
🍀
🍀
🍀
Pagi-pagi sekali tepat pukul 7:30 Revan sampai Kedung utama Jaya Group. Tidak seperti biasanya dia yang lumayan santai untuk datang kekantor pasca putus dengan Lala.
Sepertinya putus cinta membuatnya merubah kebiasaan baik menjadi kurang baik. Dan kali ini Revan sepertinya ingin kembali membiasakan hal baik tersebut.
Entahlah akan berhasil atau tidak. Karena yang jelas hal itu tidak akan mempengaruhi peformanya dalam memimpin Jaya Group.
Walau jabatan Presedir masih di pegang oleh tuan Ardian (selaku ayah Revan), hal itu tidak mempengaruhi Revan karena menurutnya sekali sudah dipercaya maka dia akan memegang teguh hal itu.
Bukan untuk menunjukkan atau pembuktian akan sesuatu, melainkan karena keharusan dan tanggungjawabnya sebagai putra satu-satunya dari Jaya Group.
Semua karyawan yang melintas melewati atau yang hanya sekedar berpapasan menunjukan rasa hormatnya pada Revan.
merasa sikap dingin tuannya yang seminggu ini seolah makin kaku, terlihat mengendur.
Ingin menyapa namun rasa takut lebih mendominasi. Jadilah mereka hanya bisa menundukan badan hormat.
Sebagai salam pagi mereka.
Wahh Tuan Revan terlihat berbeda. Hehehe makin ganteng
Bahkan perubahannya aku tidak tau, tapi ini menyejukan mataku...
Hah bagaimana bisa orang tampan terlihat berbeda hanya karena perubahan moodnya.
Hanya bisa mengagumi....
Masih banyak lagi kata-kata yang hanya bisa diucapkan dalam hati dari karyawan wanita yang dilalui Revan.
Bahkan mereka cukup terhibur dengan kata beruntung. Beruntung bisa bekerja disatu tempat dengan tuan Revan, beruntung bisa melihat tuan Revan setiap hari meski dari jarak lumayan, beruntung bisa menyapa walau hanya dengan tundukan kepala dan masih banyak kata beruntung lainnya.
Sedangkan Revan yang diperhatikan dan dibicarakan meski hanya dalam hati. Masuk kedalam lift khusus yang membawanya kelantai teratas dimana ruangannya berada.
Setelah lift terbuka Revan berjalan lurus, seperti biasanya Lala sang staf istimewa menyambut kedatangannya. Dengan sekertaris Dimas tepat berada disampingnya.
Revan terus berjalan lurus memasuki ruangannya di ikuti Dimas dibelakangnya. Merasa tidak biasa Dimas memutuskan mengikuti tuannya meski tanpa perintah.
Revan duduk dan mulai meneliti pekerjaan apa saja yang akan dikerjakannya hari ini.
Sedang Dimas yang memperhatikan tuannya segera menghampiri dan mulai membacakan jadwal tuannya hari ini. Berhubung mood tuannya masih bagus.
"Tidak ada kegiatan diluar..." Tanya Revan setelah menyimak jadwal yang dibacakan sekertarisnya.
"tidak ada, untuk hari ini anda cukup menyelesaikan berkas yang ada dimeja anda" Dimas menjawab dengan pasti.
"aku belum menggaji mu?" Revan bertanya dengan menatap lurus sekertaris merangkap sahabatnya itu. Merasa heran dengan sikap sahabatnya yang menurutnya sangat kaku.
"saya menerima di tiap tanggal yang sama tuan..." jawab Dimas yakin. Seolah malas meladeni maksud sebenarnya dari pertanyaan tuan merangkap sahabatnya itu.
" heh..., ayolah jangan rusak mood ku yang sudah terlanjur bagus hari ini" Revan menumpuk beberapa lembar kertas yang dia bulatkan.
"Hahahaha...., Baiklah. Sebelum itu simpan dulu kertas ditangan mu!. Apa kau tidak tau berkas itu kemungkinan sangat penting!" Dimas mengingatkan. Menunjuk kearah kertas yang sudah menyatu dan siap menghantamnya.
