Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 66 Perasaan


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Revan termenung dalam kesendirian pasca keluarnya Dimas dari ruangannya. Jangan tanyakan pekerjaan karena semua itu sudah diambil alih Dimas setelah dia bisa membaca suasana hati tuannya yang kurang baik.


Mengerjakan tugas menurut Dimas jauh lebih baik dari pada meladeni kegilaan tuan merangkap sahabatnya.


Sedang Revan yang tau kalau semua pekerjaan dikerjakan Dimas, dia memilih mencoba menelaah apakah ada yang dia lupakan mengenai perasaan dan hubungannya.


Entah siapa yang benar, Mamanya atau Dimas.


Mama tidak mungkin memberi saran yang salah. Tapi apa yang dikatakan Dimas juga tidak sepenuhnya salah.


Ini soal perasaannya dan mengikuti saran sang mama membuatnya makin merasa sesak. Bahkan masa tenggang yang mereka sepakati dulu belum habis. Dan dia memilih menyerah lebih dulu.


Seharusnya dia berusaha lebih keras dalam meyakinkan karena memang dari awal ini semua tentang dia dan perasaannya.


Orang lain kadang memerlukan beberapa tahun bahkan ada pula yang tidak menemukan jawabannya meski sudah menjalin hubungan sangat lama. Sedangkan dia, baru satu bulan. Dan dia memilih menyerah dan gilanya lagi dia sendiri yang mengakhiri semuanya.


"Seharusnya aku tidak sepercaya diri itu....."Revan mendesah kecewa.


Lagi dan lagi Revan menghembuskan nafas kasar, hanya bisa menyesal dan sekarang semua sudah berakhir.


Ditengah kegalauannya, Lala menemui sekertaris Dimas.


Tok tok tok


Lala masuk setelah mendapat perintah dari dalam. Setidaknya masuk ruangan ini jauh lebih santai dibandingkan dengan ruangan tuan mudanya.


Cara yang dia ambil memang terkesan tidak sopan. Hanya saja, ini merupakan cara yang membuat Lala nyaman.


"ada apa Lis...?" Dimas bertanya karena tumben sekali staf istimewa sahabatnya datang keruangannya tanpa diminta.


"maaf pak saya mengganggu, hanya ingin nitip ini untuk tuan muda" Lala menyerahkan tote bag kecil kepada sekertaris Dimas.


Dimas mengernyit " apa ini penting" Dimas bertanya seraya mengangkat barang itu dengan pandangan memindai habis barang kecil itu.


"iya pak, kebetulan itu punya tuan muda" Lala meyakinkan.


"lantas....?" merasa bingung kenapa Lala memberinya padahal dia dengan yakin menjawab kalau itu punya Revan.


"saya titip pak buat tuan muda..." Lala mengucapkan dengan pelan.


"astaga....." Dimas sadar seraya menyimpan kembali bungkusan itu. " kenapa harus melewati saya. Kalian jangan buat saya repot. Pekerjaan saya sudah banyak...." Dimas terlihat kesal. Bagaimana tidak tadi siang lelakinya yang bikin naik darah sampai dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya.

__ADS_1


Dan belum pekerjaan sepenuhnya selesai sekarang giliran perempuannya.


"kalau mau dibalikan, kasih sendiri saja. Kalau tidak buang saja. Lagian tuan Revan tidak perlu juga....." akhirnya Dimas memberi solusi toh kalau sedang kesal Revan memang selalu berucap begitu.


Kalau sudah tidak perlu buang saja. Selalu begitu dan itu cukup memuakkan dan membosankan menurut Dimas.


"tapi pak....." Lala ragu melanjutkan ucapannya setelah melihat raut wajah Dimas.


"baik pak biar saya kembalikan sendiri saja...." akhirnya Lala mengalah. " kalau gitu saya permisi pak..." Lala pamit untuk kembali ke meja kerjanya.


Disaat akan membuka pintu suara Dimas terdengar memanggil.


"Lis........," Lala menoleh karena merasa terpanggil " kenali perasaan mu. Jangan sampai kalian saling menyakiti tanpa sadar....." setelah mendengar pesan itu Lala memutuskan kembali kemeja kerjanya.


Maksud pak Dimas apa sih?. Kami saling menyakiti, benarkah?.


Suasana sore ini lumayan sepi, terlihat dari halte yang lenggang. Ditambah lagi jalanan yang mulai lenggang pula.


Jam pulang kerja memang sudah lama berlalu, sedang Lala masih termenung ditempatnya menunggu.


Sepertinya pesan dari sekertaris Dimas tadi lumayan mengganggu kewarasannya. Membuat Lala termenung sendiri. Seolah memikirkan tapi buntu.


Bahkan beberapa angkutan umum dan ojek berhenti untuk menawarkan jasa tapi Lala tampak tidak bergeming dari kesadarannya.


