
🍀
🍀
🍀
"ada yang mama lewatkan..?" mama Fatma bertanya pada putranya seolah memancing putranya untuk menceritakan soal apapun.
" soal apa...?" Revan balik bertanya seraya mendongakkan wajah menghadap sang mama.
Mama fatma terus mengelus rambut putranya namun dengan reaksi berbeda. Tersirat raut tidak senang disaat mendengar jawaban putranya atas pertanyaannya.
"memangnya anak mama ini tidak ingin menceritakan sesuatu. Apa perlu mama sendiri yang cari tahu..?" ucap mama Fatma dengan tangan yang terus mengelus lembut rambut sang putra.
Revan beranjak duduk dan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena sang mama menanyakan soal Lala walaupun tidak secara langsung.
Meski demikian Revan masih ragu untuk menceritakan soal hubungan asmaranya.
"haahahhahahah.....,Sebenarnya ada sih ma. Tapi Revan belum yakin" akhirnya menjawab.
Mama Fatma mengernyitkan kening " kamu tidak yakin dengan perasaan mu?" penasaran mama Fatma.
"Hah....., bukan ma." Revan ragu untuk terbuka walaupun tempatnya bercerita sekarang adalah sang mama.
" Revan ceritanya nanti saja ya ma.." mohon Revan dan hendak mengakhiri percakapan mereka malam ini. " lagian ini sudah malam juga, gimana kalau ayah cari mama....?" Revan menambahkan.
"terserah kamu saja, tapi kalau sampai mama tau lebih dulu dari orang lain, mama pasti akan sangat kecewa.." mama Fatma menunjukan keahliannya kali ini.
Revan memainkan tangan mamanya dengan pandangan menunduk kearah bawah " ya.., mama jangan cari tau dulu. Sampai Revan yakin dan menceritakan semuanya. Revan takut tidak bisa terus menggenggam tangannya lebih lama. Karena itu, tunggu sampai Revan memastikan kalau tangan itu hanya bisa di genggam oleh Revan. Revan mencoba menjelaskan maksudnya.
Bukannya tidak ingin terbuka pada sang mama, hanya saja Revan tidak ingin orangtuanya terlalu berharap pada hubungannya.
"Dia tidak menyukai mu?" sepertinya mama Fatma belum menyerah untuk mengorek informasi mengenai hubungan percintaan putranya.
"entahlah, mungkin hanya belum yakin saja" jawab Revan tanpa sadar sudah membuka jalan untuk mama Fatma.
"Hah....." mama Fatma menghembuskan nafasnya kasar. Mama Fatma seolah mendapat celah dari jawaban putranya namun enggak memperpanjang. Mama Fatma tidak ingin putranya merasa terdesak dan tidak nyaman.
"mau mama kasih saran...?" mama Fatma menatap netra putranya dengan Revan yang menatap balik.
"saran apa ma..." meski tidak yakin namun Revan terlihat penasaran. Tidak salah bukan?, toh yang akan memberi saran mamanya langsung.
"sebelum itu, mama mau mengingatkan kamu, Disaat jatuh cinta kamu cenderung dominan. Dan itu tidak bagus sayang. wanita akan merasa terdesak dan tidak nyaman. Karena itu sebelum mengatakan cinta, kamu harus bisa mengambil hatinya terlebih dulu." Mama Fatma menjelaskan dan Revan mendengarkan dengan seksama.
"caranya...?" masih bingung
" senyamannya kamu, kamu menunjukan cinta seperti apa?. Tapi ingat jangan terlalu mendesak. Sisakan sedikit ruang untuk wanita memikirkan soal perasaannya. Ambil hatinya dengan cara yang manis, yang membuat dia sulit melupakannya atau bahkan buat dia tidak bisa tidur karena tindakan manis mu." mama Fatma semangat sekali memberi saran. Seolah membayangkan dialah yang tengah menjalaninya.
"tapi itu bukan Revan banget ma..." merasa tidak cocok dengan image nya.
__ADS_1
"hmmmmm..., justru itu. Dia akan semakin sulit melupakan mu." tidak mau menyerah.
"kalau gagal..." mencari perbandingan cara.
"baru pakai cara terakhir..." jawab Mama Fatma santai dengan sorot mata nakalnya.
Revan mengernyit tidak mengerti. Dan seolah merasa takjub dengan semua pemikiran sang mama.
...****************...
Denting sendok dan garpu terdengar sangat seirama pagi ini. Sesekali mama Fatma melihat raut wajah putra putrinya.
Masih merasa lucu dengan semua pembahasan yang di lakukannya dengan sang putra. Meski pun disaat masuk kamar suaminya terlihat sedikit kesal tapi tidak masalah yang pasti mama Fatma senang bisa sedikit saja membantu sang anak.
"Van....!" suara dari sang ayah memecah kesunyian di meja makan.
Revan mendongak ke arah sang ayah yang memanggil " kenapa yah...?" selalu di awali dengan pertanyaan.
Seolah mewaspadai apapun yang akan dikatakan sang ayah.
" Radit gimana?, apa ada masalah...?" tuan Ardian mulai bertanya di tengah makannya.