" brengsek kau fikir aku bodoh, hah..." geram Revan tidak terima seraya melempar kertas bulatan itu. Bersamaan dengan pintu ruangannya yang terbuka. Membuat bulatan kertas itu jatuh tepat kearah orang yang membuka pintu.
__ADS_1
Sementara Lala dan tamu yang baru saja datang itu, tidak mngetahui kejadian remeh dalam ruangan sang Ceo.
"apa saya boleh masuk sekarang....?" mama Fatma bertanya. Sekaligus mengetes langsung staf istimewa putranya ini.
Iya mama Fatma akhirnya memutuskan untuk datang ke kantor. Meski dia tau kemungkinan besar anaknya tidak akan suka dengan tindakkannya.
Tapi tekatnya membuatnya berada di depan staf istimewa putranya saat ini.
Jadi ini calon menantu yang membuat putra ku kelabakan. Hah cantik, dan aku berharap sikapnya secantik parasnya.
Lala yang mendengar pertanyaan wanita anggun didepannya ini merasa gamang. Karena Lala tau siapa yang ada di depannya sekarang. Tapi tetap saja peraturan utama di kantor harus tetap mengikuti aturan.
Hah...., terserahlah. Yang utama sekarang jangan sampai membuat Nyonya besar ini tersinggung. Masalah respon tuan Revan dan sekertaris Dimas bisa dia tangani nanti.
Dan disini lah Lala berdiri diam terpaku karena terkejut dengan bongkahan kertas yang hampir mengenainya. Rasa khawatir membuat pergerakannya terhenti.
Bagaimana kalau dia marah bahkan mengamuk. Sekalipun yang aku bawa keluarganya tapi tetap saja kan?.
Dia tetap bisa memecatku dengan wewenangnya.
Revan yang melihat Lala didepan pintu ruangannya tidak kalah terkejut. Bagaimana bisa lemparannya hampir mengenainya.
"ada apa...?" Revan bertanya untuk membuang rasa terkejutnya, seraya beranjak dari duduknya.
Dimas menatap kearah pintu bersamaan dengan Revan yang bertanya.
Lala yang tersadar dari rasa terkejutnya segera membuka pintu dengan lebar agar tamu yang ada dibelakangnya dapat terlihat oleh kedua atasannya.
"maaf tuan, Nyonya besar ingin bertemu.." memberitahukan alasan kedatangannya.
"Apa saya tidak boleh masuk tuan...?" Suara sang tamu terdengar. Dan cukup membuat Revan menghela nafas panjang.
"menyebalkan, bukannya menyambut atau setidaknya disuruh masuk. Ini malah pada bengong." kesal mama Fatma seraya masuk keruangan sang putra dan duduk manis di sofa panjang yang ada diruangan itu.
"pagi bik...," Dimas segera menghampiri nyonya besar di keluarga Jaya Group itu. Menyalami dan bertanya kabar dengan hangat.
" kamu juga, sudah jarang keliatan sekarang. Apa anak itu membuat mu repot..." bertanya seraya menunjuk Revan yang berjalan kearah pintu.
"minta OB untuk menyiapkan minuman dan beberapa makanan ringan.."perintah Revan pada stafnya dengan tatapan terus tertuju pada staf istimewanya yang malah menundukkan pandangannya.
" baik tuan akan saya siapkan.." Lala menjawab cepat dan berbalik akan menyiapkan sendiri pesanan tuan mudanya
Revan mengernyit karena jawaban stafnya tidak sesuai dengan perintahnya.
"masih mau disana...?" nyonya Fatma menyindir sang anak. Yang terlihat bodoh didepan mantan wanitanya. Entahlah sebutan apa yang cocok untuk mereka tapi itulah yang akhirnya ditangkap nyonya Fatma.
"Huh...." menghembuskan nafas. " mama ngapain pagi-pagi kesini..?" bertanya langsung duduk disofa single dekat sang mama.
Mama Fatma yang ditanya hanya mengkat bahu tanda tidak perduli dengan pertanyaan sang anak.
Sementara Dimas memilih duduk diam memperhatikan hal apa yang akan dilakukan ibu dan anak yang ada didepannya sekarang.
