Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 85 Perasaan Berbeda


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Suasana pagi yang cerah di rumah utama Jaya Group terlihat sangat indah bahkan semua pekerja yang setiap hari hilir mudik senantiasa menyampaikan kekagumannya.


bagaimana bisa perpaduan rumah yang mewah dengan taman indah terurus terlihat semakin indah dengan cuaca yang mendukung. mereka merasa tidak adil dengan suasana ditempat tinggal mereka.


Sepertinya desain rumah memang sangat perlu. tidak hanya agar rumah terlihat bagus dan tertata sesuai fungsinya melainkan untuk kesenangan mata yang melihat.


Tapi keadaan pagi ini tampak kurang menarik untuk Riva. entahlah apa yang tengah difikirkannya. disaat semua orang mengagumi apa yang dilihatnya, Riva malah terlihat melamun dengan fikiran menumpuk memenuhi pelupuk matanya.


" mikirin apa?" pertanyaan yang membuat Riva terkejut dan sempat memegangi dadanya, seraya mendelik tidak suka pada pelakunya.


"enggak sopan. kalau kakak kena serangan jantung gimana?" kesal Riva kepada Revan sang adik.


Revan terlihat tidak perduli. " Revan serius nanya?" membela diri. merasa gemas karena kakaknya malah fokus ke yang lainnya bukan pada pertanyaannya.


" mikirin kerjaan aja" jawab Riva pelan dengan pandangan masih kearah taman luas didepannya.


" ada masalah dengan butik" mengikuti alur yang di inginkan sang kakak.


"ah, enggak juga. kalau masalah dalam dunia kerja kayanya biasa banget. dan karena itu juga kita diperkerjakan bukan?" Riva menatap kearah sang adik yang malah ikutan fokus kearah taman.


"Bener banget. tapi kak...." Revan ragu.


" masalah mama, anggap saja mama labil untuk pase keduanya. Mungkin juga dia terlalu lelah melihat teman sekitarnya sampai terkesan memaksa kita untuk menikah" tambah Revan.


" cowoknya gimana?, apa dia sopan sama kakak?" serius bertanya.


Riva menganggukan kepalanya namun dalam sekejap mengerutkan dahinya," kamu serius tidak tau?" balik bertanya dengan mata memicing tajam kearah sang adik.


Revan mengerutkan dahi tidak mengerti. Entah kenapa dia merasa kakaknya seperti sedang menuduhnya sekarang. tapi dia bingung soal apanya.


"Kamu benar enggak ngirim Dimas?" bertanya lagi. apalagi setelah melihat reaksi sang adik yang terlihat serius ingin tau.


"Ngirim Dimas?, kenapa sama dia?" makin tidak mengerti. sepertinya ada hal yang luput dari perhatiannya kali ini.


" Kakak ketemu Dimas di Restoran tadi malam" akhirnya mengalah dan memberi tau adiknya.


" Kakak enggak tau dia lihat kakak atau tidak, disaat kakak tanya dia malah keliatan kesal gitu. malah nyuruh kakak masuk mobil dan memaksa nganter kakak dengan mengiringi mobil kakak" jelas Riva akhirnya pada Revan.


Revan jelas terkejut dengan penjelasan kakaknya, karena Dimas tidak membicarakan hal itu padahal mereka habis telponan membahas soal pekerjaan tadi.


" Terus dia nganter kakak sampai mana?, kenapa tidak masuk atau paling tidak menyapa orang rumah!" masih merasa heran.


" Itu dia yang bikin kakak makin kesal. pas kakak mau keluar mobil untuk nyuruh masuk, eh dia malah tancap gas. enggak ada noleh lagi!. enggak sopan banget." Ucap Riva dengan kesal. membuat Revan mengernyit dengan reaksi kakaknya.


" Apalagi pas kakak tanya dia ngikutin kakak disuruh kamu atau enggak. dia malah lebih marah dari kakak. aneh, tidak sopannya makin terlihat!" sambung Riva masih dengan kekesalannya, berbeda dengan Revan . malah mengendurkan reaksinya. Disaat kakaknya terlihat kesal Revan malah tersenyum samar.


" Dimas tetap sopan seperti biasanya tapi kakak aja yang baperan.." Revan beraksi dengan disertai senyum mengejeknya dan bergegas meninggalkan kakaknya.

__ADS_1


Meskipun apa yang dia mau belum terjawab Revan tetap meninggalkan kakaknya. karena menurutnya semua memang harus pelan-pelan.


Toh dia sudah mendapatkan info yang sangat tidak pernah diduganya. iya informasi tentang Dimas yang bertemu kakaknya adalah informasi yang sangat tidak terduga. apa mungkin Dimas memang mengikuti kakaknya atau ini hanya kebetulan saja. Entahlah Revan malas memikirkan segala kemungkinan nya. lebih baik bertanya langsung bukan?.


