mencoba memantapkan dirinya.


Meski merasa berat, tapi ini yang dia inginkan bukan?.


"beratnya hanya sesaat La. Kalau hubungan ini terus berlanjut justru kau tidak hanya menyakiti dirimu melainkan menyakiti dia lebih parah lagi...." ucap Lala kembali meyakinkan dirinya.


Kruk Kruk


Ditengah banyaknya fikiran yang ada suara perutnya membuat Lala kembali menghela nafasnya.


"sepertinya makan lebih penting saat ini dibanding masalah tuan Revan" berucap seraya beranjak untuk mencari makan malam yang diinginkan.


Lala keluar dan mengunci kamar kosnya, tujuannya kali ini bukan amang bakso atau amang nasi goreng yang biasa mangkal di depan gang kosnya. Melainkan ke arah minimarket diseberang gang tempat tinggalnya. Beruntung tempatnya tidak terlalu jauh jadi Lala berjalan dengan santainya.


Disaat sampai minimarket, Lala memilih varian mie pedas di tambah beberapa sosis siap makan untuk mengganjal rasa laparnya.


Lala mulai membuka cup mie dan memasukan beberapa potong sosis ke dalam cupnya, menambah dengan air hangat dan memasukkan ke dalam oven. Semua perlengkapan untuk memasak mie dan berbagai jenis kopi memang tersedia. Membuat semua pelanggan yang awalnya hanya membeli kebutuhannya mulai mecoba menikmati mie atau kopi yang mereka siapkan sendiri.


Seperti malam ini, Lala tengah menyiapkan mienya ditemani sebotol air mineral dingin yang dia ambil ditempat pendingin.


Pilihan yang sangat sempurna bukan?.


Ting


Bunyi pertanda mie sudah siap di santap dan Lala tersenyum sumringah melihat mie yang disiapkannya. Dengan segera membawa mienya ke meja yang sudah disediakan diluar.


Melihat uap yang keluar dari cup mie membuat Lala semakin tidak sabar. Disaat akan mulai menyantap mienya Lala terdiam mengingat kejadian yang seharusnya mulai dia lupakan.


"Kalau mau makan pesan aja, pakai kartu yang abang kasih. Dan ingat jangan kebiasakan makan makanan instan. Enggak baik.

__ADS_1


Biasakan kulkas jangan sampai kosong, paling tidak isi dengan buah. Jadi kalau sekedar lapar tinggal makan itu..." bayangan Revan berucap seraya memperhatikan semua isi dapur membuat Lala terdiam.


Lala merasa pesan itu baru saja dia dapatkan, dan Lala sama sekali tidak menduga bakal menjadikan hal itu kenangan secepat ini.


Sambil mengaduk mienya Lala kembali mengingat pesan lain dari tuan Revan.


"abang sudah masukkan beberapa nama tempat yang biasanya dipakai Dimas untuk memesan makanan. Tempatnya abang jamin karena memang kenal pemiliknya. Dan...satu lagi jangan terlalu sering makan makanan di gang. Kebersihannya kurang terjamin." dan masih banyak lagi kalimat yang diucapkan tuan Revan seolah menjadi sebuah pesan untuk Lala.


Meski saat itu Lala hanya menjawab iya, hanya sekedar untuk menenangkan tuan Revan. Tapi kali ini sepertinya berbeda.


Lala merasa merindukan semua ucapan dan aturan tak kasat mata yang ditunjukan tuan Revan. Terkadang Lala merasa dirinya terlalu banyak terkait dengan tuan Revan meski hubungan mereka sangat singkat.


Lala tidak menduga kesan tuan Revan benar-benar melekat padanya, entah itu sikap maupun tindakannya.


"Huh......" Lala menghembuskan nafasnya seraya menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua fikiran dan bayangan yang muncul.


Lala seolah tersadar kembali setelah melihat mienya lumayan mengembang. Lala menyuapkan satu sendok penuh mienya, tapi setelah masuk keperutnya Lala merasa mienya kurang nikmat. Entahlah mungkin karena sudah mengembang atau apalah.


Dari pada mubazhir Lala memutuskan untuk menghabiskan sosisnya saja.


Sepertinya ucapan tuan Revan yang dia ingat membuat nafsu makannya menghilang.


Setelah menghabiskan sosisnya dan merapikan bekas makannya Lala memutuskan untuk kembali ke kos dengan tangan menenteg kresek berisi berbagai varian es cream.


Menghibur hati untuk Lala tidak perlu susah dan mahal, cukup makan makanan Pedas atau manis maka fikiran kembali fress.


Disaat Lala menjalani hidup rumitnya dengan santai dengan senandung kecil yang dia nyanyikan untuk menghilangkan gundah. Mampu membuat seseorang yang tengah menatapnya dari jauh merasa tersentil.


Dia cukup bahagia dengan kehidupannya. Dan kamu datang menawarkan kehidupan baru tanpa menerima pendapatnya?.


Sudah cukup kali ini, dan yakinkan memang hanya sampai disini.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2