Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 88


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Kembali pada suasana dingin diruang utama Jaya Group. Dimana Lala yang merasa aneh sekaligus merasa takut dengan kemarahan yang timbul karena dia potong rambut.


Lagi-lagi Lala merasa tidak sejalan dengan kekasihnya. bagaimana bisa masalah potong rambut harus membuat mereka marasa canggung seperti sekarang ini.


Menyebalkan


" Kenapa potong rambut enggak bilang sama abang?" mengulang pertanyaannya. " Abang enggak bermaksud ngatur kamu tapi abang...." menahan ucapannya. Meski rambut kekasihnya masih terbilang panjang tapi Revan jelas mengetahui perbedaannya. Karena entah kenapa dia menyukai semua hal yang ada pada Lala dari awal. melihat ada perubahan padanya membuat Revan merasa aneh.


Lala masih diam di posisinya dengan tangan kembali terjalin sebagai tanda tengah gelisah.


Melihat wanitanya yang kembali diam dengan wajah gelisah Revan menghentikan apapun ucapannya dan menghela nafas kasar.


Revan menarik Lala mendekat membuat Lala berdiri tepat didepannya yang masih duduk di kursi kebesarannya.


"Apa abang tidak pernah bilang kalau abang suka, ah tidak maksud abang cinta dengan semua yang ada pada kamu. abang suka cara bicara kamu, suka rambut, tangan halus kamu, suka semuanya." Jelas Revan terlihat frustasi." Kalau kamu anggap ini obsesi maka katakan lah begitu. Terlebih abang pengen kamu mengatakan apapun yang ingin kamu lakukan. bukan untuk laporan tapi karena abang pacar kamu. Hah" menghembuskan nafasnya lemah diujung penjelasannya. Jujur Revan merasa takut Lala semakin tidak nyaman dengannya tapi dia hanya ingin dianggap ada.


Lala terdiam membeku mendengar semua penjelasan Revan tangan kanannya yang digenggam erat. Lala bingung ingin menjawab apa. karena jujur Lala tidak tau harus mengartikan sikap kekasihnya seperti apa.


Lala masih merasa kecil. dan berfikir tidak mungkin dia seistimewa itu sampai tuan muda di depannya memujanya sampai sebegininya.


Revan melepaskan genggaman tangannya setelah merasakan tangan kekasihnya mendingin. bukan karena suhu AC melainkan karena rasa canggung atau mungkin takut yang tengah Lala rasakan. " Keluarlah!" Revan memutar kursi kerjanya menghadap monitor yang sempat diacuhnya. Membuat Lala semakin bingung.


Apa aku salah lagi.


membatin, tidak habis pikir. Lala ingin menjelaskan bahkan menceritakan semua hal yang dilakukannya kemarin yang Lala anggap menyenangkan. tapi lagi-lagi Lala tersadar situasinya tidak lagi baik.

__ADS_1


Sedang Revan tetap diam menghadap monitor tanpa menyentuh atau melanjutkan pekerjaannya.


Tidak tau harus melakukan apa Lala beranjak dari tempatnya dan berjalan kearah pintu keluar. Lala memilih menjelaskan nanti disaat kekasihnya kembali tenang, meskipun dia tidak tau kapan tepatnya.


Disaat akan membuka pintu Lala membalikkan badannya menatap kearah kekasihnya yang terlihat kembali mengerjakan pekerjaannya.


" Maaf kalau sikap Lala membuat abang tidak nyaman. Lala hanya melakukan apa yang Lala perlukan. Termasuk memotong rambut Lala kemarin!. Lala tidak paham kenapa hal kaya gini bisa jadi masalah buat abang?" karena tidak tahan di diamkan dengan semua pikiran yang muncul Lala memilih menyampaikan unek-uneknya.


Revan menatap tajam Lala yang berbicara membuat Lala merasa takut tapi dia sudah memilih untuk berbicara maka dia harus menerima akibat dari sikapnya ini nanti.


"Sebelum itu seharusnya abang menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh Lala lakukan. bukan tiba-tiba marah disaat Lala sudah melakukan itu. memangnya..." Lala makin keras bicara tapi ucapannya terhenti disaat Revan beranjak dari duduknya dengan tatapan dinginnya. Dan hal itu membuat Lala ketar ketir di tempatnya berdiri.


Mati aku. aku semakin menyulut kobaran apinya. apa dia akan memutuskan aku dan setelahnya memecatku.


Lala dengan semua fikiran buruknya. Dan disaat bersamaan pintu ruangan terbuka dan muncul lah Dimas disertai Radit di belakangnya.


