Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 16


__ADS_3

Ditengah perdebatan kakak beradik tersebut, terdengar suara pintu di ketuk.


serentak mereka melihat kearah pintu yang terbuka.


"maaf tuan saya mengganggu" suara Dimas terdengar.


entah kenapa Dimas merasa sungkan, namun dia harus tetap masuk bukan?, seharusnya dia tau kalau pujaan hati akan datang tapi ternyata malah menjadi masalah seperti ini.


Dimas ingat jelas kekesalan Riva disaat menghadap padanya.


Revan yang mendengar sahabatnya bicara formal, hanya mengernyitkan dahinya. diruangan hanya dia dan kakaknya tapi kenapa sahabatnya seformal itu.


"ada masalah?, kenapa nada bicara mu seperti itu?" bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"tidak tuan, hanya saja saya minta maaf dan membuat nona Riva menunggu sebelumnya" ucapnya seraya mengalihkan pandangannya pada pujaan hati.


Kakak beradik yang mendengar Dimas berbicara serentak tertawa terbahak "bwahahhahahhahahhahhah" kakak beradik itu bahkan bertos ria.


"kau kocak sekali Dim setelah lama tidak bertemu" Riva menghentikan tawanya dan menghapus air mata yang keluar.


"dia memang aneh kak, apalagi setelah kejadian itu"tambah Revan mengingat hal terdahulu, dimana dia baru sadar kalau sahabatnya menaruh hati pada kakaknya. tapi dia lebih memilih tidak ikut campur karena ini masalah hati.


meski bingung dengan rekasi yang ditunjukan kakak beradik tersebut, namun Dimas memilih tidak perduli karena sekarang fokusnya mengarah pada pujaan hati yang tengah tertawa dengan lepasnya.

__ADS_1


masa bodoh dikatakan bodoh sekalipun yang terpenting hatinya menghangat melihat tawa cantiknya lagi.


"cantik...." tanpa sadar dia mengatakan sesuatu yang seharusnya hanya boleh dikatakan dalam hatinya.


"aku tau..., "jawab Riva percaya diri.


"oh ya, kau tau kalau tuan mu ini tertarik pada staf di depan?" tanya Riva pada sahabat sekaligus sekertaris adiknya.


" tentu saja nona, dia bahkan terlihat bodoh di depan stafnya sendiri" jawab Dimas membalik keadaan tanpa memperdulikan reaksi sahabatnya.


Revan Geram mendengar jawaban sahabatnya yang terkesan mengadu.


"kau sama gilanya Dim, aku suka dengan staf, oh Tuhan yang benar saja..." sanggah Revan yang tidak suka mendengar ucapan sahabatnya.


"kau terlalu naif, saudaraku" ucap sang kakak sambil menepuk bahu Revan dengan nada mengejek.


Revan tentu terkejut dengan perkataan kakaknya, bagaimana bisa mereka lebih keras kepala banding dirinya padahal ini masalah hatinya.


" aku serius, menurut kalian bagaimana bisa aku menyukai stafku, terlebih dia masih terbilang baru bergabung dengan Jaya Group.


"baiklah kami percaya" ucap Riva lalu beranjak dari duduknya. " Dim, ayo.. sepertinya kita harus menyeleksi ulang staf di depan. mumpung masih baru jadi kita bisa menggati dengan yang lebih baik" tambah Riva menggoda adiknya.


"baik nona" jawab Dimas tanpa ragu.

__ADS_1


" terserah......, dasar aneh" jawab Revan menyela. "satu lagi, untuk sekarang aku terlalu sibuk untuk mengurus hal yang tidak penting seperti itu" tambah Revan.


mendengar kalimat yang di ucapkan Revan, membuat Riva dan Dimas berhenti dan membalikan badannya ke arah Revan. " serius......." ucapnya berbarengan.


" cihhh..., kalian tampak cocok sekali" ucapnya sebal " dan kamu Dim selesaikan pekerjaan mu sebelum mengikuti rencana bodoh kakakku" perintahnya pada Dimas sekaligus sebagai kode agar kakaknya tidak menggangu Dimas dan semua pekerjaannya.


Revan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sudah menunggunya sedari pagi. karena kedatangan kakaknya membuat pekerjaan yang harusnya hampir selesai harus terbengkalai karena pembahasan yang tidak penting menurutnya.


perasaan yang mana yang tidak aku sadari? apa aku benar suka pada staf itu, aku rasa tidak....


lagian sikap ku berbeda padanya karena dia memang masih sangat baru. ahh... sudahlah lupakan.


Fikir Revan......


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2