Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 58 Bersama


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Revan terlihat berdiri tepat dibelakang kekasihnya yang tengah mengantri di bagian kasir.


Entah kenapa hari ini pengunjung supermarket lumayan ramai. mungkin karena awal bulan membuat orang kebanyakan merefil kebutuhan bulanannya.


Revan terlihat santai dengan tangan yang terus memainkan tangan kiri kekasihnya.


Raut wajahnya terlihat terhibur dengan tindakkannya, bahkan tuan Revan yang terkenal anti dengan hal-hal yang serupa sangat berbeda kali ini. Setidaknya ada hiburan yang dia dapatkan dari permainan jari jemarinya dengan kekasihnya.


"abang kalau capek istirahat di sana saja.." Lala berbisik seraya menunjuk ke arah kursi tunggu yang tidak jauh dari kasir.


Dan terlihat beberapa orang yang menemani pasangan, teman dan lainnya juga tengah menunggu disana.


Revan tidak menjawab malah tetap fokus dengan mainannya.


"abang...." panggil Lala lagi, karena bisikannya tadi tidak ada respon.


Lala memanggil lagi untuk meminta kekasihnya menunggu. Karena jujur Lala merasa tidak nyaman dengan kondisi ini.


Lala yakin ini pertama kalinya kekasihnya mengantri.


Astaga apa aku membawa pengaruh buruk?.


Lala bingung dengan kekasihnya yang malah asik sendiri. Dan terlihat enggan jauh darinya.


"apa abang aja yang antri?, Lala yang nunggu cape soalnya..." ucap Lala pelan dengan wajah imutnya.


Revan menatap kekasihnya yang entah kenapa terlihat sangat lucu.


"sebentar lagi sayang. Sini.." Revan menarik sedikit tangan kekasihnya membuat badan mereka merapat. Dan membuat Lala seolah bersandar pada badannya.


Antri memang membosankan tapi Revan suka. Ini merupakan pengalaman baru untuknya. Terlebih lagi dia melakukannya dengan orang yang istimewa.


"abang malu ih...." Lala segera beranjak dari sandarannya. Memang terasa nyaman apalagi dia merasa lumayan pegal karena mengatri, terlebih lagi Lala yang masih menggunakan pakaian dan sepatu kerjanya.


Revan hanya tersenyum melihat wajah kekasihnya yang terlihat memerah.


Setelah menunggu lama akhirnya giliran mereka tiba.


Kasir menyebut total belanjaan yang membuat Lala lumayan terkejut. Ini pertama kalinya berbelanja sampai mengahabiskan uang sebanyak itu.


Revan yang bersikap biasa saja dan mendengar kasir menyebutkan total belanjaannya menyerahkan kartu debitnya.


"terimakasih.." ucap Revan pada kasir. Dan membawa belanjaan kekasihnya yang lumayan banyak.


Bagaimana tidak banyak semua belanjaan ada 6 kantong plastik putih besar. Yang Revan masukan kembali ke dalam troli untuk membawanya ke mobil.


"ayo sayang...." Lala tersentak. Lala merasa lucu akhir-akhir ini dengan semua sikapnya.


Responnya seolah melambat semenjak menyandang status baru dengan tuan mudanya ini.


Responnya cenderung lambat dan terlihat sangat memalukan menurutnya.


Sesampainya dimobil Revan membuka bagasi mobil dan mulai memasukan kantong belanjaannya.


Lala yang melihat kekasihnya memindahkan barang menghampiri dan berniat membantu. Baru saja tangannya hendak memegang kantong, seketika gerakkannya terhenti karena kekasihnya lebih cepat memindahkan kantong tersebut.

__ADS_1


" masuk sana, biar abang yang simpan ini." Revan berucap dengan fokus masih pada kantong belanjaan.


" Lala bantu ini dulu.." ucap Lala dengan tangan mengangkat kantong yang lumayan berat. Karena isinya berbagai jenis tepung dan bumbu kering.


"biar abang saja, ini berat sayang.." ucap Revan mengambil alih kantong.


Lala memperhatikan kekasihnya kalau dia menurut untuk masuk mobil. Bukankah dia terlihat tidak tau malu dan kurang ajar.


Hah.....


Lala menghembuskan nafasnya pelan. Memperhatikan semua yang dikerjakan kekasihnya. Merasa takjub karena dia berfikir Revan tidak akan bisa melakukan hal-hal seperti ini.


Karena akan sangat tidak mungkin kan seorang Tuan Muda Jaya Group belanja bulanan dan membereskan belanjaannya sendiri kedalam mobil.


"ayo...." setelah selesai Revan membawa kekasihnya ke mobil dan membukakan pintu untuknya.


"terimakasih abang...." Lala berucap setelah duduk manis di samping kemudi.


"pasang sabuk pengamannya" ucap Revan menunjuk sabuk yang berada di samping kekasihnya.


"oke" ucap Lala dengan riang.


" ini bang....." Lala menyodorkan kartu debit sang kekasih yang didapatnya di dikantor tadi.


"Apa....?" Bertanya dengan fokus tidak beralih dari jalan raya.


" Punya abang. Tau gitu Lala enggak usah terima tadi" Lala berucap dengan tangan yang masih menggantung memegang kartu.


Revan mengalihkan pandangannya sejenak, menarik tangan sang kekasih dan menciumnya.


"Ishhhh...kartunya abang bukan tangan Lala.." Lala menggerakkan tangannya pelan.


