
🍀
🍀
🍀
Perputaran waktu terasa sangat cepat berlalu. Bahkan waktu seolah tidak memberi jeda barang sedikit pun, suasana ramai gedung pusat Jaya Group mulai kembali bergeliat setelah libur weekend membuat semua yang terlibat didalamnya harus siap berperang kembali dengan semua jenis tanggungjawab nya.
Tidak terkecuali untuk CEO seperti Tuan Muda Revan, meski terbilang pemilik Revan juga harus kembali bergelut dengan kumpulan pekerjaan yang seolah menari menyambutnya.
Orang yang mengatakan hari senin adalah hari terburuk, mungkin bisa dikatakan benar untuk tuan muda Revan saat ini.
Tanggungjawab yang dia emban membuatnya mau tidak mau harus tetap kembali bekerja seperti hari-hari biasanya. Biasanya Revan akan senang menyambut hari kerja karena alasan tertentu, tapi sepertinya tidak untuk hari ini.
Moodnya tampak sangat buruk membuat Dimas sekertaris nya bersikap waspada. salah sedikit saja maka Dimas harus bersiap bekerja dua kali lipat untuk membereskan pekerjaan tuannya.
Ting
Lift terbuka, dan pandangan Revan menjurus ke depan disaat lift terbuka. tapi sayangnya dia makin kecewa karena tidak melihat staf merangkap kekasihnya disana.
Huh, apa dia belum datang. bagaimana bisa dihari sibuk seperti ini dia belum datang.
batinnya seraya menatap jam mahal yang melingkar dipergelangan tangannya.
Untuk sejenak Revan terlihat makin datar, namun disaat akan melewati meja staf dimana kekasihnya selalu menyambutnya dengan senyum dan sapaan ramah Revan seolah tersadar membuat langkahnya terhenti seketika.
Apa dia menungguku. makanya sampai jam segini belum datang juga.
batinnya kembali terasa tidak nyaman. bukan karena kesal melainkan rasa khawatir yang mulai hinggap.
Sementara Dimas yang terus mengikuti langkah tuannya ikut berhenti disaat Revan menghentikan langkahnya Dan seperti nya Dimas mengerti kekhawatiran tuannya setelah melihat apa yang terus di tatap sang tuan.
" Nona sudah datang tuan" menyadarkan Revan agar berhenti khawatir.
Revan yang mendengar itu, berbalik dan mengernyitkan dahinya seolah berkata tau dari mana loe.
Lagi-lagi Dimas yang seolah paham maksud tuannya, menunjuk tas Lala yang tersampir di kursi.
__ADS_1
Setelah melihat arah yang ditunjuk Dimas, Revan kembali melanjutkan langkah keruangan dimana kursi kebesarannya berada dengan perasaan lega.
Revan duduk di kursi kerjanya dengan Dimas yang mulai membacakan jadwalnya hari ini. Dimas memang selalu mendapat update jadwal Revan melalui Lala selaku staf utama.
Lala biasanya mengirim jadwal dan file lainnya melalui email pada pagi harinya. disaat semua orang belum mulai berkerja Lala sudah mengirim pekerjaannya ke sekertaris Dimas untuk dibacakan. entah kapan Lala menyiapkan semuanya, hanya dia yang tau dan Dimas tidak sepenasaran itu untuk bertanya.
"Ada masalah?"Kembali ke mode sahabat setelah tugasnya pagi ini selesai.
Revan mengangkat pandangan dari berkas yang tengah dipelajari nya kearah Dimas. Meski hanya sebentar saja. karena sepertinya Revan masih enggan untuk membahas soal dirinya.
"kamu ketemu Kak Riva?" bertanya untuk sekedar memastikan dan mengalihkan topik bahasan. Revan juga baru ingat sekarang untuk bertanya masalah ini. maklum Weekend nya cukup sibuk menurutnya.
Dimas tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. tidak menyangka kalau nona Riva akan menceritakan soal pertemuannya malam itu. Dan mengingat Revan bertanya dengan mengatakan aku kamu itu artinya Revan bertanya dalam mode serius.