"yah...." Riva tidak suka dengan pertanyaan sang ayah.
" sejauh ini baik kok yah.." Revan menjawab santai dengan kembali fokus dengan nasi gorengnya.
Riva yang melihat adiknya menjawab dengan santai merasa lega. Itu artinya sepupunya itu tidak membuat masalah setidaknya belum untuk saat ini.
Riva terkejut kenapa dia?." saya yah...?" Riva khawatir apa masalah kemarin di butik di ketetahui semua kekuarganya.
"iya kamu..., apa masalahnya sudah selesai?" bertanya lagi karena merasa aneh dengan keterkejutan sang putri.
" kamu bisa bantu adik mu di kantor atau kantor cabang yang lain terserah kamu itupun kalau.... Di Butik terlalu melelahkan!" memberi saran sekaligus mengumumkan bahwa apapun yang terjadi pasti ayahnya tau.
Riva menunduk " sejauh ini masih aman kok yah. Lagian Riva takut salah aja kalau bantu di kantor. Di Butik saja sudah ada salahnya..." memilih mengaku. Mama Fatma dan Revan mengalihkan tatapannya pada Riva.
"kakak kurang terbuka saja, paling tidak cerita sama mama. Tidak ada yang akan meremehkan karena itu masih masuk dalam kategori belajar. Dan kalau pun mama tidak membantu paling tidak minta saran enggak harus sama mama juga sih. Sama Revan dan ayah juga. Jangan terlalu terbuka dengan orang luar, takutnya mereka perduli didepan namun malah mencemooh di belakang" nasehat Revan pagi ini.
"iya...." jawab Riva malas. Bagaimana bisa adiknya bersikap layaknya dia sang kakak.
Aihhh menyebalkan.
"lagian masalahnya sepele aja dan syukurnya sudah beres " jawab Riva lagi.
" bukan masalah besar kecilnya masalah sayang.." kali ini sang ayah menambahkan.
"iya yah..." menjawab pelan.
" Revan langsung berangkat " seraya mengakhiri sarapannya dan bangkit dari duduknya " mau bareng enggak?" bertanya pada sang kakak.
__ADS_1
"duluan aja..., males di ajak singgah- singgah soalnya" menyindir.
Ayah dan mamanya menatap Revan seolah menanyakan maksud putrinya. Namun Revan memilih diam dan meranjak pergi dengan santai.
Menyalami orangtuanya dan berangkat. Merasa sedikit kesal dengan ucapan sang kakak.
Revan mengemudikan mobilnya dengan santai bersyukur pagi ini jalanan agak lenggang.
Revan terus berfikir cara yang tepat menurut mamanya malam tadi. Revan sadar disaat jatuh cinta dia cenderung dominan dan berlebihan. Bisa jadi itu menjadi alasan utama wanitanya tidak nyaman.
Apa dia harus memulai dengan sedikit cuek, tapi rasanya tidak akan berhasil pada hubungannya sekarang ini. Wanitanya terlalu kaku dan cenderung was-was dalam hubungan ini.
tin tin tin
Tidak terasa perjalan memakan waktu 40 menit sudah membawa Revan ke tempat sang kekasih.
Revan menundukan pandangannya kearah pintu mobil dimana sang kekasih akan masuk dari sana.
"pagi..." Revan menyapa kekasihnya. Meski belum menemukan cara yang tepat namun Revan memilih bersikap seperti biasanya.
"pagi bang..." Lala membalas tidak kalah manisnya. Sepertinya Lala sudah mulai terbiasa dengan sikap manis kekasihnya.
Revan melajutkan mobilnya meninggalkan gang dimana kos sang kekasih berada, setelah memastikan kekasihnya sudah siap.
"Bang...." Lala memanggil
"ehm.." menjawab singkat dengan netra fokus pada jalan.
"pulang nanti, Lala pulang sendiri ya...." meminta hal yang biasanya dia lakukan dengan bebas.
Revan menatap sejenak ke arah kekasihnya " kenapa..?" merasa aneh sendiri.
"pulang nanti Lala mau mampir ke supermarket ada hal yang perlu Lala refil lagi dirumah" Lala menjawab pasti karena memang ini sudah masuk waktu dia belanja untuk keperluannya.
"ngapain....?" masih penasaran.
"beli-beli aja. Lagian ini sudah waktunya Lala belanja bulanan" jelasnya dengan senyum manis. Berharap dapat ijin.
Entah kenapa Lala perlu ijin untuk sekedar ke supermarket, yang jelas dia tidak ingin apapun yang dia lakukan menjadi masalah.
"iya, perlu sopir?. Nanti biar abang minta sopir kantor yang ngantar. Lagian pasti repot banget bawa barang-barangnya " ucap Revan memberi saran yang seperti perintah.
Revan memilih mengalah tidak ingin terlalu mengekang. Toh kekasihnya sudah ijin dan jelas kemana dia akan pergi.
Lala merasa heran, biasanya kekasihnya akan bersikeras mengikutinya sangat berbeda dengan yang sekarang.
meski begitu Lala merasa sangat senang " makasih abang.." mengulas senyum manisnya.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