
Revan baru saja sampai rumah disaat dia mendengar suara berisik dari ruang keluarga.
tanpa berniat menghampiri, Revan tetap berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada. disaat akan membuka pintu kamarnya Revan dikejutkan dengan suara yang tidak asing.
"baru pulang?" suara wanita terdengar.
Revan mengernyitkan dahi setelah melihat siapa yang menyapa. " kapan balik?, hah....pantas berisik sekali..." jawab Revan.
" tidak sopan, bukannya menjawab dengan benar " kesalnya.
" Revan capek mau mandi dan istirahat dulu" acuh Revan.
"ishhhh...ini anak makin ngelunjak" ucapnya geram "ma....." teriaknya minta bantuan.
"berisik....., apaan sih, kaya anak kecil aja" balas Revan jengah melihat tingkah Kakak perempuannya.
"kalian ini kenapa sih..?, baru ketemu kok bukannya kangen-kangenan malah ribut" ucap sang mama setelah mendengar keributan kedua anaknya.
"Van sana masuk, mandi habis itu makan. mama siapkan makanannya dulu" perintah mama Fatma pada putranya.
" dan kamu Va ayo bantu mama..." seraya menggandeng putrinya.
"cepat ya, ada yang mau kakak tanya..." Riva berkata sambil berjalan mengikuti mama Fatma.
setelah membersihkan diri Revan tiba di meja makan, " Revan aja yang makan?" tanya Revan.
"iya, mama sudah kekamar tadi sama ayah" duduk manis sambil menunggu Revan selesai makan.
setelah selesai dan menyeka bibirnya dengan kain yang disediakan Revan menatap kakaknya dengan kening berkerut" ada apa...!" tanyanya.
"aku akan menetap di sini" jawabnya.
__ADS_1
sambil mengangguk- ngangguk Revan menjawab" baguslah, memang seharusnya tetap disini kan.." jawabnya.
"bagaimana kalau ayah meminta ku kembali ke kantor..? tanya Riva penasaran.
"memangnya kenapa..?" tanya balik Revan dengan tangan besedekap di dada.
"hah..., ayah bilang kau...." sebelum menyelesaikan ucapnnya, Riva menatap adiknya yang beranjak dari duduknya.
Revan beranjak" terserah kakak saja, Revan tidak masalah.." ucapnya sebelum masuk ke kamarnya.
...****************...
wanita cantik yang terlihat sangat berkelas, keluar dari lift dan berhenti tepat di depan meja staf.
"Revan ada di dalam" tanyanya.
Lala dan Sasa yang berjaga serentak mengangkat wajah menghadap asal suara.
"saya ingin bertemu Revan" jawabnya pendek.
"baik, tunggu sebentar" Lala mengangkat interkom yang terhubung keruangan Sekertaris Dimas dan mencoba menghubunginya.
"maaf pak, ada tamu yang ingin bertemu Tuan Revan" beritahu Lala
". . ."
"baik pak, terimakasih" memutus sambungan.
Lala beranjak dan berniat menunjukan ruangan Sekertaris Dimas terlebih dahulu.
"silahkan Nona", tunjuk Lala pada ruangan Sekertaris Dimas.
__ADS_1
merasa aneh wanita cantik itu bertanya" bukankah ruangan Revan yang itu" tunjuknya pada ruangan di seberangnya.
"maaf nona, semua tamu harus menghadap pak Dimas terlebih dulu" ucap Lala ragu.
"hahhh...." Riva tersentak "keterlaluan mereka ini" ucapnya seraya mendorong langsung pintu ruangan tersebut, dengan Lala yang berada tepat di belakangnya.
Dimas yang merasa terganggu dengan pintu yang dibuka tanpa diketuk, mengalihkan pandangannya " bisa lebih sopan sedikit, seharusnya kau...." perkataannya terhenti disaat melihat siapa yang masuk.
deg
deg
deg
Lala yang sadar melihat kegusaran atasannya merasa takut.
"maaf pak sebelumnya...." ucapan Lala terhenti, setelah melihat isyarat dari atasannya.
"aku sudah menghadap, apa sekarang aku bisa bertemu ADIK ku " suara Riva tegas dan segaja memperjelas maksudnya. dengan tatapan tajamnya yang pertanda dia terganggu dengan tindakan ini.
"Lis, bawa nona menghadap langsung Tuan Revan" ucap Dimas setelah tersadar. Dimas sadar kalau Riva tersinggung tapi ini perintah langsung dari Revan atasan sekaligus sahabatnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.