Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 64 Dilema


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Setelah pembahasan panjang lebar yang terkesan saling menyudutkan, apakah sekarang tuan Revan merasa lega?. Mungkin iya? Dan mungkin juga tidak?.


Tuan Revan termenung sejenak meresapi maksud dari semua ucapan wanita yang di cintainya.


Apa yang harus dia lakukan sekarang. Bersikap seperti awal mereka bertemu atau bagaimana?.


Revan bingung namun rasa kantuk mulai menyerangnya. Sepertinya obat yang dia minum baru mulai bereaksi.


Revan memilih merebahkan badannya disofa. Melupakan sejenak masalah asmaranya yang rumit.


Badannya perlu istirahat, begitu juga dengan otaknya. Berharap setelah bangun nanti badan dan otaknya kembali segar.


Tidak terasa waktu sudah menunjukan fukul 5 sore yang artinya jam pulang kerja sudah lewat dan Revan baru saja terbangun.


Entahlah bagimana nasib pekerjaanya tapi yang jelas dia merasa lega karena badannya teras lebih bugar.


Setelah membersihkan diri pasca bangun tidur, Revan bersiap akan pulang setelah keluar ruangan dia melihat meja stafnya sudah kosong.


Apa dia pulang duluan?. Lagian akan sangat aneh kalau kami pulang bersama setelah berdebatan tadi.


Revan berjalan kearah lift dan disaat dia akan menutup pintu lift dia melihat Lala keluar dari ruangan pantry dengan tangan membawa sebotol air.


Lala menyimpan botolnya dan melihat sekeliling dan tatapan matanya jatuh pada pintu lift yang akan tertutup dimana dia melihat kekasihnya (ah tepatnya mantan kekasih seperti yang mereka sepakati) ada didalamnya.


Sama seperti dirinya yang tengah menatap Revan langsung. begitu pun dengan Revan yang menatap langsung juga kearahnya.


Sampai lift tertutup dan mulai bergerak turun Lala masih terdiam menatap kearah Lift.


"apa dia baik-baik saja?" entah pada siapa sebenarnya pertanyaan itu Lala lontarkan apa untuk dirinya atau kekasihnya.


Kekasih?, apa aku masih pantas menyebutnya begitu meski hanya dalam hati.


Sekarang semuanya berakhir seperti yang kau mau dan aku hanya perlu bersikap seperti awal bukan?.


Lala memutuskan untuk kembali kemeja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Toh tidak ada yang harus ditunggunya lagi. Sekertaris Dimas memang sudah pulang lebih dulu karena memang ada pekerjaan diluar kantor sedangkan tuan mudanya baru saja pulang.


Jadi Lala tidak pelu merasa sungkan lagi karena pulang lebih dulu dari atasannya. Karena memang tidak begitu.

__ADS_1


Lala berjalan keluar dari gedung kantor. Duduk di halte tempat biasa dia menunggu bis atau ojek online yang dipesannya.


Keadaan berputar begitu cepat menurutnya. Baru kemarin dia merasakan rasa dihargai, disayangi dan dilindungi. Tapi sekarang hanya karena kata udahan membuatnya kembali segan. Jangankan berharap untuk kembali sekedar berjalan berdampingan saja rasanya tidak akan mungkin.


Apa aku akan dipecat setelah ini. Biasanya di drama seperti itu, berhubungan dengan atasan tempat kerja setelah itu putus dan si bos memecat mantanya karena alasan tidak ingin melihatnya lagi.


Lala bermonolog dalam hati membuat andai-andaiannya sendiri.


Lala menatap layar smartphonenya, berharap ada sesuatu hal yang tertinggal. Tapi kemudian Lala menggelengkan kepalanya. Mengusir fikiran-fikiran yang sembarang mampir.


Tin,


"Dengan Mbak Lisa" suara tukang ojek membusarkan fikiran Lala.


"iya mang." menjawab cepat dan segera berdiri menghampiri amang ojeknya.


"helmnya mbak" amang ojek menyodorkan helm khusus penumpangnya


"terimakasih mang" Lala menjawab dan segera naik ke motor yang dipesanya.


Disepanjang jalan Lala memperhatikan sekitarnya, merasa apa yang dilihatnya adalah hal yang baru.


Padahal dia merasa bak putri hanya satu bulan, tapi sudah terlanjur merasa nyaman.


