
Keadaan dalam ruangan utama Jaya Group tampak hening. dengan Riva yang menyorot langsung staf adiknya.
sementara Revan belum selesai dengan urusannya. Riva mulai memindai habis staf yang terbilang cukup mendapat perhatian dari adiknya.
"tiap hari kau baca dokumen-dokumen itu?" tanya Riva menunjuk ke semua dokumen yang ada di meja sofa.
"baru 2 hari ini nona," jawab Lala singkat dengan tetap menundukkan pandangannya.
"kenapa....?" Riva penasaran dengan alasannya.
"karena tuan Revan sedang lelah nona. kalau harus mengerjakan semuanya satu-satu akan sangat memakan waktu lama"jawab Lala sesuai dengan alasan yang diberikan tuan Revan padanya.
"ohhhh...maksudnya dia mengerjakan pekerjaan yang lain dengan kau mengecek dokumen yang diperkirakan ada kesalahan pengetikan" Riva memastikan
"iya nona"
"hahahhahahahahhaha" Riva terbahak sangat keras, entah bagian mananya yang lucu tapi ini sangat menghiburnya.
"tegakkan kepalamu?" suara Revan terdengar.
nona Riva dan Lala yang mendengar, segera mengalihkan pandangannya ke asal suara.
"memangnya kau buat salah, sampai harus menunduk seperti itu" lanjut Revan seraya duduk di single sofa.
Lala mengangkat kepala, namun membuang pandangannya kesegala arah.
"maaf tuan apa saya bisa kembali ke meja kerja saya, biar saya mengecek dokumennya disana?" suara Lala meminta ijin.
Revan mengangguk" selesaikan sebelum jam pulang kerja! langsung kembalikan di meja kerja saya" Revan melanjutkan.
"baik tuan" kalau gitu saya....." ucapan Lala terpotong.
"simpan saja dokumennya disitu!, kau boleh keluar sekarang" suara Riva memotong pembicaraan mereka dan tentu saja membuat dua orang itu langsung melihat kearahnya.
"kenapa?, apa ada yang salah?" tanya Riva tanpa dosa. "kau juga harus menyelesaikan pekerjaan mu disana, apa kau akan melimpahkan semuanya ke rekan kerjamu!" sambung Riva seolah mengingatkan bahwa ada hal yang memang sudah menunggunya di sana. dan memberikan adiknya sedikit kode.
__ADS_1
"ya sudah simpan saja, saya akan lanjutkan nanti. kamu bisa kembali kemeja kerjamu sekarang" tambah tuan Revan.
"baik Tuan, Nona. Saya permisi" Lala beranjak dan keluar dari ruangan tersebut, meski bingung namun dia lebih memilih untuk tidak bertanya atau membantah tuan dan nonanya.
anggap saja cari aman.
...****************...
"ada masalah apa lagi kali ini" suara Revan terdengar menusuk ke arah kakaknya.
namun Riva sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
dia malah memicingkan matanya pada sang adik. "modus......" ucap Riva pelan namun sangat jelas terdengar.
Revan mengernyitkan dahinya, " apa maksud kakak?" bingung.
"cih...., " melengos.
"huh...., enggak jelas". ucap Revan mendelik.
"mama minta kamu pulang kerumah" ucap Riva santai.
"bisa saja kamu pulang ke apartemen atau ke rumah gebetan kamu" ucap Riva memperjelas maksudnya.
"ngaco!, lagiankan bisa lewat telepon, kenapa harus datang segala?. dasar aneh"
"ya sekalian mau ajak Dimas juga" lanjut Riva
Revan beranjak dan menekan interkom yang ada di atas mejanya, "keruangan saya sekarang" perintahnya tanpa basa basi. wajar bukan karena dia bosnya.
tidak selang berapa lama, pintu ruangan terbuka tampak lah seseorang yang tengah dibicarakan muncul, dengan kesalnya.
"apaan..., pekerjaan gue banyak. kalau mau suruh-suruh tanya dulu...!" suara Dimas terdengar kesal sekali.
Riva yang mendengar kekesalan Dimas, hanya bisa mengernyitkan dahi. dia sudah biasa melihat mereka berdebat atau bermain tapi ini bukan waktu yang tepat.
__ADS_1
"kalian selalu seperti itu walau sedang di kantor" suara Riva terdengar tidak suka dengan interaksi mereka.
Dimas yang mendengar suara perempuan, baru saja menyadari siapa yang tengah duduk cantik di sofa. dengan melipat tangan di dadanya membuat Riva terlihat makin mengesankan. sangar namun cantik dan manis.
tentu saja yang melihat seperti itu hanya Dimas. tapi fikirannya buyar setelah melihat kekesalan di wajah nonanya.
"kenapa diam, apa kalian tidak bisa membedakan antara kantor dan tempat tongkrongan?" sambung Riva dengan kekesalan yang belum surut.
"maaf nona" hanya itu yang bisa Dimas ucapkan.
"sudahlah, Dim entar malem ada acara dirumah. kau harus datang jangan lupa ajak paman dan bibi.." mengalihkan fokus keduannya.
"maaf tuan, kebetulan orangtua saya tidak sedang di rumah" jawab Dimas dengan Formal.
"astaga," menepuk keningnya. " aku lupa kalau paman ke luar negeri. apa bibi juga ikut?" setau Revan hanya paman Surya yang pergi.
"mereka pergi bersama tuan. anda tau sendiri bukan..."
"hahahahhaha....aku suka keromantisan mereka. apa kau akan seperti itu juga dengan wanita mu" goda Revan sekaligus menghilangkan kecanggungan antara kakak dan sahabatnya.
Dimas hanya tersenyum mendengar penuturan sahabat sekaligus tuannya.
"menurut kakak gimana..?" tanya Revan pada kakaknya, dia sengaja bertanya seperti itu untuk mengembalikan fokus kakaknya.
Dimas yang mendengar Revan bertanya seperti itu memasang telinganya. dia berharap ada kata-kata manis yang keluar dari wanita pujaannya itu.
"mana aku tau. memang aku pacarnya apa?.., ishhhh dasar aneh" entah kenapa Riva kesal mendengar pertanyaan adiknya.
antara merasa pertanyaan itu tidak penting dia juga merasa pertanyaan itu kurang tepat diberikan sang adik padanya.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
🍀