Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 76 Ibu dan Anak


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Melupakan rasa gundah yang dirasakan Dimas sahabatnya. Saat ini Revan tengah tersenyum lebar meminta wanitanya untuk masuk ke dalam kos.


Hari ini sangat istimewa menurut Revan, meski paginya harus kusut karena permasalah sahabatnya. Dia tetap merasa bahagia, bisa menghabiskan waktu dengan wanitanya lagi dan membuat mood nya yang tadinya jelek kembali bagus dan dapat menyelesaikan semua pekerjaan dengan tepat waktu.


Tidak memilih singgah karena mengingat harus segera pulang. Ada hal yang harus dia pastikan tentang ucapan sahabatnya.


Disinilah Revan duduk santai di Gazebo belakang rumah bersama mamanya. Revan memilih tempat diluar rumah karena dirasa tempat ini adalah tempat paling aman dirumahnya.


Revan masih tidak mau ayah atau kakaknya mendengar pembicaraan mereka.


Iya, Revan berencana untuk memastikan semua ucapan Dimas pada mamanya.


" ada masalah lagi...?" merasa aneh karena tidak biasanya putranya memintanya ketempat ini. terlebih setelah melihat raut wajah putranya.


"mama jodohin kak Riva?" tanya Revan langsung. " mama yakin..?" Bertanya lagi.


" Riva yang bilang..?" balik bertanya.


"astaga ma, Revan serius..!, mama yakin soal ini...?" balik bertanya lagi. seolah tidak mau kalah.


"iya" akhirnya menjawab "tapi mama tidak menjodohkan, mama hanya mengenalkan anaknya teman mama. Ingat Ti_dak men_jodoh_kan..!" ulang Mama Fatma memperjelas ucapannya.


"ya untuk apa ma...?" Revan mulai menunjukan ke tidak sukaanya.


"loh kok untuk apa?, ea biar kakak kamu kenal cowok. Dan kalau cocok, kenapa tidak?. Lagian mama kan sudah bilang usia kalian sudah siap untuk menikah. enggak baik ditunda terus..!" menjelaskan sesuai fakta.


"lagian ya, enggak semua pasangan baru itu kaya mantan kalian, yang tukang selingkuh" telak mama Fatma membungkam putranya.


"dan kamu juga, kalau sudah klik sama yang sekarang langsung nikah aja. Apalagi yang ditunggu coba?. Mau cinta-cintaan, entar aja kalau sudah sah" mulai menyudutkan.


"Hahhhh, kenapa malah kemana-mana sih ma..!" melengos tidak suka.


"loh memang benarkan?, siapa tau kalau kamu nikah, punya anak. Mama tidak akan gencar lagi mengenalkan kalian dengan anak teman mama"


Revan terdiam, merasa apa yang diucapkan mamanya sepenuhnya benar.


Baru juga baikan. Masa ngajak nikah aja. Kalau Lisa belum siap terus ngambek lagi gimana?


ada-ada saja.

__ADS_1


"sekarang apa?" mama Fatma balik bertanya


"apanya..?"


" kelanjutan hubungan kalian, apalagi memang!"


"biasa aja." jawabnya santai.


"ma, Revan tidak suka ya mama menjodohkan aku atau Kak Riva. Aneh tau enggak. Kaya enggak laku aja.." kembali ke mode sewot


"memang enggak laku kok. Buktinya kalian enggak nikah-nikah." gumam mama Fatma pelan.


"maaaa...!" tidak suka dengan jawaban santai sang mama.


"hahhhahaha" menghentikan tawanya " memangnya kenapa sih. Toh kakak kamu santai aja ini.." baru sadar kalau sikap putranya sedikit aneh.


"Hahhh..." menghela nafas kasar " mama enggak ngerti.." ucapnya


"iya makanya, buat ngerti dong. Jangan bisanya nyalahin aja, tapi giliran ditanya malah diam".tidak suka


"Dimas ma...." ragu


mengerutkan dahi" kenapa sama dia?. Apa mau mama kenalkan dengan anak teman arisan mama juga " ucapnya meski kurang yakin.