Ini hal yang paling ditakutkan Lala, tanpa sadar dia merasa bergantung pada tuan mudanya.


Kami terlalu jauh berbeda, bahkan hubungan kami baru saja berakhir dan rasanya tembok diantara kami terasa lebih tinggi dari sebelumnya.


Apa hanya aku yang merasakan ini, apa abang juga merasa sedih?.


Abang sakit, apa sekarang jauh lebih baik?. Apa tidak masalah kalau aku bertanya?.


Lupakan La, dia tuan muda Revan dan tetaplah yakin kalau dia akan selalu baik-baik saja.


Tidak terasa ojek yang membawa Lala sudah masuk gang kosnya. Bahkan Lala masih termenung dengan fikirannya.


Bersamaan dengan ojek yang berhenti didepan gerbang. Sebuah mobil berhenti tepat di depan gang. Dengan pandangan lurusnya Revan menatap interaksi mantan wanitanya, iya sekarang Lala sudah menjadi mantan wanitanya karena pilihannya. Dan dia memutuskan mengikuti Lala dari kantor hanya untuk memastikan keselamatan wanita istimewanya itu.


Iya Lala sangat istimewa menurut Revan tapi Lala bahkan tidak menyadarinya. Revan harus melakukan ini bukan untuk memastikan perasaannya.


Entah benteng apa yang menghalangi mereka, Revan tidak mengerti apa dia seburuk itu sampai untuk menyentuh dan meyakinkan stafnya dia tidak mampu.


Disaat Lala masuk gerbang dan amang ojeknya berlalu, barulah Revan menjalankan mobilnya untuk melanjutkan jalan pulangnya.

__ADS_1


Rasa pusing dikepalanya berkurang, bahkan hampir tidak ada tapi tergantikan perasaan sesak yang entah kenapa sangat menyiksanya.


Kepercayaan dirinya jatuh, sejatuh-jatuhnya karena seorang staf. Bagaimana tidak perasaan tulus yang dia tawarkan tidak mendapat balasan seperti yang dia inginkan.


Sepertinya kali ini Revan benar tidak ingin diganggu terlihat dari arah mobilnya, seharusnya arahnya ke arah rumah utama. Tapi berbeda kali ini Revan mengarahkan mobilnya kearah kawasan Apartemen elit.


Iya Revan memilih untuk menenangkan fikirannya. Memastikan bahwa keputusannya tidak salah.


Disaat memasuki Apartemennya Revan disambut dengan suasana gelap. Dan entah kenapa dia merasa nyaman dengan suasana ini.


Masih terbayang saat Lala menunggu ojeknya, yang Revan lihat tidak ada penyesalan bahkan kesedihan dimatanya.


Entahlah apa dia memang pintar menyembunyikan perasaannya atau karena dia memang tidak pernah merasakan apapun.


Dengan banyaknya hal yang difikirkan membuat Revan tertidur disofa ruang tamu. Ini seperti bukan tuan muda Revan bahkan dia tidak membersihkan dirinya sebelum tidur.


Paginya Revan terbangun, dan alangkah terkejutnya iya, bagaimana tidak?. Dia tidur masih menggunakan pakaian kantor lengkap dengan sepatunya.


Astaga Revan kau benar-benar parah hanya karena seorang staf. Kau bisa menaklukan perempuan yang jauh lebih baik dari padanya.


Revan berdialog dalam hati sambil terus memijat kepalanya. Bahkan dia tidak bisa mengontrol hatinya. Dia terus berkata hanya staf, tapi masalah tidak segampang itu.


Revan merogoh smartphone nya dia harus bisa menggeser perasaannya sekarang. Karena ada hal yang lebih perlu perhatian khususnya.


📱


"Dim handle semua pekerjaan pagi ini. Termasuk kline kita yang dari jepang!"


Revan memerintah sama persis dengan dia saat bertatap muka langsung dengan sekertaris merangkap sahabatnya itu.


📱


". . ."


Balasan disebrang sana mengernyit."kenapa dia ini?" Revan langsung menghubungi Dimas langsung.


📱


"Kau fikir aku kenapa?, jangan aneh-aneh deh" Revan menyemprot langsung sekertatisnya.


Setelah mengucapkan hal tidak perlu itu Revan mematikan sambungan teleponnya, Revan bahkan seakan malas mendengar jawaban selanjutnya dari sekertarisnya itu.


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


__ADS_2