
🍀
🍀
🍀
Dimas masih duduk manis di ruang makan, seolah sulit untuk mengangkat badannya.
Tersenyum samar dengan jawaban nona nya yang berarti dia tidak keberatan berhubungan dengan orang yang status sosialnya lebih rendah darinya.
" ahahaha, maksud kamu, aku pacaran dengan staf aku gitu. astaga aku bahkan tidak tau apa aku dia anggap perempuan atau mungkin dia enggak doyan perempuan."
"tapi boleh juga sih di coba, toh banyak juga orang selain melambai itu yang ada disekitar kakak bukan?"
"hmmmm, sepertinya aku memang harus mencobanya!"
Iya jawaban nona nya Dimas anggap sebagai jawaban kalau dia yang orang biasa kemungkinan masih punya harapan untuk melanjutkan rasanya.
Revan terdiam di ujung tangga menatap kearah sahabatnya yang terlihat senyum sendiri.
apa dia berhasil menggunakan waktu yang aku berikan.
Revan hanya menggelengkan kepalanya sambil memutuskan untuk lebih mendekat.
"ayo!" mengagetkan
Dimas menatap Revan dengan kesal. bagaimana tidak, dia tengah berdamai dengan hatinya malah dikejutkan.
"atau lo pulang aja!" melihat cara Dimas melihatnya membuat Revan ingin tertawa lepas.
"lagian gue mau telponan juga, gimana?" membuat Dimas makin kesal dan beranjak dari duduk manisnya.
Terpaksa Dimas mengekori Revan keruang kerjanya, toh memang ini juga rencana awalnya bukan.
Revan lebih dulu duduk di sofa dengan Dimas yang mengikuti.
Revan menaikkan dagunya seolah bertanya sekarang apa lagi?.
" masalah Nona Riva setelah tadi kita ngobrol sebentar, aku simpulkan dia tidak masalah memiliki hubungan dengan orang biasa" menjeda ucapannya
Dan Revan masih menunggu titik permasalahan yang akan disampaikan sahabatnya.
__ADS_1
"hmmmm, apa itu artinya gue punya kesempatan?" Revan mengernyit mendengar ucapan sahabatnya.
" Kalau gue masuk apa..." Terpotong setelah melihat Revan menghela nafas.
" Hah..., masalah ello disini" membetulkan cara duduk santainya. " ello, ah kamu yang tidak pernah memiliki keberanian mendekati kak Riva. karena alasan rendah diri atau apa tadi?, orang biasa" menghela nafas lagi " ingat!, praduga mu membuatmu mati gaya dan tidak bertindak sejak lama. aku tekankan lagi kami bukan keluarga yang membeda-bedakan status orang!" menjelaskan dengan kesal.
Bagaimana bisa sahabatnya ini bicara omong kosong seperti itu. seharusnya dia lebih paham dari siapa pun. karena memang selalu bersamanya sejak lama.
Dimas sadar dan menunduk, paham betul maksud sahabatnya. intinya permasalahan hidupnya karena rasa rendah dirinya. dan sepertinya dia menyinggung sahabatnya.
tapi wajar bukan?, Dimas merasakan hal itu.
keluarganya sudah lama melayani keluarga Jaya Group dan dengan tidak tau dirinya dia menyukai Putri tertua mereka.
Rumit, dan kau tidak paham Van.
"terus sekarang gimana?" bertanya untuk memastikan.
" aku tidak yakin, dan mungkin akan menyerah..." jawab Dimas akhirnya.
rasa ragu lebih dominan membuatnya takut untuk melangkah, walaupun dia tau nona nya tidak pernah memandang status orang lain. tapi tetap saja dia khawatir.
"Baiklah" menghela nafas. Revan menyayangkan keputusan akhir sahabatnya karena jujur dia berharap kakaknya mendapatkan laki-laki yang tulus mencintainya seperti Dimas.
