
Setelah makan siang Revan dan Lala melanjutkan pekerjaannya.
Lala mulai terbiasa bekerja dengan duduk dekat dengan tuannya.
seperti sekarang ini, Lala menyelesaikan pekerjaannya disaat tuan Revan tepat berada di depannya.
Lala merasa kalau dia sedikit aman soalnya sampai sejauh ini tuan Revan tidak menunjukkan sikap yang membuatnya takut.
ditengah keseriusan bekerja, sesekali Revan melirik stafnya, memastikan stafnya merasa nyaman dengan situasi ini.
iya, rencananya Revan akan membuat Lala merasa aman terlebih dahulu. setelah itu baru menunjukkan soal perasaannya.
huh....., tahan Van pastikan rasa nyamannya dulu baru pastikan rasa lainnya.
Revan mensugesti diri. karena yang disesalkannya matanya tidak bisa bohong dan bersabar. Revan selalu mencoba mencuri pandang.
seperti bukan dirinya saja.
"pekerjaan mu masih banyak?" memulai pembicaraan yang baru.
"sedikit lagi tuan" jawab lala pendek.
"kamu tau, alasan saya meminta mu bekerja berdampingan seperti sekarang ini?"
Lala terkejut, akhirnya pertanyaan ini keluar juga. dan dia berharap mendapatkan jawabannya hari ini.
"memangnya kenapa tuan?" kali ini Lala menatap langsung tuannya. menanti jawaban apa yang akan disampaikan tuannya.
"tadinya aku akan memberitahu disaat memastikan kau benar-benar nyaman disaat bersama ku."mengubah cara bicaranya.
Lala mengernyit menunggu kelanjutannya.
"tapi...., keliatannya kau tipe orang yang susah menerima orang baru. karena itu akan aku jelaskan sekarang mengapanya..." Revan memantapkan hatinya
entah reaksi apa yang akan diberikan disaat stafnya mendengar penjelasannya hari ini.
__ADS_1
Lala masih memilih diam dan menunggu sampai penjelasannya selesai.
"aku nyaman bersama mu......." ucap Revan terhenti. dan menarik nafasnya pelan.
Lala masih memilih diam.
"dan.....sepertinya aku menyukai mu" lanjut Revan pasti, dengan pandangan tidak lepas dari orang didepannya.
Lala tentu saja terkejut, bagaimana mungkin, kenapa dan apa alasannya. pertanyaan itu ingin segera dia tanyakan tapi melihat tuannya ingin melanjutkan penjelasannya dia memilih tetap diam.
"kalau kamu tanya alasan, aku sama sekali tidak tau. yang aku rasa saat ini hanya merasa nyaman disaat bersama mu." lanjut Revan dengan keseriusannya.
Disaat Lala akan menjawab, terdengar pintu yang diketuk.
tok tok tok
mereka mengalihkan pandangan kearah pintu disaat mendengar pintu diketuk.
Revan merasa kecewa karena pembicararaan mereka terjeda. tapi mengingat perasaannya saat ini tidak karuan lantaran sudah dinyatakan membuat Revan memutuskan untuk sedikit lebih sabar lagi.
" kembali ke meja kerja mu, sebentar lagi jam pulang kerja" Revan berbicara pada Lala yang masih menatap kearah pintu.
"kembali kemeja kerja mu!" ulang Revan
Lala sedikit bersyukur disaat tuannya tidak menuntut jawaban atas pernyataannya tadi. setidaknya dia masih bisa berfikirkan.
"baik tuan" Lala beranjak dan pergi, dia membuka pintu bertepatan dengan Dimas yang masih berdiri di depan pintu.
"permisi pak" ucap Lala menundukkan badannya sedikit.
"iy-a......" Dimas terus melihat staf istimewa sahabatnya.
Dimas memilih masuk keruangan, setelah mengingat tujuannya mendatangi ruangan sahabatnya itu.
Dimas mendekat ke arah meja kerja sahabatnya.
__ADS_1
"sepertinya ada kemajuan.." Dimas memainkan alisnya seraya meletakkan dokumen yang dia bawa untuk di tandatangani oleh sahabatnya itu.
"makin kurang ajar loe ya.." kesal Revan namun tak urung dia mulai membuka dokumen yang dibawa sahabatnya.
Dimas tersenyum melihat kekesalan sahabatnya setelah mendengar godaannya.
"apa aku mengganggu kalian?" tanyanya lagi.
Revan mentap tajam sahabatnya, yang artinya kau memang sangat mrngganggu.
"ahhahahhhahah...." Dimas terpingkal. " maaf kawan, perasaan mu memang penting tapi dokumen itu " menunjuk dokumen yang tadi dia sodorkan. " jauh lebih penting" ucap Dimas menyelesaikan kata-katanya.
Revan selesai mengecek dokumen itu dan membubuhi tanda tangannya tanda setuju.
menggeser dokumen itu kearah sahabatnya, dengan mata mendelik.
"baiklah kalau sudah selesai" Dimas meraih dokumen yang tadi disodorkan. dan memutar tubuhnya untuk kembali keruangannya, melajutkan pekerjaan yang tersisa dan setelah itu pulang.
baru beberapa langkan beranjak, suara tuan sekaligus sahabatnya menghentikan pergerakan Dimas.
"aku sudah mengatakannya" ucap Revan pelan namun masih terdengar jelas oleh Dimas.
Dimas berbalik dengan cepat setelah mendengar pengakuan sahabatnya.
"sungguh...?" ucapnya meyakinkan diri.
"hah......." Revan menghela nafas dan bersadar pada sandaran kursi.
melihat sikap sahabatnya, Dimas memilih diam menanti kelanjutan ceritannya karena dia sadar kali ini pendapatnya belum sepenuhnya diperlukan.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
🍀