Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 49 Kencan


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Riva menoleh dan membuka sedikit matanya melihat seseorang yang bertanya.


Setelah memastikan siapa yang bertanya, Riva memilih bangun dan duduk menghadap orang tersebut.


"ngapain disini?" Riva bertanya dan melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan cantiknya.


Riva memicingkan matanya.


" saya hanya lewat nona, dan kebetulan melihat anda makanya saya kesini. Anda terlihat seperti sedang ada masalah" Dimas menjelaskan.


"hmmm....., hanya masalah internal" Jawab Riva pendek dan sedikit menunduk.


"aku hanya belum lama menggantikan mama, dan____" Riva hendak menjelaskan namun setelah sadar dia tengah berbicara dengan siapa dia mulai memicingkan matanya dan menatap lawan bicaranya.


"ada apa nona?" Dimas merasa aneh dengan perubahan sikap nonanya.


" ada apa?. Menurut mu bagaimana?" Riva melempar pertanyaan kembali.


" nona terlihat kesal" Dimas mencoba jujur.


"bagaimana aku tidak kesal. Kau bersikap seperti akan menjadi tempat curhat ku saja. Padahal....!" Riva terdengar sangat kesal. Bagaimana bisa sahabat sekaligus orang kepercayaan adiknya ini berani memancingnya dengan nada jebakan seperti itu.


Bagaimana kalau dia terjebak dan menceritakan semuanya pada adiknya, maka tamatlah dia.


"anda bisa percaya pada saya" ucap Dimas meyakinkan yang membuat Riva memicingkan mata.


"bukannya kamu sedang marah?" Riva mengingat terakhir kali pertemuan mereka.


"saya tidak berani nona, itu hanya spontanitas saja" Dimas membela diri.


Karena memang dasarnya dia tidak punya keberanian untuk marah. Anggap saja dia terlalu baper saat itu.


" jadi anda bisa cerita pada saya" lagi Dimas mencoba meyakinkan.


Riva menatap Dimas yang ikut duduk di kap mobilnya, memandang kearah depan.


Riva masih bimbang tapi tidak ada salahnya dicoba bukan?.


"baiklah....., sebelum itu perbaiki cara bicaramu. Rasanya aku bicara dengan siapa saja. Atau jangan - jangan...?" Riva menggantungkan ucapannya.


"maksud nona" Dimas mengernyit tanda tidak mengerti.


"ngomongnya biasa aja, anggap saja saya kakak mu" Riva menjelaskan makdudnya


Hah...., kakak? Yang benar saja. bagaimana bisa aku jadi adik mu.


Dimas menggelengkan kepalanya, " kenapa?" Riva merasa heran melihat sahabat adiknya itu hanya geleng kepala.


"tidak nona, hanya saja akan sangat tidak sopan kalau saya bicara dengan anda seperti saya bicara dengan orang lain. Bisa-bisa orangtua saya membunuh saya" Dimas tertawa getir. Merasa tidak sinkron antara perasaan dan ucapannya.


"memang kenapa?, toh kamu juga biasa saja saat bersama Revan. Dan paman tidak masalah bukan" sanggah Riva. Karena memang itu adanya

__ADS_1


Yang harus di hormati diantara mereka berdua ya tentu saja Revan adiknya, lah tapi ini. Mentang-mentang sahabatan gitu.


"ini berbeda nona" jawab Dimas pendek.


"sama aja. Lagian yang harus kau hormati itu Revan bukan aku. Walaupun dia sahabat mu ingat dia atasan mu di kantor" Riva mengingatkan.


"iya nona" mengalah.


"iya, tapi tetap saja panggilnya begitu" Riva mencebikkan bibirnya.


...****************...


Suasana kantor utama Jaya Group tampak lenggang, hanya tersisa beberapa karyawan yang memilih lembur untuk menyelesikan pekerjaannya dan pihak keamanan.


Ditengah kesunyian, Revan menyorot jalan arah lobi kantor demi melihat pujaan hatinya.


Entah pekerjaan apa yang harus diselesaikan wanitanya sampai-sampai membuatnya menunggu seperti ini.


Selang beberapa menit tampak Lala berlari dengan fokus yang mengarah kesembarang arah seolah memastikan kondisi aman.


Lala membuka pintu mobil dan masuk dengan segera.


"langsung jalan aja..." ucap Lala setelah memasang pengamannya. Revan mengernyit, meski demikian dia tetap melajukan mobilnya sesuai perintah.


"kenapa lama?" rasanya tidak tahan sekali untuk bertanya.


"maaf..." dengan tampang memelasnya.


"Dimas memberimu banyak pekerjaan?" kembali bertanya.


"biasa aja sih, tapi semenjak mbak Sasa pindah forsi jadi lebih banyak. Tapi masih aman kok. Lagian yang buat Lala lama bukan karena itu" jelas Lala


"Lala nunggu kantor agak sepi, baru keluar" jawab Lala datar.


