Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 69 Bingung


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Dipaksa melupakan seseorang disaat orang itu tengah sangat berarti untuk mu, tidak hanya membuatnya hampir gila. Begitu juga yang dirasakan Revan untuk kedua kalinya dalam bercinta.


Bagaimana bisa nasib percintaannya selalu berujung sakit. Kisah percintaan yang pertama, memang sakit karena ditinggalkan tapi hal itu bisa Revan redam karena merasa dia tidak pantas karena sudah menghianatinya.


Namun untuk kisah keduanya ini, dia harus rela melepaskan karena perasaan itu hanya darinya dan berharap hanya untuknya.


Entahlah Revan berfikir usahanya sebulan ini sia-sia. Walau dia terbilang menikmatinya. Kebersamaannya dengan Lala seolah memberi warna baru untuknya.


Wanita mandiri yang kokoh dan tak tergoyah dengan semua harta dan fasilitas yang dia sediakan membuatnya merasa tidak punya tempat.


Lala terlalu mandiri untuk dia tarik dalam kehidupannya yang serba disediakan dan mudah. Dan Revan merasa wajar kalau Lala merasa tidak nyaman.


Bukk


Suara dentuman badan yang terhempas ke atas kasur empuk di dalam kamar. Menyisa sedikit ombak dari pergerakan badan yang dia timbulkan.


Mengingat kembali disaat dia melihat kehidupan biasa Lala yang dijalani dengan santai. Bahkan tidak terganggu dengan kehadirannya.


Kali ini aku serius berharap kau bahagia dengan pilihan mu. Dan aku berharap kau mendoakan yang sama.


Setelah cukup termenung Revan beranjak untuk membersihkan diri. Memutuskan untuk melupakan disaat rasa masih ada memang sulit. Tapi Revan berharap ini hanya perasaan biasa yang akan cepat hilang seiring berjalannya waktu.


"Van...." suara sang mama terdengar mengalihkan fokus Revan dari monitor didepannya.


Iya setelah membersihkan diri Revan memilih melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya. Dan disaat tengah fokus suara sang mama mengejutkannya. Karena mamanya terbilang jarang menemuinya apalagi ini sudah terbilang cukup malam.


"kenapa ma...?" Revan melepas kacamata yang dipakainya. Bertanya ke pada sang mama.


"kamu belum tidur?, atau jam diruangan ini tidak berfungsi!" Mama Fatma terlihat muram melihat anaknya yang masih sibuk dijam tidur seperti ini.


Revan tersenyum mendengar pertanyaan yang dia sadar betul tengah menyindirnya.

__ADS_1


"apa bekerja di kantor masih kurang. Bahkan Kakak mu yang pulang lebih awal saja sudah langsung tidur karena lelah. Dan s


Kamu...!." Mama Fatma menunjukan rasa tidak sukanya.


"untung kamu belum menikah, bagaimana kalau sudah?. apa istrimu akan kau tinggal bekerja terus...?" omelan khas orangtua mulai keluar. Bahkan pembahasan mulai menjurus ke hal lain. Dan Revan tidak menyukai itu, apalagi untuk sekarang ini.


"Revan hanya karyawan ma. pemiliknya masih Ayah kalau mama lupa dan Revan bekerja tergantung ayah.." jelas Revan seraya beranjak dari kursi kerjanya menuju ke arah sofa dimana sang mama tengah duduk dengan bersedekap dada.


Revan membaringkan tubuhnya dengan berbantalkan pangkuan sang mama. Hal biasa yang sering dia lakukan. Seolah meringankan beban fikirannya saat ini.


Mama Fatma memperhatikan anaknya dari awal sampai saat Revan membaringkan badannya dengan berbantalkan pangkuannya. Sebagai orangtua mama Fatma merasa sikap putranya akhir-akhir ini sedikit berbeda. Walaupun sikap kepadanya masih tetap sama seperti biasanya. Tapi tetap saja mama Fatma merasa ada yang hilang.


mama Fatma membelai rambut Revan lembut, hal sederhana yang selalu disukai Revan disaat bersama mamanya.


"Kamu tau, sikap kamu lebih lembut dari kakak kamu. Bahkan kebiasaanmu. Terkadang mama bersikap hati-hati bila bicara dengan kakak mu tapi berbeda dengan mu. Padahal kebanyakan anak perempuan akan cenderung lebih manja pada mamanya." Mama Fatma berbicara dengan lembut. Menyampaikan apa yang selama ini dirasakannya.


