Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 61 Memantapkan Hati


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Revan mengetuk-ngetuk stir mobil yang tengah dikemudinya.


Memikirkan saran sang mama.


Kamu hanya perlu menjauh dan memberi ruang untuknya memahami perasaannya.


karena memaksanya sekarang hanya akan membuat dia beranggapan kamu bisa melakukan apapun dan mengekangnya.


Ucapan sang mama masih terdengar jelas di benak Revan. Memang tidak salah untuk mencoba meski Revan takut dengan reaksi yang akan dia dapatkan.


Paling tidak dia harus memastikannya sendiri bukan?.


Revan tersenyum dibalik kemudinya menatap kekasihnya yang berjalan kearah mobilnya. libur sudah berlalu saatnya mereka kembali kerutinitas hariannya.


Bekerja untuk bertahan, bekerja untuk menyambung hidup. Terkesan klise tapi itulah adanya.


Jika orang berfikir orang rajin bekerja karena mereka suka kalian salah besar. Karena sejatinya manusia lebih senang mengerjakan apa yang dia suka dan itu semua dilakukan dirumah.


tapi tuntutan kebutuhan membuat orang harus rela bertahan untuk selalu mengerjakan rutinitas yang pastinya sangat membosankan ini.


Lala membuka pintu mobil, masuk dan duduk dengan manis seperti pagi-pagi sebelumnya.


Lala memasang sabuk pengaman dan menatap kekasihnya yang tersenyum kearahnya. Senyum yang selalu di tunjukan setiap harinya.


Lala sepertinya sudah mulai sangat terbiasa dengan sikap manis kekasihnya. Terkadang Lala berfikir bagaimana dia akan bersikap setelah waktu percobaan mereka selesai.


Apa mungkin hubungan mereka akan lebih manis dari ini atau justru sebaliknya.


Memikirkan hal itu terkadang membuat Lala takut. Takut karena orang yang selalu menemani, memberi pengertian dan selalu berusaha menciptakan rasa nyaman disampingnya akan berbalik arah dan meninggalkannya.


Entah meninggalkannya karena dirinya, kekurangannya dan atau bosan padanya. Rasa takut itu terkadang selalu menjadi alarm untuk Lala agar selalu bersikap biasa saja.


Revan masih menatap kekasihnya dengan senyuman manis yang masih menghiasi wajahnya.


"kita berangkat?" bertanya apakah kekasihnya sudah siap atau belum.


"sudah abang." jawab Lala dengan sesekali mengecek sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.


"kenapa...?" Revan bertanya.


"enggak, cuma ngecek aja bang. Takutnya belum terkunci" jawab Lala menatap kekasihnya setelah memastikan sabuk yang digunakan terkunci dengan baik.

__ADS_1


"kalau pun belum. Abang akan pastikan akan membawamu dengan baik dan aman" jawab Revan tersenyum dan mulai melajukan mobilnya.


Lala yang merasa tersanjung dengan jawaban kekasihnya melemparkan senyum manisnya " terimakasih abang" ucap Lala.


Suasana dalam mobil kembali sepi dengan Revan yang fokus dengan jalanan di depannya.


Karena ini hari senin suasana jalan raya pagi ini lumayan ramai. Padahal mereka berangkat di jam yang sama setiap harinya.


Mungkin karena hari pertama pasca libur membuat orang-orang bersemangat untuk berangkat bekerja atau entahlah.


Disaat sampai kantor dan mobil berhenti di parkir khusus petinggi Jaya Group seperti biasa Lala akan keluar lebih dulu dan masuk kedalam kantor dan setelah 10 menit barulah Revan menyusul.


Untuk menghindari gosip disekitaran kantor dan keinginan Lala yang meminta untuk merahasiakan hubungan mereka membuat Revan menerima akan usul sang kekasih.


Berbeda dengan hari sebelum-sebelumnya Revan akan menyusul Lala tepat setelah 10 menit Lala keluar mobil.


Kali ini Revan memilih menyandarkan kepalanya tepat diatas kemudi. Merasa perlu menenangkan fikirannya. Berharap setelah fikirannya tenang dia bisa mengambil kepetusan yang bijak dan sesuai untuk keduanya.


Revan ingin egois tapi bukankah dia terlalu memaksakan kehendaknya kalau begini?.


"Huh......." Revan membuang nafas kasar. Seolah membuang semua beban hati yang menghimpit dadanya. Bagaimana bisa Cinta membuatnya serapuh dan selemah ini.


Jatuh cinta untuk kedua kalinya dan Revan kembali merasakan sakit luar biasa. Yang pertama sakit karena ditinggalkan dan sekarang sakit karena mencoba meninggalkan.


