Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 52 Situasi yang Sama


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Sepeninggal anak-anaknya untuk bekerja bersamaan perginya juga anak dari rekan bisnisnya.


Nonya Fatma meminta suaminya untuk berbicara berdua. Menunjukan bahwa pembahasan mereka agak serius kali ini.


Tuan Ardian mengikuti istrinya, dia tau istrinya akan membahas tentang Laura. tau dari mana?, entahlah yang jelas tuan Ardian merasa pembahasan kali ini ada sangkut pautnya dengan anak rekan bisnisnya itu.


Mereka sudah duduk berdampingan, namun pembicaraan masih belum dimulai.


"ma, mau bicara apa. Papa ada kerjaan loe ini..." tuan Ardian memulai pembicaraan dengan sesekali mengupas kentang rebus yang disediakan pelayan rumah.


Nyonya Fatma menatap suaminya " habisin dulu makannya.." ucapnya melihat suaminya yang masih fokus dengan kentang di tangannya.


" papa ini aneh, baru habis sarapan kok malah makan kentang lagi. Nanti buncit loh...." sambung Nyonya Fatma yang merasa aneh dengan suaminya. Dengan tangannya menjawil perut suaminya yang masih rata di usianya.


Jelas-jelas tadi pas sarapan suaminya itu makan nasi goreng. Masa sekarang makan kentang rebus lagi. Emang enggak kenyang apa?.


Astaga.........


Nyonya Fatma menggelengkan kepalanya tidak habis fikir.


"biasa aja dong ma. Yang disediakan cuma ini ya udah papa makan saja. Lagian sayang ma kentangnya. Mana enak lagi.." ucap Tuan Ardian membela diri dengan santainya.


"lagian papa masih rajin olahraga, jadi masalah perut aman" sambungnya dengan mengunyah kentangnya. Seolah sengaja memancing kekesalan istrinya.


"ishh...., susah banget sih dikasih tau!. Papa sudah tua loe.." nyonya Fatma mengingatkan.


"hahhahahahha...."Tuan Ardian terpingkal sambil memegang perutnya. " justru itu ma, kita harus makan apa yang kita mau selagi masih sehat. Jangan sampai menyesal karena terlalu membatasi diri. Karena itu juga, Papa enggak suka kalau mama atau Riva diet-diet enggak jelas!. Sudah sih nikmatin aja" jelasnya dengan memakan habis kentang yang ada ditangannya.


"anehh...."Nyonya Fatma mendelik.


Setelah menghabiskan kentang ditangannya, Tuan Ardian menepuk-nepukan tangannya membuang sisa kentang yang melekat ditangannya.


Tuan Ardian membetulkan cara duduknya, dan menatap istrinya intens. "mama mau bicara apa?" tanya Tuan Ardian serius dengan nada lembutnya.


"oh iya...,papa sih pembahasannya jadi kemana-mana kan habir aja mama lupa." Nyonya Fatma mengarahkan arah pandang dan posisi duduknya ke arah suaminya.

__ADS_1


"masalah Laura itu loe pa gimana?, Revan terlihat jelas enggak suka. Apalagi papa lihat sendiri gimana Revan terlihat malas sekali sekedar bertegur sapa dengannya." akhirnya pembahasan dimulai.


Nyonya Fatma melihat jelas setiap perubahan sikap pada Putranya setiap Laura kerumah, kekantor atau bahkan tidak sengaja bertemu di manapun.


"mama tau sebenarnya Laura anak yang baik, tapi sikap berlebihan yang muncul setiap berhubungan dengan Revan membuat mama juga was-was pa. Bagaimana kalau Revan tidak bisa dekat dengan perempuan lain karena Laura. Bisa gawat kan?, terus kita kapan punya cucunya?" ungkap Nyonya Fatma prustasi, yang berbanding terbalik dengan perkiraan suaminya.


Tuan Ardian berfikir istrinya ingin membicarakan masalah Laura karena apa?.


Astaga...., rupanya karena cucuk. Ada-ada saja.


Batinnya dengan menggelengkan kepalanya tidak habis fikir.


"mama berlebihan...." Tuan Ardian mengalihkan pandangannya ke layar TV di ruangan tersebut. " Sikap Revan selama ini sudah menjadi pembatas, dan Laura tidak akan bertindak melebihi batas itu" Lanjutnya dengan tenang.


"lagian ya ma, sepertinya Revan sedang dekat dengan seseorang" ungkapnya.