"astaga, kau membuat ku menunggu karena itu?" Revan mengalihkan pandangannya sebentar dan kembali fokus pada jalanan.


"iya..." jawabnya pelan." Lala belum siap kalau ada yang tau soal hubungan ini" Lala menjelaskan kembali.


"hmmmmm..."


Lala memalingkan wajah dan menatap kekasihnya setelah mendengar respon keramat kekasihnya.


" abang nunggu lama ya?" Lala mencoba memastikan waktu tuan sekaligus kekasihnya ini yang terbuang.


"Lumayan lah, lain kali kita keluar sama- sama saja. Setelah yang lain pulang" Revan mengusulkan.


"apa aman?" Kali ini Lala yang bertanya karena merasa was-was dengan ide kekasihnya.


" mungkin" jawab Revan ambigu dengan senyum kecil diwajahnya.


Mereka tiba di salah satu Mall terbesar, keluar mobil dengan Revan yang menunggu kekasihnya keluar setelah mereka memarkirkan mobilnya.


Lala yang melihat kekasihnya menunggu dengan merentangkan sebelah tangannya. Menambah kecepatan jalannya dan meraih tangan kekasihnya yang langsung menggenggamnya erat.


"abang kenapa ke Mall?" Lala bertanya dengan langkah yang terus mengikuti kekasihnya.


Entah kenapa Revan tidak tampak berfikir seolah dia tau betul hendak membawanya kemana.

__ADS_1


"Nonton" jawab Revan pendek dengan senyum manisnya." tenanglah abang yakin kita aman" meyakinkan.


"iya, Lala percaya..." jawab Lala tak kalah yakinnya, dengan membalas senyum manis kekasihnya.


Bahkan tangan yang tertaut semakin erat saja.


Setelah mendapat tiket dan cemilan, mereka masuk ke bioskop yang mulai rame.


Sejenak terlihat celingukan karena mencari nomor kursi mereka.


"Disana sayang.." Revan memberitahu setelah melihat nomor kursinya.


Posisi pojok kiri paling atas Revan pilih sebagai tempat menonton. Entah apa alasannya yang jelas dia terlihat ceria dan terus mengembangkan senyumnya disaat menarik Lala kekursi mereka.


Lala mengikuti dengan pasrah. "ini film apa?" Lala bertanya karena memang dia tidak tahu film apa yang akan mereka tonton.


"enggak tau, yang jelas bukan film hantu" jawab Revan datar.


Revan tidak terlalu perduli mengenai film apa yang akan mereka tonton yang jelas mereka menghabiskan waktu bersama. Bahkan Revan tidak bertanya mengenai film yang ingin di tonton kekasihnya karena memang dia tidak perduli mengenai itu.


"astaga abang...." Lala merasa gemas dengan kekasihnya ini. Nonton tapi tidak tau yang akan ditonton, bukankah aneh.


Lala menepuk kepalanya pusing dengan tingkah kekasihnya, dia bahkan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya.


" abang, harus pegangan banget ya? Kaya orang mau nyeberang jalan aja" Ucap Lala yang terus merasa aneh.


"abang enggak mau kamu hilang" jawab Revan pendek.


"kan didalam gedung dan kita sudah duduk sekarang" ucap Lala menatap kekasihnya memberi sanggahan.


Revan menjawab dengan senyuman khasnya.


mereka mulai menatap layar utama, tapi film yang muncul adalah film anak-anak setipe Catdog.


Astaga ini tontonan apa


Lala bergumam kecil dan mengedarkan pandangannya. Dan benar saja yang menonton rata-rata anak remaja dan beberapa anak lain dengan orangtuanya.


"Kenapa?, enggak suka filmnya?" berbisik.


Mendengar bisikan kekasihnya Lala menatap tajam seolah bertanya ini apaan. Dan umur kita berapa sekarang sampai tontonan kita yang begituan.


"maaf, lain kali abang akan tanya lebih dulu" ucap Revan lagi.


"Hah......." menghembuskan nafasnya kasar.


"aku cuma perlu tempat dan waktu berdua sama kamu. Karena itu abang tidak perduli masalah tontonan. Maaf ya" ucap Revan lagi membawa tangan Lala yang digenggamnya untuk dikecup.


Lala mencerna maksud kekasihnya dan sepertinya dia mengerti.


Dan mulai merapatkan badannya condong ke kekasihnya bersandar pada lengan kekasihnya.


Mulai menatap layar utama dan mengikuti alur film kanak-kanak yang di pertontonkan.


Dan ternyata tidak seburuk itu, buktinya mereka tertawa berbarengan setelah melihat scan yang menurut mereka lucu.


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


__ADS_2