Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 82 Cinta


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Sayang.."


"hm"


" menurut kamu apa perlu abang bantu Dimas untuk mendekati kak Riva?" serius bertanya.


Rupanya Revan masih memikirkan kelanjutan perasaan sahabatnya ke pada kakak perempuannya.


"menurut abang, apa itu perlu?" kembali melemparkan pertanyaan.


"kayanya iya. dia terlalu takut untuk sekedar bicara. membuat orang bingung saja" tiba-tiba merasa kesal dengan sikap rendah diri sahabatnya.


"takut?" tidak mengerti.


"hm, takut dengan hasilnya. atau mungkin akibat pasca pengakuannya." menyampaikan pendapatnya.


"memangnya kenapa?" masih tidak mengerti. namun tangannya tidak berhenti menyisir rambut kekasihnya yang ada dipangkuannya.


"katanya...." Revan menceritakan semua ketakutan Dimas beserta alasannya. berharap dengan begitu dia bisa memutuskan untuk memilih membantu atau tidak.


Lala mendengarkan dengan seksama dengan pandangan menerawang ke depan dengan tangan masih sama. menyisir rambut kekasihnya yang tengah bercerita.


Revan menatap wanitanya yang malah fokus ke depan sana seolah melamun.


"hei" menurunkan pandangan wanitanya dengan menarik sedikit dagu Lala.


"hm" tersadar dari lamunannya.


"malah bengong!" menggenggam tangan Lala dan manariknya ke dada.


Lala tersenyum " cerita abang membuat Lala Dejavu. dan sepertinya Lala paham ketakutan sekertaris Dimas" menyampaikan isi fikirannya.


"Sekertaris Dimas yang terlihat sempurna saja masih segan dengan keluarga abang. apalagi Lala coba?. mungkin sekertaris Dimas mentertawakan nyali Lala Sekarang ini." sambung Lala.


Revan bangun dan membenarkan posisi duduknya, menarik tangan halus wanitanya dan mulai menciumnya sesekali.


" Dia selalu menyemangati abang soal perasaan abang. dan sekali lagi abang katakan abang mencintai kamu tapi mungkin abang tidak akan bergerak kalau tidak ada dorongan dari Dimas. jadi jangan ragukan abang. dan tolong beri abang masukkan untuk membantu Dimas. ah paling tidak bagaimana cara mengembalikan rasa percaya dirinya" menjelaskan dengan detail berharap wanitanya bisa memahami maksudnya.


"iya abang" jawab Lala sambil tersenyum.


"maksud Lala kalau bisa jangan terlalu dipaksa, takutnya dia malah..."


"cih...," tidak suka. " kamu fikir, kalau abang enggak maksa kamu. apa mungkin hubungan kita sampai tahap ini?" bertanya balik dengan fakta.

__ADS_1


"beda abang..." Lala merasa gemas karena ucapannya terpotong.


"sama aja. kalian terlalu insecure dan berfikir kalau kami orang yang terlalu merepotkan masalah status sosial"


" beda abang. kalau Lala hanya akan mendapat pertentangan dari keluarga besar abang saja. tapi sekertaris Dimas akan menghadapi kedua keluarga. selain dia harus menyiapkan mental akan respon tuan besar dan nyonya dia juga harus menyiapkan mental lain untuk respon kedua orangtuanya. abang tau sendiri kan bagaimana?" menjelaskan fakta menurutnya.


Revan terdiam sejenak mencerna semua ucapan wanitanya, mencoba menarik benang merah permasalahan asmara sahabatnya.


" menurut Lala yang ditakutkan sekertaris Dimas bukan reaksi Nona Riva tapi reaksi anggota keluarga pasca itu" sambungnya.


"hm, sepertinya abang mengerti" mengangguk setuju.


" intinya dia akan berjuang melawan apapun kalau itu memang harus. bukan?" menyimpulkan


"hm" jawab Lala pendek dengan pandangan lurus kewajah sang kekasih.


"Abang cinta kamu" Lala mengangguk mendengar pernyataan kekasihnya.


" sangat..!" sambung Revan


"hm" mengangguk lagi.