Sementara didalam mobil mewah yang tidak jauh dari halte tempat Lala menunggu Revan terlihat mulai gelisah. Gelisah karena orang yang ditunggunya tampak terdiam dengan fikiran kosong.


Revan terus bertanya dan menebak apapun yang ada di kepalanya. Merasa tidak sabar karena menurutnya Lala harus cepat sampai kos dan beristirahat.


Aku bahkan tidak tau apa dia sudah makan apa belum?.


Sampai akhirnya Revan bernafas lega disaat ada tukang ojek yang berhenti dihalte tepat didepan Lala.


Melihat Lala yang naik ojek membuat Revan menghembuskan nafasnya kasar. Dan mulai menghidupkan mobilnya untuk mengikuti motor didepannya.


Jarak harus tetap aman, Revan tidak mau Lala mengetahui apa yang dilakukannya.


Yang dilakukan Revan memang bagus dan mencerminkan pria sejati tapi dia tidak ingin Lala salah paham dengan sikapnya.


...****************...


satu minggu kemudian


Satu minggu sudah berlalu, Lala mulai kembali terbiasa dengan semua rutinitasnya. Dan Lala masih menyimpan kotak kecil yang tadinya akan dia titipkan pada sekertaris Dimas.


Sayangnya sekertaris Dimas menolak dengan dalih bukan urusannya.


Memang benar juga sih?.

__ADS_1


Sampai sekarang Lala masih merasa canggung dan tidak nyaman bertemu langsung dengan tuan Revan.


Bahkan hanya untuk mengembalikan barang tuan Revan saja, Lala masih bingung memulai dari mana.


Bahkan makanan dan snack tuan Revan satu minggu ini disiapkan langsung oleh sekertaris Dimas dengan bantuan OB membuat Lala seolah tidak punya celah untuk menemuinya.


Lala termenung di pantry dengan sendok yang mengaduk kopi yang dibuatnya. Entah kenapa dia merasa sangat lelah hari ini. Dan sepertinya Lala butuh kopi untuk menstabilkan tenaganya. Aneh memang tapi itulah yang dirasa Lala.


Alasan apa ya?, kalau ngantar berkas kayanya tidak toh semua berkas yang dikerjakan termasuk jadwal tuan Revan aku serahkan pada pak Dimas.


Astaga kenapa rasanya sulit sekali. Aku hanya ingin mengembalikan kartu dan gelang yang dia kasih.


Tidak lebih


"astaga, kopi mu bisa berubah kalau diaduk terus. Dan rasanya akan berbeda.." seseorang mengagetkan Lala.


"pak Radit....." Lala tampak terkejut. Bagaimana bisa orang ini ada di pantry khusus ini.


"hahahhhaha....., biasa saja dong. Aku habis ada perlu dengan sepupuku dan pas keluar meja mu kosong. Berhubung aku perlu minum aku kesini dan kita bertemu....."jelas Radit. Yang pasti dia ingin mengatakan kalau pertemuan mereka jelas tidak disengaja.


"baik pak, kalau begitu saya permisi....." Lala memilih mengiyakan dan segera beranjak dari tempatnya berdiri.


Lala keluar dan menuju kemeja kerjanya. "heyy...., tunggu dong" Radit mengejar Lala dan Lala memilih pura-pura tidak mendengar.


"hey, jangan sombong gitu dong...." Radit menarik sebelah tangan Lala yang terbebas. Membuat Lala membalikan badan dan menatap kearahnya.


Lala mengernyit, merasa tidak mengerti dengan tuduhan yang dia terima. Bukan sombong tapi hanya malas meladeni hal yang tidak penting menurutnya.


Lala menatap tajam kearah Radit apalagi menyadari tangannya yang masih di pegang Radit.


"oke maaf" Radit melepaskan genggamannya dan mengangkat tangannya tanda meminta maaf.


"aku hanya merasa heran, kenapa kau terlihat tidak suka dengan ku. Apa karena sepupu ku?" Radit menebak alasannya dengan raut wajah tengilnya.


"kita tidak terlalu kenal untuk berbicara, apalagi sampai berbicara aku atau kamu. Dan maaf ini tempat kerja....." Lala menjelaskan. Radit bungkam dengan jawaban staf sepupunya ini.


"apa kita tidak bisa berteman...?" Radit kembali menawarkan.


"tidak..." jawab Lala langsung membuat Radit mengangkat alisnya sebelah merasa tidak mengerti." saya sedang bekerja begitu juga dengan anda. Kalau anda ingin berteman jangan dikantor..." Lala menambahkan membuat Radit mengendurkan rasa waspadanya.


Radit tersenyum mendengar jawaban staf sepupunya itu. " baiklah....., selamat bekerja kembali" Radit berucap dengan senyuman yang mengembang.


Memilih mencari aman dan memutuskan kembali keruangannya.


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


__ADS_2