"Ayo makan siang.." Radit berbicara lebih cepat disaat masuk keruangan sepupunya sedang Dimas yang merasa hawa panas dari dua manusia yang masih saling tatap tajam menghentikan langkahnya tiba-tiba membuat Radit hampir menabrakkan tubuhnya.


Dimas menyayangkan sikap asal- asalannya.


Melihat keadaan kurang nyaman Dimas berbalik dan mendorong Radit untuk keluar lebih dulu. sebelum Dimas melakukan itu tiba-tiba Lala bicara membuatnya semakin merasa tidak nyaman.


"Pak Dimas dan tuan Radit silahkan lanjutkan. biar saya yang keluar, kebetulan urusan saya sudah selesai" Berbicara membuat Dimas mengurungkan niatnya mendorong Radit. Sedang Lala merasa ini kesempatannya untuk menyelamatkan diri.


"Permisi tuan muda.." Lala membungkukkan sedikit badannya pada Revan dan disusul ke sekertaris Dimas dan Radit.


Lala meninggalkan ketiga pria tampan diruangan utama itu. sekaligus sebagai jalan dia menyelamatkan dirinya. Dia akan menerima segala kemungkinannya tapi yang jelas Lala perlu jeda untuk itu. karena itu dia memilih pergi.


Sepeninggal Lala 3 pria tampan itu tampak canggung terlebih untuk Dimas dan Radit. Sedang Revan memilih duduk di sofa panjang dalam ruangannya seraya memijat pangkal hidungnya untuk menghilangkan stres.


Dalam situasi ini Dimas dan Radit saling tatap. dan entah kenapa mereka terlihat sangat akur.

__ADS_1


Sebagai tangan kanan yang merangkap sahabat Dimas maju mendekati Revan. Jujur dia merasa tidak nyaman melihat tuan yang dilayaninya terlihat sendu.


"Ada masalah lagi?. bertanya langsung" aku memintanya untuk jangan menemui mu tanpa aku untuk hari ini. Tapi kayanya susah ya. mengatur orang yang tengah jatuh cinta.." mencoba mencairkan suasana. Dimas tidak yakin tapi tetap harus dicoba bukan.


Sementara Radit masih diam di tempatnya berdiri memerhatikan kedua sahabat baik itu yang tengah saling menguatkan.


"Aku keluar. makan siangnya lain kali saja" Radit memilih berlalu. seolah yakin kalau dia tidak diperlukan saat ini.


Sekarang tinggal Dimas dengan Revan. dengan Revan yang masih memijat pangkal hidungnya.


"Apa perlu aku pecat dia?" Bertanya lagi, memancing reaksi sahabatnya. " Kamu terlihat banyak masalah semenjak kenal sama dia. Sepertinya itu lebih baik untuk kalian berdua" Sambung Dimas lagi.


"Jangan buat aku makin pusing Dim. Jangan ganggu aku bisa...!" Meminta tanpa mengalihkan pandangannya dengan tangan yang masih memijat.


"oh, Tidak bisa. kamu makin aneh tau enggak. Kenapa tidak bisa bersikap tegas seperti biasanya. Kalau yakin, maka menikahlah. Jangan pikirkan aku dan nona Riva. Aku akan tetap menyampaikan perasaanku meski tidak tau kapan waktunya. karena itu menikahlah atau berpisah lah...!" Ucap Dimas tegas. Membuat Revan menatap tajam kearahnya.


"Mungkin kamu lupa dan sekarang akan aku ingatkan. Aku tidak hanya bekerja denganmu melainkan mengabdi memastikan segala sesuatunya nyaman untuk mu. Sedang kamu begini sekarang karena perempuan dan kamu juga tau aku bisa membuat dia menjauh kalau aku mau." Sepertinya Dimas tidak mau bercanda hari ini


"Kau makin gila Dim!" mengumpat langsung karena jujur, Revan tidak suka dengan ucapan Dimas barusan.


" Aku hanya memastikan semua hal tentang kamu!" Bela Dimas tidak mau disalahkan.


" Hanya masalah kecil Dim. Dan jangan pernah berfikir untuk melakukan semua ucapan mu tadi. karena aku akan membunuhmu!" Balas Revan seolah menunjukkan taringnya.


Dimas yang melihat tuan merangkap sahabatnya merespon ucapannya dengan sangat serius tertawa terbahak-bahak. Dimas memang serius dengan ucapannya tapi tidak mungkin langsung dijalankan tanpa memikirkan beberapa hal bukan?.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2