Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 51 Emosi


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Revan bergegas menuruni tangga dengan sesekali melihat jam yang melingkar ditangannya.


langkahnya seketika terhenti disaat melihat siapa yang ada di meja makan.


"pagi....." ucap gadis bernama Laura dengan senyum manis yang tak surut dari bibirnya.


Revan mengernyitkan dahi seolah bertanya disaat ada orangtuanya dia ngapain?.


orantuanya yang bingung memilih diam dan melanjutkan makannya.


Laura merupakan anak tunggal dari salah satu rekan bisnis tuan Ardian. Tidak pernah ada kesepakatan apapun sebelumnya kecuali kesepakatan kerja. Tapi Laura memutuskan dengan sepihak kalau Revan adalah miliknya. Meski manja dan angkuh, Laura tidak pernah menunjukan sifat buruknya di depan keluarga Tuan Ardian selain karena menghormati dia juga tidak ingin suatu saat hubungannya dengan Revan terganggu karena tindakannya.


Padahal tanpa melakukan apapun, jelas hubungan mereka sudah tidak baik. Revan yang tidak suka dengan sikapnya, Revan yang tidak suka semua hal yang berhubungan dengannya.


Semenjak Laura mengetahui perihal kandasnya hubungan Revan dengan mantannya yang terdahulu. Membuatnya makin genjar dalam memenangkan hati tuan sekaligus pria idamannya.


orangtua Revan tidak melarangnya, menginggat hal yang dilakukannya masih pada tahap aman. Toh mereka juga taunya Revan tidak mmiliki kekasih, jadi tidak masalah dong kalau Laura terus berusaha mempertahankan perasaannya.


Revan berjalan ke arah kulkas, tanpa membalas sapaan Laura. Dia mengambil sekotak susu dan kembali ke meja. Mengambil roti selai yang sudah disediakan untuknya. Dan berniat langsung berangkat kerja.


"enggak sarapan di sini saja sayang...?" Mama Fatma bertanya pada putranya setelah melihat putranya yang terkesan menghindari kontak dengan Laura.


"Revan langsung aja ma, pa. Revan berangkat " ucapnya tanpa menoleh sedikit pun pada orang yang berada di meja makan.


Yang menatapnya dengan tatapan yang berubah redup. Disaat orang yang ditunggu malah mengacuhkannya.


Setelah Revan berlalu, Laura menundukan pandangannya, seolah menyembunyikan rasa sedih yang tengah dirasanya.


"Kamu aneh...." ucap Riva memecah kesunyian dimeja makan tersebut. Dengan tatapan langsung kearah Laura yang artinya orang yang dimaksud adalah dia.


"maksud kakak?" tanya Laura yang membalas tatapan kakak dari pria yang di idamkannya itu.


"kamu terlihat kecewa, padahal sejak awal Revan tidak pernah membuka celah untuk mu. Satu hal yang jelas membuat dia tidak bersikap kasar padamu yaitu, hubungan baik orangtua kita. Dan lagi, bukankah kamu harusnya paham gimana Revan, dia tidak suka dipaksa dan sialnya kamu melakukan itu sejak awal." jelas Riva panjang lebar seolah menyadarkan lawan bicaranya kalau dia sudah tidak punya kesempatan apapun.


"Va....." ucap mama Fatma menegur putrinya. " kamu berlebihan..." ucapnya lagi.


Bagaimana pun juga mama fatma tidak tega melihat anak rekan bisnis suaminya di buat diam tak berkutik oleh putrinya.


"enggak ma, kita harus memperjelas semuanya." sanggah Riva dengan ucapan mamanya. Karena menurutnya sikap santai orangtuanya yang seperti ini yang membuat Laura bersikap seenaknya.


"dan kamu, perhatikan kembali sikap mu!. Jangan melewati batasan karena kalau sampai kamu melakukan itu, Kamu akan melihat sisi lain Revan" ultimatum Riva kembali pada Laura.

__ADS_1


Tuan Ardian dan nyonya Fatma memilih diam, seolah membiarkan anak-anaknya menyelesaikan permasalahan mereka.


...****************...


Suasana menuju kantor utama Jaya Group tampak senyap. Lala terus memperhatikan kekasihnya yang datang menjemputnya dengan raut wajah kusut.


Ingin bertanya tapi takut lancang.


Hah....,bagaimana ini. Apa dia cape harus antar jemput aku. Tapi aku kan tidak minta.


Lala terus bermonolog dalam hatinya. Merasa canggung dengan situasi ini. Sesekali Lala melirik Revan dengan ekor matanya. Merasa bersalah walaupun tidak tau apa sumbernya.


"Abang...." akhirnya Lala menyerah. Dia lebih baik kena omel dari pada merasa canggung terus. paling tidak dia harus tau titik permasalahannya.


"bang...." ulang Lala menatap Revan.


"hmmm.... " jawab Revan pelan dengan fokus tetap pada jalan didepannya.


"abang ada masalah?, atau kalau abang___" ucapnya Lala terpotong


" jangan aneh-aneh. Tidak ada masalah. Hanya sedang kesal saja. Jadi berhenti berfikir yang aneh-aneh" potong Revan dengan menatap sejenak ke arah wanitanya.