"Dimas suka kak Riva ma" beritahu Revan. Dia akan meminta maaf nantinya pada sahabat merangkap sekertarisnya itu. Minta maaf karena sudah mengatakan hal ini pada sang mama.


"kamu serius" ulang mama Fatma.


"sangat ma. Bahkan jauh sebelum kak Riva mengenal cinta sampai akhirnya patah hati" jelas Revan.


" tapi dia terlihat biasa saja" gumamnya mama Fatma pelan.


Karena memang benar adanya. Dimas bahkan tidak pernah menunjukan ketertarikannya atau mungkin hanya mereka yang melihat biasa saja.


"biasa apanya?. Orang aneh gitu setiap ketemu kak Riva" ungkap Revan merasa tidak setuju dengan ucapan sang mama.


"aneh apanya?" Riva tiba-tiba nimrung dipembahasan yang seharusnya dia belum terlibat.


Mama Fatma dan Revan terkejut melihat siapa yang bertanya. Dan Revan merasa khawatir kalau-kalau kakaknya mendengar apa yang tengah ia dan sang mama bahas.


Sebenarnya tidak masalah hanya saja waktunya kurang pas.


"apanya?" Revan bertanya kembali. Mencoba menerka sampai mana kakaknya mendengar apa yang tengah mereka bahas.


"ihh enggak asik. Perasaan tadi keliatan seru gitu." Riva mencebik.

__ADS_1


"hanya masalah Dimas sayang. Jadi tenang saja" mama Fatma menenangkan." sudahlah kita bahas yang lain saja. yang le_bih se_ru..." lanjutnya.


"tapi jangan masalah kerjaan loe ya. Riva males, Riva mau santai kalau sedang dirumah" jelas Riva.


Revan menggelengkan kepalanya, meski pekerjaan setiap orang mempunyai bobot kesulitannya masing-masing. Tapi menurut Revan kakaknya terlalu berlebihan.


apalagi kalau dibandingkan dengan pekerjaannya di Jaya Group.


" bagaimana dengan anak teman mama kemarin?" mama Fatma serius bertanya


Revan ikut memusatkan pendengarannya walaupun matanya memandang hamparan kolam ikan didepannya sekarang ini.


" lumayan..." jawabnya singkat. membuat mama dan Revan menatap tajam kearahnya. seolah berkata jawaban jenis apa itu.


Riva tertawa lepas melihat reaksi mama dan adiknya. dia tau kalau mereka penasaran dengan pendapatnya tapi dia menyukai rekasi natural ini.


seolah baru tersadar, Riva terkejut dan menghentikan tawanya " kamu tau kalau mama ngenalin orang ke kakak?" curiga untung Revan cepat bereaksi biasa saja.


"mama yang bilang..." jawabnya enteng. dan mama Fatma hanya mendesah pelan karena menjadi kambing hitam putranya.


"oh..." jawabnya pendek seolah mengisyaratkan kelegaan


"terus gimana?" tanya Revan ulang


Riva terlihat santai dan enggan menjawab rasa penasaran sang adik.


"Hah..., "Revan menghela nafas." pastikan dulu jangan asal pilih. apalagi milihnya karena mama!" mengingatkan


"lumayan lah, tidak ada salahnya kan kalau dicoba.."


"serius.., jangan buat coba-coba. entar patah hati repot lagi" Revan sewot sendiri.


"hisss..., kakak bukan kamu ya, enak saja!" merasa kesal dengan ucapan sang adik. walaupun dia paham maksud adiknya berbicara begitu. apalagi kalau bukan karena khawatir padanya.


Mereka melanjutkan pembahasannya sampai rasa kantuk datang melanda. sebagai tanda waktu istirahat telah tiba.


mereka serempak masuk rumah dan berpisah disaat akan masuk ke kamar masing-masing.


maaf Dim, gue belum bisa memastikan perasaan kak Riva. huh....


jangan menyerah Van, Dimas saja tidak menyerah terhadap mu. jadi mari kita selesaikan sampai tuntas.


gumam Revan sambil mengepalkan tangannya keudara. sebelum dia masuk kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


__ADS_2