Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 47 Rasa Aman


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Suasana ruang makan di kediaman utama Tuan Ardian tampak senyap. Semua fokus dengan makanan didepannya. Seolah dikomando dan ingin cepat menghabiskan makanannya.


"Keruangan ayah sebentar" ucap Tuan Ardian memecah fokus anak-anak dan istrinya.


"siapa yah?" Riva bertanya karena dia tidak melihat ayahnya menunjuk salah satu dari mereka.


"kalian berdua" jawab tuan Ardian dan melenggang ke ruang kerjanya.


Riva merasa aneh dengan sikap ayahnya, apalagi ini ayahnya baru saja kembali dari luar negeri. Namun suasana terasa mencekam.


Astaga apa yang aku fikirkan


Riva membatin dan memukul sedikit kepalanya.


Revan menghentikan acara makannya dan memilih beranjak langsung ke ruangan kerja ayahnya. Tentu saja setelah berpamitan dengan sang mama.


"ishhh.....makannya belum selesai juga" Riva merasa kesal. Karena adiknya menyusul ayahnya lebih cepat. Padahal makanannya belum habis.


"sudah sana, makannya lanjut nanti. Takutnya pembahasan belum dimulai kalau kamu belum datang" sang mama memberi pengertian pada putrinya.


"iya ma" Riva beranjak setelah meneguk air minumnya.


Mama Fatma hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap anak-anaknya. Yang terkadang terlihat sangat angkuh, tapi disaat dirumah berubah menjadi anak-anak yang manja.


Revan dan Riva duduk di sofa ruang kerja ayahnya. Memperhatikan semua yang dilakukan ayahnya mereka.


Berbeda dengan sikap anak-anaknya yang gugup, tuan Ardian terlihat santai. Dengan Laptop yang masih menyala.


Tuan Ardian memilih menyudahi kegiatan yang sebenarnya baru saja di mulainya. Duduk di sofa single dekat dengan kedua anaknya.


Suasana masih senyap, seolah mempersilahkan seseorang untuk memulai berbicara.


ditengan menunggu Revan mengirim pesan untuk kekasihnya. Sekedar memastikan bahwa kekasihnya tidak sedang menunggunya.


Revan beranggaan pembahasan kali ini bisa sangat alot, jika dilihat dari sikap sang ayah.


"sudah selesai?" tuan Ardian bertanya pada putranya.


Tuan Ardian sengaja menunggu putranya selesai memainkan Hpnya. Menurutnya pembahasan kali ini terbilang cukup serius.


Revan menyimpan Hpnya pada saku jas yang dipakainya disaat dia memastikan mendapat balasan pesannya.


"sudah yah?" jawab Revan menatap langsung ayahnya karena posisi duduk Revan yang paling dekat dengan sang ayah.


"Riva, kamu tertarik bekerja di kantor?" tuan Ardian bertanya pada putri sulungnya yang duduk sedikit menunduk seolah memperhatikan gerak kakinya.

__ADS_1


"tidak yah" jawab Riva spontan. Karena dia memang tidak tertarik terlibat dalam hal itu.


Revan menatap kakaknya, dia penasaran arti dari pertanyaan ayahnya.


"Kenapa kak Riva yah?" Revan tidak sabar menunggu penjelasan ayahnya.


"hah...." menghembuskan nafas pelan. " kamu menemui Radit kemarin?" tuan Ardian langsung bertanya ke intinya.


Riva tidak terkejut sama sekali, karena kantor masih daerah kekuasaan ayahnya, tentu saja ayahnya bisa tau apapun hal yang terjadi dikantor.


Berbeda dengan Riva, Revan tampak terkejut. Menatap silih berganti kakak dan ayahnya.


"Kakak menemui Radit?, untuk apa?" Revan makin penasaran mengenai kakaknya yang bertindak terlalu cepat menurutnya.


" hanya berbicara" Riva menjawab santai pertanyaan ayah dan adiknya.


"Kenapa?" Riva balik bertanya pada ayahnya. Apa menemui Radit di kantor bisa menjadi masalah. Dia sungguh tidak mengerti.


"ayah yang memintanya untuk kembali ke kantor. Terlebih____" Tuan Ardian menjelaskan dan memberi pengertian pada anak-anaknya mengenai alasannya.


Tuan Ardian berharap anak-anaknya bisa mengerti dengan keputusannya kali ini.


...****************...


Revan berjalan santai memasuki lobi kantor, wajahnya tampak datar. bahkan sapaan dari karyawan tidak satu pun diperhatikannya.