"ishhhh, Abang bilang kalau Abang cinta kamu!, sangat!, banget!" ulang Revan tegas


"hahahahaha.... iya bang, Lala denger kok. baru kali ini Lala nemu orang nyatain cinta tapi maksa.." masih dengan senyum dikulumnya. tidak habis pikir dengan sikap Tuan muda yang terkenal sangat acuh dan dingin. namun berbanding terbalik di saat sedang bersamanya.


egois memang tapi cinta memang harus diperjuangkan bukan?.


...****************...


"Abang pulang sayang" pamitnya tidak rela. meski seharian berdua tapi tetap saja rasanya kurang.


"hm, abang hati-hati. kalau sudah sampai jangan lupa ngabarin!" ucap Lala perhatian. dan hal sederhana itu cukup membuat Revan menampilkan senyum cerah.


setelah puas jalan-jalan dan memhabiskan waktu bersama. Lala masuk kedalam kos setelah memastikan mobil yang di kendarai kekasihnya hilang dari pandangan.


"Hah..." menghempaskan tubuhnya pada ranjang empuknya. tersenyum malu-malu disaat mengingat cara kekasihnya menyatakan atau tepatnya mempertegas perasaannya membuat Lala merasa malu.


Dia yang selalu merasa tidak pantas, entah kenapa menerima dengan sukacita pernyataan itu.


aku juga ingin egois dan hanya mementingkan perasaan ku saat ini. masalah nanti pasti akan datang. tapi aku berharap tidak akan terlalu menyakiti kami.


batin Lala jujur berharap. dia juga masih takut akan respon keluarga besar kekasihnya yang notabene nya orang berstatus sosial tinggi. sedangkan dia?.


apalagi setelah mendengar cerita tentang sekertaris Dimas. bagaimana dia memendam perasaannya bertahun-tahun lamanya, hanya karena takut akan respon keluarga besar.


Hah..., baru kali ini aku bersyukur terlahir dengan keadaan begini. setidaknya tidak serumit sekertaris Dimas.


Disaat Lala tengah memikirkan banyak hal, suara handphone terdengar berisik.

__ADS_1


"astaga aku lupa" bergegas meraih benda keramat yang senantiasa menemaninya itu.


disaat akan menjawab panggilan masuk. smartphone itu jatuh dan membentur keras kelantai keramik kos.


"astaga..." pekik Lala. buru-buru memungut dan memeriksa. terlambat smartphone itu gelap tak bernyawa.


"Lala kamu ceroboh banget sih. abang maaf ..?" meminta maaf pada benda mati itu.


"gimana dong!" Lala menatap tajam benda itu mencoba menghidupkan kembali. masih berharap.


"Hah...." Lala menyerah dan menyimpan benda itu keatas meja dekat tempat tidur.


Lala teringat handphone jadulnya dulu dan mencoba mencari. berharap benda itu masih bisa setelah lama istirahat.


"ketemu. mudahan hidup" harap Lala. dan senyumnya mengembang disaat benda itu hidup. dan berencana memasang sim card untuk menghubungi Revan. karena dia yakin kalau laki-laki itu tengah khawatir sekarang.


disaat sim sudah terpasang dan benda itu hidup. panggilan masuk dengan segera. seolah menunjukkan kekhawatiran di seberang sana.


📱


"Halo" langsung menyapa.


📱


" kamu baik-baik saja?" terdengar khawatir dan Lala tersenyum cerah. karena merasa di khawatirkan.


📱


"baik kok bang. maaf ya. tadi pas mau jawab panggilan abang, Lala kurang hati-hati. handphone nya jatuh terus mati". memberitahu langsung.


📱


" kenapa minta maaf, seharusnya abang yang minta maaf karena khawatir berlebihan.


abang cuma mau laporan kalau abang udah sampai rumah" menyampaikan niat awalnya menghubungi wanitanya.


📱


"hehehe, laporannya Lala terima" menjawab dengan riang. merasa senang karena kekasihnya tidak mempermasalahkan.


mereka terus berbicara seolah tidak pernah bertemu. membicarakan berbagai hal untuk membunuh waktu dan mengisi kekosongan karena rindu.


jatuh cinta memang membuat orang gila dan irasional, bagaimana tidak mereka menghabiskan waktu seharian bersama. tapi disaat perpisahan sebentar saja, sudah berucap rindu.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2