...****************...


📱


"Kangen..." suara manja tuan muda Revan yang hanya dia tunjukkan pada kekasihnya.


"Hm..." menjawab pendek rasa kangen seseorang diseberang sana.


Revan terdiam setelah mendapat jawaban singkat dari kekasihnya. antara kesal dan maklum yang dia rasakan saat ini hanya dia dan Tuhan yang tau.


sementara diseberang sana ikut terdiam tidak berinisiatif membuka obrolan baru.


Tarik nafas..... hembuskan....


sabar Revan, kekasih mu memang mahluk langka. jadi ber maklum lah.


membatin sekaligus mensugesti diri kalau sikap kekasihnya hanya hal biasa yang dia hadapi dari awal.


📱


"abang kangen, sayang!" tekan Revan kembali setelah mengatur nafasnya yang naik turun. entah karena apa?.


Lala yang mendengar penekanan dari ucapan kekasihnya hanya bisa menggigit bibir. bingung harus menanggapi bagaimana. Dia juga Kangen, merindu malah. tapi Lala terlalu malu mengutarakan atau hanya sekedar membalas rasa kangen kekasihnya.


📱


Revan yang sadar kekasihnya mengubah pembahasan hanya bisa menghela nafas lemah.


📱


" kenapa sayang..." masih menjawab lembut.


📱


" Hari ini Lala mau pergi dengan mbak Sasa. kebetulan dia baru pindah ke kos sebelah Lala. dan dia minta Lala menemani belanja bulanan" menjelaskan sekaligus meminta ijin. Dan berharap kekasihnya mengerti maksudnya.


📱


" Seharian...?" bertanya dengan nada yang ketara jelas tidak suka. tapi Revan mencoba untuk lebih terbuka dan memberi kebebasan ke Lala. Karena jujur Revan paham kalau kekasihnya sedang meminta ijin darinya.


📱


" Lala kurang tau, tapi kemungkinan besar sampai sore soalnya Mbak Sasa juga ingin mencari barang yang lain katanya" menjelaskan kembali.


📱


" Hanya berdua?" bertanya lagi.


📱

__ADS_1


"iya.." menjawab pendek, yang membuat Revan diseberang sana semakin mencak-mencak.


📱


"Kalau sudah selesai Lala langsung hubungin abang kok. Lagian tidak enak menolak, mbak Sasa hanya kenal Lala di kost-an ini" mencoba meyakinkan kembali.


📱


" Apa perlu abang ikut" menawarkan diri. meskipun dia yakin kalau kekasihnya yang langka ini pasti menolaknya.


📱


" Enggak usah bang. kami kan perginya berdua. lagian juga mbak Sasa tidak tau soal hubungan kita.." kembali meyakinkan dengan fakta yang ada.


📱


" hm, baiklah. Tapi hanya menemani berbelanja ya, jangan sampai mau menemani hal-hal yang lain!" mengultimatum dengan tegas.


📱


" Iya Bang" jawab Lala dengan ceria dan senyum merekah.


📱


" Bahagia banget yang mau belanja!" menyindir dengan wajah terlihat ditekuk. tapi orang diseberang sana mana tau.


📱


" Hehehehe, Terimakasih abang.." tidak merasa tersinggung sama sekali. karena Lala paham betul sikap posesif kekasihnya.


📱


" Kartu yang abang kasih, dipake aja ya. apa lagi kalau untuk beli barang yang memang perlu!"


📱


"Iya abang. tapi Lala bilang gini bukan karena mau minta ijin abang untuk pakai kartunya kok. Lala cuma menemani saja. Lala seneng soalnya ada teman kemana-mana sekarang" jelas Lala merasa khawatir dikatakan aji mumpung.


📱


" Iya abang tau. pacar Abang kan memang agak langka.." ucap Revan santai. " makasih sayang sudah ijin sama abang. Have fun." tetap merasa senang. karena itu artinya dia berarti bukan?.


Lala mulai bersiap setelah sambungan telepon terputus. entah kenapa Lala merasa plong. apa mungkin karena dia akan pergi jalan-jalan dengan mengantongi ijin yang membuat dia bisa lebih santai hari ini.


Terkadang Lala merasa bingung dengan respon dirinya. terkadang dia merasa risih karena diperhatikan berlebihan dengan kekasihnya namun terkadang dia juga berharap dan bersuka cita atas perhatian itu.


Hah, aku makin aneh. dan sepertinya aku tidak bisa mengabaikan pesona tuan muda Revan. hm pesona kekasih ku tepatnya. heheh


Lala tertawa riang dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepalanya.


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


__ADS_2