Revan masih memikirkan penjelasan ayahnya. Apa dia salah selama ini. Revan terus meraba maksud dari penjelasan ayahnya.


Ayah tau kesalahan yang lalu belum bisa kalian maafkan tapi percayalah ini adalah salah satu cara kita menghargainya. Dengan memberi kesempatan untuknya.


Dan kau Revan sebagai orang pertama di kantor, perlakukan dia layaknya karyawan mu bukan saudara mu. Jika dia membuat kesalahan tegur dia dan kesalahannya tapi jika dia membuat hal yang baik maka fuji dia dan tindakannya.


Lupakan permasalahan yang lalu.


Menurutnya kata-kata ayahnya masih membuatnya bingung tapi tidak untuk diabaikan. Cukup lakukan hal yang harusnya dilakukannya.


Hah...fokus Van


Mulai mensugesti diri.


Revan masih fokus dengan semua fikirannya. Bahkan dia tidak menyadari orang lain dalam lift yang dipakainya.


"Duluan Tuan " terdengar suara dari seseorang yang keluar setelah lift terbuka. Terlihat Sasa mantan staf utamanya tersenyum ramah pada Revan tanda menghormati.


Revan menganggukan kepalanya sebagai balasan.


"Abang.." suara terdengar dari belakang, namun fokus Revan masih bertengger entah dimana.


"Abang..." Lala mengulangi panggilannya sekali lagi.


Lala sudah didalam lift bersama Sasa di saat tuan muda sekaligus kekasihnya ini masuk. Namun Lala memilih diam mengingat dia bersama orang lain. Apalagi disaat Lala memperhatikan kekasihnya tampaknya fokus kekasihnya entah dimana.

__ADS_1


"Hah..." Revan membalikkan badannya disaat dia tersadar seseorang memanggilnya.


"Astaga, kamu disini?" Revan cukup terkejut melihat wanitanya bersamanya. Dia cukup malu mengakui kalau fokusnya sedang tidak ditempat sekarang ini.


"hayo..ngelamunin apa?" Lala menggoda Kekasihnya.


Revan tersenyum dan merapatkan badannya ke arah Lala yang tetap berdiri hampir menyentuh dinding Lift.


Revan meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya erat. " maaf ya tidak sadar kalau kamu di sini" Revan merasa bersalah karena tidak menyadari keberadaan kekasihnya.


"hmm....."Mengangguk " lagian Lala juga diam aja kan. Tadi ada mbak Sasa soalnya" Lala menjelaskan alasannya tetap diam.


"keliatannya abang banyak fikiran. Apa ada masalah?" Lala menyampaikan rasa ingin taunya.


"aku senang kamu perduli. Tapi tenang saja, kekasihmu ini hanya sedang berfikir saja..." bohong Revan. Karena menurutnya Lala belum perlu tau mengenai permasalahannya.


"berfikir...?" Lala mendongak ke arah kekasihnya membuat pandangan mereka bertemu.


"hmm..., berfikir bagaimana caranya meyakinkan mu " goda Revan dengan menoel dagu kekasihnya.


"astaga......." Lala membuang wajahnya ke sembarang arah.


"kenapa?, bukankah aku perlu strategi juga?" Revan makin menggoda Lala. Membuat Lala tersipu malu.


" tidak perlu terlalu difikirkan. Kita jalani saja, supaya tidak jadi beban" ucap Lala.


"aneh..., kalau cuma dijalani. Bagaimana bisa kamu jatuh cinta padaku?" Revan bertanya seraya menatap intens wanitanya.


"cukup membuatku nyaman dan merasa aman. Lala rasa akan bisa jatuh cinta dengan mudah" Lala memberitahu hal yang sebenarnya merupakan kriteria idamannya.


Seseorang yang diharapkan menjadi pendampingnya kelak adalah orang yang bisa membuatnya merasa nyaman dan aman, karena merasa selalu dilindungi.


"baiklah...." Revan menjawab dengan cepat.


"apa sekarang nyaman" ucap Revan bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Lala segera melepaskan genggaman tangan kekasihnya dan berbisik pelan " nyaman tapi sayangnya tidak aman" ucapnya dan segera keluar dari lift dengan tawa riangnya.


Lala langsung berdiri di belakang meja kerjanya. Seolah bersikap kalau dia datang lebih dulu di banding tuan mudanya.


"Selamat pagi tuan.." Lala menyapa Revan dengan senyum manis dan disertai gerakan sedikit menundukan badannya.


Revan tersenyum samar melihat sikap kekasihnya yang menurutnya sangat menggemaskan.


Manisnya....


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2