"Tidak sengaja. kebetulan aku memang sedang makan di restoran itu"jawab Dimas seadanya.
"Kebetulan?" tanya Revan sarkas.
"iya, hanya kebetulan. dan aku menggiring nona Riva pulang" menjelaskan kembali.
"Hah.." menghembuskan nafas kasar seraya melepaskan dokumen yang tengah dipelajarinya.
(Kayanya semua yang baca juga🤣🤣).
"Kalau semua setuju, maka hubungan kalian akan lebih mudan dan berlanjut. atau bahkan kalian segera menikah agar aku juga bisa menikah lebih cepat." sambung Revan.
"Kamu tau, Lisa mulai terlihat aneh. ah atau memang dia selalu aneh, dan aku harus menikahinya untuk memastikan dia tidak melakukan hal diluar dugaan ku.." sambungnya lagi.
Dimas melongo mendengar semua curhatan tuan merangkap sahabatnya ini. Dia yang mau menikah kenapa Dimas yang harus direpotkan. sungguh terlalu.
"aku baik-baik saja. dan lagi..." apapun yang akan diucapkan Dimas terpotong setelah dia melihat tatapan tajam sahabatnya.
"aku yang tidak baik-baik saja. pokoknya kamu diam saja dan terima hasilnya!" tidak ingin dibantah.
Dimas pasrah menerima keputusan sahabatnya. memang untuk beberapa hal sahabatnya ini tidak bisa dibantah meski itu mengenai masalah pribadinya.
"Baiklah. kalau tidak ada lagi aku kembali keruangan ku" Dimas memilih kembali melanjutkan pekerjaan dari pada harus meladeni kekesalan sahabatnya.
__ADS_1
"hmmm..."
" minta Lisa keruangan ku" ucap Revan menghentikan langkah Dimas di saat akan membuka pintu keluar. Dengan cepat Dimas membalikkan badannya.
" Mau ngapain?, selesaikan dulu kerjaan mu baru Panggil-panggil!" ucap Dimas spontan. membuat Revan mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Dimas. Dan Dimas merasa ngeri karena sudah memancing huru hara pagi ini.
Sebelum Revan melanjutkan kata-katanya Dimas sudah lebih dulu keluar dan menutup pintu dengan cepat. berusaha menghalau suara atau makian Sahabatnya karena sikap kurang ajarnya.
Meski merasa ngeri dengan tindakannya Dimas masih bisa tertawa lepas seolah mentertawakan sikap beraninya yang tumben-tumbenan.
Mendengar suara pintu ditutup cepat Lala mengangkat kepalanya dan menatap heran kearah sekertaris Dimas.
Dimas menyadari tatapan aneh staf merangkap kekasih sahabatnya itu. tapi dia memilih tidak perduli. sementara Lala tetap melihat kearah sekertaris Dimas yang terus melangkah menuju ruangannya.
merasa terusik Dimas membalikkan badannya menatap Lala disaat akan membuka pintu ruangannya.
" Pastikan kamu tidak menemuinya sekalipun tuan Revan memanggil. kecuali, bersama saya. mengerti!" Berucap dengan serius membuat Lala dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Bagus" ucap Dimas melihat stafnya mengerti. Kalau sampai Revan tau dia bersikap kurang ajar pada kekasihnya maka habislah. tapi Dimas merasa benar kali ini, toh dia melakukannya supaya jadwal hari ini berjalan sebagaimana mestinya.
Disaat sekertaris Dimas sudah masuk ruangannya Lala menggelengkan kepalanya tidak habis pikir
Aneh
Batinnya dengan pandangan mengarah keruangan utama dilantai itu, dimana kekasihnya berada.
Kangen abang
kembali membatin. berharap dia bisa seterbuka ini dalam mengungkapkan perasaannya. tapi entah kenapa terasa sulit.
Lala seolah kehabisan ide walau hanya untuk mengungkapkan kata kangen secara langsung.
Maaf abang Lala malu.
membatin lagi. seraya fokusnya kembali ke pekerjaannya.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