"kita tidak akan membahas soal itu lagi. soal apapun tentang itu. ingat!" ultimatum Revan menunjuk ke arah sekertaris merangkap sahabatnya itu.
"Dimas makin tertunduk, tidak yakin apakah dia bisa melupakan kakak dari sahabatnya ini. tapi merasa tidak pantas jika harus mengakui masalah hatinya. apalagi membayangkan respon dari wanita yang di cintainya.
huh, aku tidak sanggup. mungkin memang sudah takdir ku hanya bisa mencintai dalam diam.
Dimas bahkan mengingat disaat dia tersenyum samar saat mendengar wanita yang ditaksirnya tidak mempermasalah status saat berbicara tadi.
Ditodong langsung membuat Dimas menciut, seolah semangat yang sempat hinggap hilang tak tersisa.
"Aku mencintainya Van, sungguh!. tapi..." Ragu untuk melanjutkan.
Revan memicingkan matanya tajam, seolah menilik kesungguhan dari ucapan sahabatnya dan menunggu kelanjutan ucapan sahabatnya
Wajar Kalau Dimas takut. karena dia tidak hanya berhadapan dengan kakaknya, melainkan seluruh keluarga besar bahkan orangtua Dimas sekalipun.
"kalau kau ragu, Lupakan. bukankah kau pernah mengatakan itu!. Dan sekarang kalau yang ingin lo bahas cuma itu. kita cukupkan. sebaiknya lo pulang!" Revan beranjak dari duduknya. berpindah ke kursi kerjanya. mulai membuka map yang sama sekali tidak dibacanya.
__ADS_1
Dimas menghela nafas kasar, seolah menghabiskan semua ganjalan dalam rongga dadanya.
"Beri aku alasan untuk memperjuangkan perasaan ini" Dimas ragu lagi.
Ragu untuk berhenti dan bahkan untuk memulai. Rasa rendah diri itu memang harus dikalahkan dan Dimas memerlukan alasan yang kuat.
"cih...." tidak suka. tidak sadar kalau dulu dengan Lala dia pun bersikap sama persis.
"untuk apa?, lo tidak perlu alasan apapun. karena disaat lo memulai maka alasan itu akan dengan sendirinya muncul." memberitahu sekaligus malas membahas hal yang pernah dipertanyakan nya. Dan itu adalah hal terbodoh yang pernah dia lakukan.
"lo menggunakan alasan apa saat itu.?" bertanya pelan. membuat orang yang ditanya kesal.
"Bodoh...., apa hubungannya. apa lo memilih menggunakan alasan yang sama?" makin terdengar tidak suka.
"kalau memang bisa, kenapa tidak?" jawab Dimas pasti dengan santainya. tidak perduli dengan perubahan mood sahabatnya.
"Sebenarnya lo mau apa sih?" mulai tidak suka.
"mau nona Riva apalagi memang" jawabnya enteng. seolah lupa kalau tadi dia sudah mengucapkan kata menyerah.
Entah kenapa perasaan itu seolah berkobar kembali. disaat dia mencoba mengalah namun hatinya yang terlanjur terikat membuatnya kembali ke rasa yang sama.
Revan menatap tajam sahabatnya." Lo tau, saat ini gue malas meladeni sikap labil lo. jangan main-main!. ingat!." menutup map yang tadi dibukanya dengan keras.
menatap kearah jam dinding di ruangannya. mengatakan kalau waktumu sudah habis.
"Baiklah, gue akan pikir ulang dan membuat jawaban pastinya." Dimas mengalah membuat Revan kembali menatapnya tajam.
"pulanglah Dim sebelum bogem gue sampai ke wajah tengil lo itu!" merasa malas meladeni.
Entah kenapa Revan kesal dan senang secara bersamaan. pembahasan gila ini hanya membuatnya naik darah. tapi dia menyukainya.
Revan menyukai sikap terbuka sahabatnya tapi menyayangkan sikap tidak percaya dirinya.
Hah Rumit......
🍀
🍀
🍀
__ADS_1