
🍀
🍀
🍀
Setelah memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan, Revan terlihat memiliki kebiasaan baru.
Dia yang terbiasa duduk santai dengan adanya sopir. Sekarang lebih memilih membawa mobilnya sendiri.
Revan selalu mengantar pulang kekasihnya, memastikan dia sampai kos dengan selamat.
Dan aura bahagia terlihat jelas dari wajahnya. Revan terlihat turun dari dalam kamar dengan riang. Bahkan suara siulan terdengar sangat jelas.
Sang mama yang memperhatikan sikap putranya mengerutkan dahi.
"Adik kamu kenapa" bertanya pada putrinya yang tengah bersiap sarapan pagi.
Merasa aneh dengan sikap putranya beberapa hari ini.
Riva melihat adiknya yang turun dengan siulan yang menandakan keriangan.
"Tanya aja ma" Riva yang melihat adiknya bertingkah seperti itu merasa senang.
Karen jujur, ini pertama kalinya adiknya terlihat riang seperti itu.
Dulu disaat menjalin kasih dengan mantan kekasihnya tidak pernah terlihat sesenang itu.
Walaupun sang adik mengaku kalau dia mencintai mantannya itu, namun sikapnya masih tetap sama. Layaknya tuan muda pada umumnya.
Sangat berbeda dengan wajahnya saat ini.
Revan duduk dan mulai bersiap makan. Sang mama mulai menyiapkan makan untuk putranya.
Riva menatap intens adiknya," Radit tidak membuat masalah?" Riva membuka percakapan di saat Revan hendak mulai memakan nasi gorengnya. Meski dia yakin kalau itu tidak ada hubungannya dengan mood sang adik.
"Sejauh ini belum. Atau bisa saja karena masih baru" jawab Revan asal.
Mereka makan bertiga karena tuan besar sedang keluar negeri mengurus pekerjaan yang lain.
"Ayah kapan pulang ma?" Revan bertanya pada sang mama
"3 atau 4 hari lagi lah, tergantung cepatnya pekerjaan disana terselesaikan" jawabnya.
"Lagian ayah aneh, kenapa tidak meminta paman surya aja yang pergi" Riva merasa kesal. "Lagian Revan bekerja dikantor untuk mengurangi pekerjaan ayah bukan?" Seolah menyalahkan adiknya.
Revan mengernyit " aku sudah mengambil bagian ku dan sekarang tinggal kamu?. Seharusnya yang jadi wakil pimpinan itu kamu kenapa malah jadi si Radit" telak Revan tidak mau di salahkan.
"Aku membantu mama, apa menurutmu mama tidak perlu bantuan?" Riva makin kesal karena disalahkan.
"Dan aku sudah membantu ayah" jawab Revan kembali.
"Astaga, kalian ini kenapa?, Sudah pada tua juga. Makanya kalian cepat nikah biar ada yang bantu." Sang mama yang kesal, langsung menghantam telak pada permasalahannya.
__ADS_1
"Apa hubungannya coba?" Kaka beradik itu menjawab bersamaan, seraya mendelik satu sama lain.
"Revan berangkat" ucap Revan seraya beranjak dan hendak berangkat bekeja.
"Kakak ke kantor nanti siang" ucap Riva memberitahu dengan tangan yang masih fokus pada roti yang menjadi menu sarapannya paginya.
"Ngapain?" Mengernyit heran
"Kenapa memangnya?" Riva menatap tajam adiknya.
Revan memutar bola matanya saking kesalnya, dengan jawaban kakak perempuannya.
"Berangkat ma...!" Revan kembali pamit dengan kaki melangkah pasti ke arah pintu keluar.
"Kenapa sih?" Mama Fatma bertanya pada putrinya.
"Apanya?" Riva merasa tidak mengerti dengan pertanyaan sang mama.
"Kamu senang sekali menggangu adikmu" menatap langsung anak sulungnya.
"Hanya berdebat biasa ma, semua saudara juga pasti melakukan itu.." jawab santai Riva.
"Hah...., Kalian ini. Mama khawatir kalau kalian tidak bisa akur, orang lain akan memanfaatkan itu" nasehat sang mama.
"Ma,.." mengalihkan pandangannya ke arah sang mama. " Kami berdebat hanya disaat kami berdua saja, dan itu hal yang biasa. Mama enggak usah khawatir. Yang harus mama khawatirkan sekarang, Radit yang masuk ke Jaya Group sebagai Wakil Ceo". Jelas Riva.