Lala terdiam mendapat jawaban dari kekasihnya. Bukan jawaban ini yang dia harapkan.


"terus Lala harus apa?. Diam aja seperti ini?" tanya Lala yang tidak bisa membuang kerisauan nya.


Lala terdiam. entah kenapa rasanya ingin menangis mendengar ucapan kekasihnya tapi bukankah dia sudah di minta untuk tetap diam.


Lala melempar pandangannya ke arah jendela. Merasa perlu meredam kekesalannya yang tiba-tiba muncul karena sikap kekasihnya.


Memangnya cuma dia yang bisa kesal.


Sesampainya di kantor, Lala keluar dan berjalan dengan tergesa. Berharap dia bisa sampai meja kerjanya dengan segera. Meninggalkan Revan yang menatap kepergian wanitanya dengan diam.


"Bodoh...!" ucap Revan membenturkan keningnya. " kau bahkan menyakitinya tanpa sadar. Bodoh!" lanjutnya.


Revan keluar dan meninggalkan mobilnya. Berlari dengan sedikit cepat untuk mengejar lift yang akan tertutup.


Karyawan yang melihat tuannya sedikit tercengang dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan, ada masalah kah?. Sikap tuannya seperti itu menimbulkan rasa kekhawatiran.


Revan masuk ke lift menuju ruangannya dengan Lala yang ada didalamnya. Lala sedikit terkejut, karena tuan sekaligus kekasihnya ini masuk dengan wajah dingin dan datar.


Jangan lupakan deru nafasnya yang memburu karena mengejarnya.


Membuat Lala tidak bisa mengalihkan pandangannya kearah kekasihnya, sementara Revan menatap laju lift yang membawanya keatas.


Apa sikapnya berlebihan kali ini. Lala bingung tapi merasa takut memulai obrolan. suasana dalam lift sepi seolah mereka berperang dengan fikirannya masing-masing.

__ADS_1


"aku berlebihan maaf" ucap Revan akhirnya. Revan tidak pernah ragu atau gengsi meminta maaf duluan, apalagi ini memang salahnya.


Salahnya karena tidak bisa bersikap wajar seperti biasanya setelah keluar dari rumah tadi.


Salahnya karena tidak bisa menutupi kekesalannya pada wanita itu. Yang sebenarnya rasa takut lebih mendominan hatinya, takut perempuan itu nekat menemui wanitanya dan akhirnya usahanya selama ini sia-sia.


Usaha untuk meyakinkan wanitanya untuk tetap bersamanya.


Terlalu awal untuk khawatir tapi tidak salah juga bukan?. Kesalahannya adalah tidak bisa mengontrol kekesalannya didepan wanita yang sebenarnya dia khawatirkan.


Yang tanpa sadar bisa membuat wanitanya menjauh.


"maaf...," ulang Revan sekarang menatap langsung wanitanya. " aku seharusnya tidak mengacuhkan mu" tambahnya lagi. Lala merasa sikapnya berlebihan sampai orang seperti tuan mudanya harus meminta maaf berulang kali.


"abang...." ucap Lala ragu dengan menatap kekasihnya.


Revan yang mendengar suara wanitanya, melangkah maju menggapai tangan kanan wanitanya. Memberikan kecupan disana.


"aku akan lebih berhati-hati kedepannya" ucapnya demi tidak mengulangi sikapnya pagi ini.


Lala menggeleng tanda tidak setuju " abang kalau ada masalah ngomong sama Lala ya. Jangan buat Lala takut " ucap Lala lemah seraya menatap tangannya yang digenggam erat.


Iya, untuk Lala rasa takut dengan semua sikap kekasihnya lebih mendominasi.


"hmmm..." Revan mengangguk.


Lift berhenti dan pintunya terbuka, Tautan tangan merek terlepas. Revan berjalan lebih dulu bersikap seolah tidak pernah ada masalah.


Mereka bisa saja bersikap layaknya kekasih, tapi mengingat mereka masih di kantor dan ini masih terbilang pagi. Revan memilih bersikap sesuai dengan keinginan wanitanya yang belum siap untuk memproklamirkan hubungan mereka.


Revan terus berjalan dan masuk keruangannya, dengan Lala juga ikut duduk di kursi kerjanya. Memulai pekerjaan mereka dengan masalah yang sudah terselesaikan.


"Huh......."Lala menghembuskan nafasnya kasar sebelum memulai kerjanya pagi ini.


Hembusan nafas kasar yang keluar pertanda dia merasa lega dengan situasinya saat ini.


Lala merasa sedikit lucu dengan sikalnya tadi. Apalagi sikap spontannya membuat Lala melihat sisi lain dari kekasihnya.


Kekasihnya yang merupakan orang paling penting di kantor ini, tidak merasa segan meminta maaf hanya untuk tindakan sepelenya.


Kedepannya Lala harus bersikap lebih hati-hati. Tidak ingin membuat tuan sekaligus kekasihnya itu merasa tidak nyaman karena responnya.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2