Berusaha menarik tangan tanpa terlihat jelas dia risih dengan cara kekasihnya.


" Kita bicara dikos ya, abang juga ada yang mau di bicarakan. Penting " menekankan kata penting diakhirnya.


Membuat Lala tidak bisa menolak.


"Kenapa tidak sekarang aja. Aneh deh" Lala bergumam. Dan sialnya gumamannya terdengar oleh Revan.


Membuat Revan menatap kekasihnya intens, dengan fokus terbagi antara kekasihnya dan jalanan.


Lala yang sadar diperhatikan sang kekasih memilih menatap kembali dan mengalah.


"Iya abang, bicaranya dirumah aja..." Ucapnya mengaku kalah.


"Lihat jalannya...." Lala menunjuk kearah jalan raya yang lenggang.


Setelah beberapa menit, mereka tiba di kos. Barang belanjaan juga sudah berada didalam kos dengan kantong yang berjajar rapi.


Lala bergegas membersihkan diri, berganti baju dan setelahnya menghampiri sang kekasih.


Revan terlihat berbaring dengan nyaman di kasur Lala yang terlihat sangat kecil jika dia yang diatasnya.


"Abang mau makan apa...?" Lala bertanya dengan berdiri disamping kekasihnya yang merebahkan badan.


"Abang sudah pesan sayang. Mudahan kamu suka ya..." Revan menjawab santai dengan mata yang masih terpejam.


"Baiklah...., Kalau gitu Lala beresin belanjaannya aja" Lala menjawab dengan riang.


Sebelum Lala beranjak dari tempatnya berdiri Revan menarik tangannya. Membuat Lala terjerambab ke kasur kecilnya.

__ADS_1


"Abang..." Lala memukul pelan dada kekasihnya.


Bagaimana tidak?, Lala terkejut bukan main. Bagaimana bisa kekasihnya menarik tangannya seperti itu. Dan bagaimana kalau ranjaknya patah.


Astaga aku tidak habis fikir dengan sikap dan tindakannya.


Revan tidak bergeming, malah dia semakin erat memeluk kekasihnya.


"abang..., kalau ranjangnya patah gimana?" ucap Lala dengan gerakan yang terus mencoba untuk terlepas dari kekasihnya.


Revan menatap netra kekasihnya " jangan ngawur, mana ada ranjang patah. Ini kuat sayang" Revan tidak mau kalah. Terus mengeratkan pelukannya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mengurai pelukan Revan. Dan entah kenapa ketukan itu terdengar seperti angin surga untuk Lala.


Lala tidak habis fikir bagaimana bisa kekasihnya memeluknya seerat itu tanpa ada rasa canggung dan bersalah sedikit pun.


Jujur sampai saat ini Lala masih tidak habis fikir bagaimana bisa perubahan status yang sangat sepele bernama pacaran bisa merubah sikap seseorang.


Lala masih menetralkan degub jantungnya akibat skinsip yang dilakukan tuan sekaligus kekasihnya itu.


Lala membuka pintu kos membiarkan Revan terbaring di atas ranjang seorang diri.


Entah apa yang tengah difikirkannya sekarang, tapi yang jelas Lala merasa sangat berdebar saat ini.


Tenang La tenang.....


Kalau sampai dia melakukan hal lebih kamu bisa teriak sekencang-kencangnya.


Huh...


Lala membuang nafas kasar sebelum membuka pintu.


"iya mang..." terlihat penjaga kos menentang kantong dari merek tempat makan ternama. yang mungkin itu berisi pesanan sang kekasih.


"ah... Ini neng tadi ada kurir yang ngantar katanya pesanan mbak Lala ya?" penjaga kos menyodorkan kantong ke arah pemilik kamar kos yang sangat dikenalnya ini.


"iya mang terimakasih, maaf merepotkan malam-malam." Lala mengambil kantong berisi pesanan kekasihnya.


"ini mang..." Revan tiba-tiba berdiri di belakang Lala dan menyodorkan uang untuk sang penjaga kos.


"untuk saya mas?" penjaga kos tampak ragu karena uangnya lumayan banyak menurutnya.


"iya buat beli kopi atau rokok. Oh iya saya numpang kos pacar saya tidak apa-apa kan mang?" bertanya seolah meminta untuk tidak diganggu baik dengan teguran langsung atau ucapan di belakang.


"tidak apa-apa mas. Terimakasih banyak bonusnya" ucap penjaga kos dengan menunjukan uang yang sudah diterimanya dengan suka cita.


Tentu saja penjaga kos welcome saja toh dia hanya penjaga yang dikerjakan pemilik kos ini. Lagian karena kos ini kos campur tentu saja mereka mempunyai kebebasannya tersendiri.


Tampak dari semua penghuni kos yang tidak saling menyapa dan seolah tidak saling memperdulikan satu dengan yang lain. Mungkin karena kesibukan dan mungkin juga karena terlalu malas mencampuri urusan orang lain.


Terkecuali sikap dan kelakuan penghuni kos dan tamu sudah mengganggu penghuni lain dan terkesan melewati batas baru deh mamang penjaga berfungsi menenangkan dan setelah itu melaporkan pada pemiliknya.


Lala yang melihat kekasihnya berdiri tepat dibelakangnya merasa heran. Kapan gerangan sang kekasih bangun. Kenapa tiba-tiba sudah ada di belakangnya saja. Ah apalagi melihat tips atau bonus yang diberikan ke amang penjaga.


Terlihat sangat murah hati untuk ukuran Lala.


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


__ADS_2