"Lagian ayah juga, seharusnya bicara dulu dong jangan asal masukkan aja. Kebiasaan...!" Riva mulai kesal.
Sang mama sebenarnya merasa bingung. Mereka bahkan belum membahas ini. Suaminya bahkan belum sempat bercerita karena harus berangkat ke luar negeri.
Aku akan tanyakan nanti
Batinnya.
tin....
Lala mengalihkan pandangannya disaat mendengar suara klakson yang memang sedang ditunggunya.
Lala menghampiri dan melihat pengemudi dari jendela yang terbuka. Lala membuka pintu mobil dan masuk setelah yakin mobil ini yang tengah di tunggunya.
"maaf telat" ucap Revan dengan pandangan tidak lepas dari wanitanya.
Lala menatap kembali kekasihnya, dan tersenyum manis. Seolah mengatakan tidak masalah
"seharusnya tidak usah jemput kalau memang sibuk" meski demikian Lala tetap merasa tidak nyaman.
"hmmmmm...." jawab Revan.
Revan menarik tangan Lala dan menggenggamnya, dan satu tangan fokus mengemudi.
Sesekali Revan menatap Lala dan tersenyum seraya mencium tangan yang digenggamnya.
Karena hampir tiap hari Revan menjemput dan melakukan hal ini, membuat Lala terbiasa.
__ADS_1
Revan bilang ini adalah cara dia membuatnya jatuh cinta. Karena itu Lala tidak masalah.
Selama masih aman, Lala sama sekali tidak keberatan. Karena dia mulai merasa nyaman dengan semua hal berlebihan yang dilakukan kekasihnya.
Setelah sampai kantor, Revan parkir di tempat khusus yang membuatnya aman keluar berdua dari mobil. Meski begitu Lala akan lebih dulu keluar dan masuk ke kantor.
Selang 10 menit barulah Revan menyusul. Mereka sepakat menyembunyikan hubungan mereka selain karena tidak ingin menimbulkan keributan dengan gunjingan orang kantor, meskipun Revan tidak perduli sama sekali.
selain karena itu mereka juga harus meyakinkan hubungan mereka benar-benar berlanjut setelah waktu kesepakatan mereka tiba.
Lala berjalan santai seperti biasanya, dan dibelakang Revan menyusul dengan tampang tuan mudanya.
"pagi tuan....." sapa security yang berjaga dan di ikuti dengan karyawan lainnya.
Lala yang melihat dan mendengar karyawan menyapa tuan mudanya dengan sedikit membungkukkan badan.
membuat Lala spontan bergeser dari tempatnya berdiri dan mengikuti karyawan lain yang menyapa tuan mudanya.
"selamat pagi tuan...." ucapnya.
"pagi" jawab Revan dengan menatap Lala sekilas di iringi senyum samar.
Lala memilih berhenti dan menunggu sejenak, sampai lift yang dinaiki tuannya mulai berjalan.
"ayo....." terdengar suara yang mengagetkan Lala yang bersumber dari wakit CEO yang baru.
" Saya tuan?" bertanya karena Lala merasa belum mengenal tuannya ini.
"memang siapa lagi?, kita hanya beda satu lantai saja. Jadi bisa pergi bersama". Jelas Radit yang merasa bingung dengan staf utama yang berhasil mengalihkan fokusnya sejenak
Radit masih bertanya-tanya, kenapa sepupunya menolak permintaannya terkait staf ini.
Apa sepupunya menolak karena dia yang meminta atau karena hal lain.
Radit belum berani menebak, karena fokusnya saat ini menunjukan kinerjanya dengan sebaik-baiknya karena sesuatu hal.
"ayo, sebentar lagi jam kerja dimulai" tawar Radit kembali.
"baik tuan, Silahkan.." Mempersilahkan dengan tangannya.
Lala berada tepat di belakang Radit bahkan disaat di dalam lift pun. Mereka hening. Merasa sungkan untuk memulai pembahasannya.
Disaat Radit akan memulai berbicara, Lift berbunyi dan terbuka. Tandanya Radit sudah sampai lantai rungannya. Sementara Lala masih tetap diam ditempatnya.
Sebelum lift tertutup, Radit membalikan badan dan menatap Lala yang kebetulan menatap ke depan. Untuk sejenak tatapan mereka bertemu.
" astaga ada apa dengan ku?" Radit mulai kesal pada diri sendiri. " hanya staf - hanya staf, fokuskan diri mu dit" seraya memukul kepalanya pelan. Hanya sekedar untuk menyadarkan dirinya.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1