Dimas bahkan merasa takut menarik atau menghembuskan nafasnya, karena ketegangan pasca Nyonya Fatma datang.
Apa mungkin ada hubungannya dengan Lisa?, atau....
Hah entahlah, saya ingin kembali keruangan kerja saya please....
Hanya bisa menjerit dalam hati.
__ADS_1
"ma..., Revan sudah bilang untuk.." ucapan Revan terhenti disaat pintu ruangannya terbuka. Dan masukkan lah Lala dengan nampan ditangannya.
Lala mulai mendekat dan menyimpan teh dan berbagai cemilan kering di meja yang tepat berada dihadapan tuan dan lainnya.
Revan terus memperhatikan Lala dari pertama masuk. Karena seingatnya dia meminta stafnya menghubungi OB untuk menyiapkan permintaannya.
"apa kita kekurangan OB?" akhirnya Revan memilih bertanya.
Lala yang mendengar tuan mudanya berbicara mengalihkan pandangannya sebentar" tidak tuan, maaf sebelumnya saya takut akan lama kalau harus menunggu OB" jelas Lala merasa tidak enak.
"sudahlah, itu tidak penting. Sekarang duduk disini..!" potong mama Fatma seraya memberi perintah staf anaknya untuk duduk disampingnya.
Revan dan Dimas mengernyit seolah berkata sekarang apa lagi?.
"dia harus bekerja ma. Termasuk kami juga.." ucap Revan menunjuk dirinya dan juga Dimas.
"ya udah sana kerja. Mama mau bicara dengan dia dulu.." balas mama Fatma seraya menunjuk Lala.
"saya nyonya..?" tanya Lala karena merasa aneh. Setaunya Lala tidak ada urusan dengan Nyonya didepannya ini.
Apalagi melihat tatapannya yang tidak beralih darinya membuatnya bertanya-tanya ada apa.
"kalian bisa lanjut kerja mama cuma perlu sama dia" ulang mama Fatma membuat Revan dan Dimas semakin merasa aneh.
Dimas yang merasa kehadirannya menganggu segera beranjak dan pamit kembali ke ruangannya.
"kalau gitu Dimas langsung keruangan Dimas saja Bik.." Dimas mencari aman
sebenarnya mama Fatma ingin menahan Dimas untuk menjadi saksi pembahasan mereka. Tapi mengingat waktu kerja yang harus sudah dimulai, membuat mama Fatma mempersilahkan Dimas untuk kembali.
Toh yang terpenting Lala mantan kekasih anaknya yang membuat anaknya beberapa minggu ini terlihat berbeda.
"kamu...." tunjuk mama Fatma pada Revan seolah bertanya kenapa tidak kembali bekerja juga.
Tapi apalah daya Revan tidak memperdulikan isyarat itu. Karena dia ingin tau apa yang akan dibicarakan sang mama.
"Revan tetap disini. Jadi mama silahkan kalau mau membahas apa.." Revan mempersilahkan. Dia bahkan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang empuk. Dengan telinga terpasang tajam, seolah siap mendengar apapun yang akan dibahas sang mama dan mantan pacarnya.
Ahhh aku benci sekali menyebut kata itu.
Sementara Lala yang tidak tau, ikut merasa penasaran dengan kemungkinan apa yang akan dibahas Nyonya didepannya ini.
"kamu tau siapa saya..." tanya mama Fatma kepada staf cantik didepannya. Sekaligus cara untuknya membuka obrolan mereka.
Agak lebay memang tapi biarlah.
"sekarang saya tau Nyonya, maaf sebelumnya saya tidak mengenali anda.." Lala menjawab sopan. Karena jujur dia tau siapa sebenarnya Nyonya ini setelah mencari tau mengenai keluarga Jaya Group.
mama Fatma menganggukan kepalanya " oke, kalau saya meminta kamu berhenti bekerja apa berpengaruh...?" tanya Mama Fatma lagi.
Lala terkejut begitu juga dengan Revan.
"ma....." Revan bereaksi lebih dulu. tapi sebelum Revan melanjutkan kalimatnya mama Fatma lebih dulu memintanya untuk diam.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1