Ting


Lala merasa aneh tapi dia mencoba berfikir positif, mungkin kekasihnya hanya bersikap profesional saat ini.


Setelah beberapa menit Revan masuk ruangannya, Lala masih termenung.


Jujur Lala merasa sikap kekasihnya agak beda hari ini. Terlepas dari senyum manis yang dia tampilkan. Tapi Lala merasa dibalik senyum ada hal yang tengah disembunyikan kekasihnya.


Sudahlah, aku bisa bertanya nanti, sekarang fokus kerja aja dulu.


"Tuan muda sudah datang...?" Dimas bertanya pada lala.


"sudah pak, baru saja..." Lala memberitahu.


"kalau gitu saya duluan. Ada hal yang perlu saya bicarakan dengan tuan muda. Tahan dulu tamu yang akan menemui tuan muda" Dimas memberitahu.


"baik pak" menjawab pasti.


*Apa terlihat jelas kalau hanya basa basi. soalnya saya yakin mereka berangkat bersama.


hehhehe lucu juga membayangkan tuan muda akan patuh pada staf yang merangkap sebagai kekasihny*a itu.


Revan mengernyit menatap sekertaris sekaligus sahabatnya yang masuk dengan santai tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


"lihatnya biasa aja dong. Aku udah tanya didepan perihal keadaan di sini. Dan aman kan?" jelas Dimas santai.


"baiklah akan saya ulang tuan muda" Dimas berniat untuk mereka ulang adegan masuknya dengan lebih sopan. Setelah melihat tatapan tajam tuan sekaligus sahabatnya itu.


Revan menghela nafas jengah, " jangan buang waktu Dim!. Ada apa kau kemari?" Revan bertanya langsung karena sedang malas meladeni sikap tengil sahabatnya.


"baiklah.." Dimas menghampiri meja kebesaran tuan mudanya. Duduk dengan santai di kursi depan tuan merangkap sahabatnya.


"ini laporan yang sudah saya cek dan perlu tanda tangan anda. Dan..." ucapan Dimas terhenti


"Dim....." menatap tajam


"hahahh oke, gue ulang. Ini berkas perlu tanda tangan loe, ini berkas yang perlu ditinjau ulang menurut gue, ini berkas laporan dari setiap Divisi dan ini berkas mengenai proyek yang ditangani Radit" tunjuk Dimas menjelaskan berkas yang bermap rapi dengan warna dan kode yang berbeda-beda.


Seolah tidak ingin mempersulit kerja tuan mudanya, Dimas memperjelas semua berkas yang dibawanya.


"ada masalah?" bertanya dan mulai mempelajari berkas mengenai sepupunya itu.


"sejauh ini semuanya aman. Dia bekerja dengan rajin dan teratur. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Jadi menurutku untuk sekarang aman lah" Dimas menjelaskan.


"dan lagi Van menurut gue ya, Radit perlu ruang untuk mengekpresikan kemampuannya. Menempatkan dia dibawah mu menurutku terlalu berlebihan. Seharusnya dia ditempatkan di kantor cabang agar dia bisa fokus dan bisa berkembang sesuai kemampuannya" Dimas menjelaskan apa yang didapatnya setelah menyelidiki tindak tanduk Radit pasca bergabung dengan kantor pusat Jaya Group.


"perlu ruang. Hah........." menghela nafas panjang. " kenapa semua orang perlu ruang?" Revan bergumam lirih.


"gini Van...."Dimas ingin menjelaskan ulang. Karena menurutnya Revan belum mengerti dengan penjelasannya tadi. Apalagi setelah Dimas mendengar helaan nafas kasar dari sahabatnya ini.


" Radit perlu pembuktian begitupun dengan gue dan ayah. Jadi biarkan semuanya seperti ini. Tetap awasi dia dan jangan sampai mencolok" jelas Revan.


Dimas menganggukkan kepalanya, wajar sih kalau tuan besar Ardian dan Revan melakukan ini pada Radit. Anggap saja ini masa orientasi untuk Radit.


"masalah mengawasi, apa kamu belum percaya sama Radit" Dimas pertanya hati-hati.


" percaya?," Revan mengetukan jarinya di meja." mungkin aku percaya tapi belum sepenuhnya." sambung Revan.


hah itu sama saja belum tuan muda.


"hm..., baiklah. Kalau gitu lanjutkan kerjaan loe dan hubungi gue kalau berkas ini sudah siap" menunjuk beberapa berkas yang perlu perhatian khusus dari Revan.


Revan menatap jengah, jengah karena merasa dia diperintah oleh sekertarisnya.


"bwhhhahhhahahha" Dimas tertawa terpingkal setelah melihat reaksi sahabatnya.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2