Revan menatap mama Fatma yang seolah tenggelam dengan lamunannya. " apa mama tidak suka....?" Revan bertanya. Padahal dia tau maksud mamanya bukan itu.


Mama Fatma tersenyum sebelum menjawab " mama merasa sikap kalian tertukar. Dan harapan mama kalian akan lebih percaya dan terbuka dengan mama. Entah itu kamu dan kakak mu" Mama Fatma menatap putranya.


"apa ada masalah, mama perhatikan sikap kamu berbeda akhir-akhir ini..." langsung ke inti. Berharap dengan begitu anaknya akan lebih terbuka.


Membujuk Revan untuk terbuka memang lebih mudah dari pada Riva. Tapi jika diperhatikan lagi akhir-akhir ini putranya terlalu berhati-hati membuatnya lebih tertutup dari biasanya.


Apa hubungannya serumit itu. Atau bagaimana?. Hmmmm saya penasaran dengan perempuan itu. Apa dia tidak khawatir melakukan ini dengan keturunan Jaya Group.


"Revan baik ma, masih sama seperti biasanya..." Revan menjawab santai membuat mama Fatma tersadar dari lamunannya.


"bagaimana dengan hubungan mu dengan siapa itu.....?" bertanya seolah tidak mengetahui hanya untuk memancing fokus putranya.


"Lala ma, tapi biasanya aku panggil Lisa.." Revan menunjukan ketertarikan setelah mamanya membahas Lala. Sepertinya Revan kembali gagal move on kali ini.


Mama Fatma mengernyit " panggilan sayang hmmmm?....." Bertanya langsung, sekaligus menggoda putranya.


"Hah....." Revan menghembuskan nafasnya dan bangun dari posisi rebahannnya.


Duduk bersila menghadap langsung sang mama. " Namanya Lalisa ma, tapi Revan lebih suka memanggilnya Lisa. Dimas juga begitu manggilnya." Menjelaskan kesalahan yang dilakukan sang mama. Dan menunjukkan ketidak sukaannya. Bukan karena tidak suka dengan panggilan sayang itu. Hanya saja Revan baru sadar, kalau dia melewati hal penting itu.

__ADS_1


Seharusnya ada panggilan sayang kan?.


...****************...


Revan terbangun dengan suasana hati yang nyaman. Entahlah setelah berbicara dengan sang mama membuat Revan merasa lebih plong.


Beban hatinya seolah terbagi, dan itu membuatnya merasa nyaman.


Aku hanya perlu menunjukan keseriusan ku. Masalah dia setuju atau tidak itu bukan urusan ku. Yang jelas menarik simpatinya adalah hal yang utama kali ini.


Revan tengah membersihkan diri. Bahkan ditengah kegiatannya terdengar senandung kecil yang seperti gumaman.


Bahkan diusianya sekarang ini, Revan masih sulit menyembunyikan perasaannya. Baik perasaan sedih atau senang.


Sama halnya beberapa minggu ini, mama Fatma seolah bisa membaca kegelisahan hatinya. Dan Revan cukup berayukur karena ke pekaan sang mama.


Mama Fatma memperhatikan Revan yang mengunyah sarapannya dengan santai. Bahkan wajahnya telihat tersenyum disela kesibukanya menghabiskan sarapannya.


"apa mama perlu ke kantor?" mama Fatma bertanya membuat Riva dan ayah Ardian menatapnya. Seolah bertanya mau ngapain?.


Revan mengernyit " mau apa..?" merasa bingung juga. Membuat ayah dan kakaknya merasa tidak perlu bertanya lagi karena sudah diwakilkan oleh Revan yang kebetulan adalah orang yang dimaksud sang mama.


"bertemu dia pastinya...." menjawab santai. sedangkan Tuan Ardian masih bingung dengan pembahasan istri dan anaknya. Kebingungannya jelas terlihat dari kernyitan di dahi dan alisnya.


Revan mengalihkan pandangannya, meski dia tau maksud sang Mama baik tapi kali ini Revan memutuskan untuk menyelesaikan masalah percintaannya sendiri.


Apa kata dunia kalau sampai sang mama ikut terlibat hanya untuk meyakinkan seorang wanita. Apa sang mama lupa kalau dia Putra Tunggal Jaya Group.


"Hahh............, Revan rasa tidak perlu ma". Revan menghela nafas. Dia tidak mau dengan terlibatnya sang mama membuat hubungannya makin merenggang.


Karena Revan mengenal pasti sifat Lala yang selalu merasa rendah diri. Apalagi kalau sampai sang mama benar-benar terlibat.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2