"siapa?" langsung bertanya. " memang sih ada perubahan tapi sedikit " nyonya Fatma bergumam lebih kepada diri sendiri seraya berfikir.


tuan Ardian menatap istrinya, " jadi mama tenang saja. Fokus sama papa saja" ucapnya dengan kerlingan nakal.


"ih si papa, enggak sadar umur" nyonya Fatma bersemu mendengar ucapan suaminya. Tidak lupa keplakan tangan di paha suaminya turut terasa karena merasa gemas dan malu.


"udah sana lanjut saja, bukannya tadi ada yang mau dikerjakan ya?" nyonya Fatma melimpir setelah mengingatkan rencana awal suaminya.


"oh ya, kayanya papa lupa deh. Lagian untuk sekarang main sama mama lebih seru deh" tuan Ardian ikut bangun dan mengejar istrinya.


mereka berjalan bersisihan dengan pembahasan yang terus berlanjut. Seolah lupa dengan kekhawatiran mereka terhadap percintaan anak-anaknya.


...****************...


Disebuah ruangan khusus di restoran yang tidak asing lagi. Tengah duduk tuan muda Revan dengan kedua sahabatnya. Entahlah apa sebabnya kebersamaan mereka terlihat sangat menegangkan. Padahal ini merupaka pertemuan rutin yang mereka lakukan.


Tetap cukup aneh meski terbilang pertemuan rutin, karena pertemuan ini dilakukan disaat tuan muda merasa ada masalah baik itu masalah pribadi dan masalah Jaya Group.


Dimas terus memperhatikan sikap tuan sekaligus sahabatnya ini. Merasa aneh dengan permintaan yang menurutnya tidak biasa.


Bagaimana tidak?, Revan yang biasa meminta makan siang di kantor dengan alasan kerjaan ( padahal lain) tiba-tiba memintanya makan siang diluar.


Dan seingat Dimas mereka tidak punya janji temu dengan siapa pun diluar kantor.


Dan hal lebih gilanya lagi, mereka berada di restoran Dino sekarang. Tempat dimana mereka membahas hal-hal yang berkaitan langsung dengan Jaya Group baik kantor maupun masalah pribadi pemiliknya.

__ADS_1


Dino datang dengan diikuti keryawannya yang langsung mengerjakan tugasnya setelah melihat kode dari bosnnya.


Setelah makanan siap, semua orang menegakkan tubuhnya. Begitupun Revan.


Revan yang meminta es cream di hidangkan diawal, mengambilnya dengan segera. Dan mulai menikmati rasa manis dan lumer pada mulutnya disaat es cream sudah masuk dan mengenai lidahnya.


Dimas makin mengernyitkan dahinya.


Dino juga menunjukan respon yang sama, terlihat terkejut dengan tanda tanya besar.


"Kali ini ada masalah apa lagi?" Dimas memilih bertanya lebih dulu.


Berinisiatif karena menurutnya Revan tidak akan membuka mulut sebelum salah satu dari mereka bertanya. Dan tentu saja orang yang harus pertama kali bertanya selalu Dimas. Entahlah kenapa demikian.


"Dia marah, salah aku juga sih yang tidak melihat situasi bahkan tidak bisa mengendalikan emosi ku" menjelaskan hal mengenai perasaannya yang mengganjal sejak pagi tadi.


Meski Lala sudah tidak terlihat marah lagi, tapi sikapnya masih terlihat dingin menurut Revan.


"Hah........." Revan membuang nafas kasar.


Dino mengernyit dan merasa tidak mengerti dengan pembahasan para sahabatnya saat ini " ini maksudnya apa sih?, Jelaskan dulu kenapa?." Dino tidak sabaran.


Brak


Pintu terbuka dengan kasar, Riva masuk dengan tatapan menyorot pada semua orang yang ada di ruangan itu.


"Syukurlah aku tidak terlambat " ucap Riva santai setelah melihat makanan dimeja belum tersentuh yang tandanya waktu makan belum dimulai.


"Riva duduk di sofa panjang berdekatan dengan Dimas, Dimas yang melihat itu tersenyum samar. Entah kenapa rasa penasaran mengenai masalah tuannya seketika menguap digantikan rasa senang yang menggelitik.


Iya, Dimas memang sesenang itu bila berdekatan dengan nonanya. Entahlah rasanya sulit sekali mengendalikan rasa yang tiba-tiba muncul disaat mereka berdekatan.


Dino yang melihat nonanya makin bertambah heran.


Ini dua bersaudara pada kenapa sih?, Bikin pensaran aja.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2