Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 54 Revan


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Setelah perdebatan yang terbilang tidak penting Revan mengikuti langkah kekasihnya ke arah kamar kosnya. Memperhatikan sekeliling seolah mewaspadai hal-hal yang seharusnya tidak difikirkannya.


Disaat pintu kamar kos terbuka Revan mengernyit memperhatikan isi dalam kos dimana kamar kos yang luasnya hanya beberapa meter dengan ranjang ukuran satu orang berada di pojok dengan meja nakas dan lemari pakaian yang disusun sejajar.


Suasana kos tampak sangat sederhana, satu pintu yang terhubung kearah dapur dan kamar mandi.


Revan terus memperhatikan sekitar ruangan, seolah memastikan apa benar sang kekasih tinggal di tempat yang menurutnya sangat sempit.


"abang duduk aja dulu, Lala bersih-bersih dulu sebentar.." Lala menggantung tasnya dan masuk ke arah pintu yang terhubung ke dapur menuju ke kamar mandi.


Hah......, bagaimana bisa manusia tidur ditempat sekecil ini.


Gumam Revan dengan tangan meraba pinggiran kasur.


Setelah selesai membersihkan kaki, tangan dan wajahnya Lala kembali ke kamar dengan pakaian yang sudah berganti.


Lala membiarkan kekasihnya terus memperhatikan kamarnya, karena menurutnya kekasihnya akan semakin penasaran jika di minta untuk berhenti.


Lala membuka kulkas mini yang dimilikinya, mengambil dua botol air mineral dan satu toples kukis yang ada di atas kulkas mininya.


"abang nyemil ini aja ya, adanya cuma ini soalnya" Lala berucap seraya berjalan kearah kekasihnya.


Lala duduk dikarpet bulu halus yang berada tepat di bawah ranjangnya. Mengambil meja kecil yang bisa di buka lipat untuk menyimpan kukis dan air mineral yang dibawanya.


Revan yang melihat kekasihnya duduk dibawah memilih ikut menyusul.


"apa memang tempatnya seperti ini?" Revan akhirnya memilih bertanya tentang kegelisahannya.


Lala mengernyit mencoba memahami maksud dari ucapan kekasihnya ini. " maksud abang gimana?.." menatap sekeliling kamar kosnya. " dari pertama kos tempatnya memang seperti ini" meski bingung Lala memberi jawabannya.


Revan menghembuskan nafasnya, merasa tempat tinggal kekasihnya terlalu sempit tapi jika dia menawarkan tempat tinggal yang baru apa kekasihnya tidak akan menganggapnya berlebihan.


Revan masih menimbang kata apa yang akan di lontarkannya pada kekasihnya ini.


" tempat ini cukup kok bang, untuk Lala. Lagian Lala kan cuma sendiri aja" Melihat kegelisahan kekasihnya Lala mencoba memberi pengertian yang baik menurut versinya.


"cih..." Revan mendecih sebagai tanda kekesalan atas jawaban kekasihnya.


Ini orang kenapa sih, Aku yang nempatin aja biasa saja kok. Tidak merasa keberatan sama sekali.


"Ada masalah bang?" Lala memilih bertanya.

__ADS_1


"Sama sekali tidak " ucapnya seraya meraih air mineral yang sudah disediakan dan mulai membuka tutupnya dan menyimpannya kembali. Dan mengambil botol yang lain untuk dibuka lagi tutupnya.


Bohong banget sih, padahal kelihatan sekali tidak sukanya. Eh tapi kenapa tindakannya semanis ini sih...


Hehhehe


Lala terus memperhatikan sikap kekasihnya yang terkadang memang membuatnya tersanjung walau sekecil ini.


" Biasanya kalau pulang kerja ngapain aja?" Revan memilih bertanya hal yang lain setelah meneguk air mineralnya dengan sesekali tangannya mencomot kukis yang ada di toples.


"Hmmmm, biasanya kalau sudah sampai kos, mandi, makan kalau belum habis itu langsung istirahat bang. Biar besok bangunnya enggak telat" Lala menjelaskan kegiatannya.


Revan mengangguk " apa kamu masak sendiri?" Bertanya lagi


"E,em...." Mengangguk tanda mengiyakan.


"Bisa masak?" Revan bertanya dengan memicingkan matanya, seolah meragukan jawaban kekasihnya.


"Enggak meyakinkan ya bang..,ahahhahahhaha" Lala tertawa lepas melihat mimik wajah kekasihnya yang meragukan kemampuan memasaknya.


Revan tersenyum seolah mengejek dengan jawaban kekasihnya.


Lala fokus pada kukis yang tengah dilahapnya "kalau untuk Lala sendiri masih bisa bang. Walau untuk rasanya pas-pasan." Lala tersenyum menyampaikan pendapatnya mengenai kemampuannya.


" Abang mau coba...?" Lala bertanya sekedar menawari untuk menghilangkan keraguan di raut wajah kekasihnya.


Meski menginginkannya Revan juga tidak ingin egois, dia juga harus memikirkan wanitanya yang sedang lelah.


Ya walaupun untuk sekedar meladeninya sekarang ini juga sudah bertambah lelahnya.


"Iya bang" jawab Lala cepat tidak ingin kekasihnya sampai berubah fikiran.


"Abang nginap sini boleh enggak...?" Tanya Revan tiba-tiba dengan pandangan masih mengedar ke seluruh ruangan kos.


Lala yang mendengar permintaan kekasihnya tentu saja terkejut. Bagaimana bisa kekasihnya meminta hal seperti itu dengan santainya. Tidak sadarkah dia kalau permintaannya barusan membuat Lala tegang.


"Boleh enggak..?" Bertanya sekali lagi karena merasa belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


...****************...


Revan tersenyum mesem sepanjang perjalanan pulang kerumah. Bahkan disaat akan menaiki tangga ke lantai dua senandung ceria masih terdengar.


Rupanya jatuh cinta semanis ini, dag dig dug yang datang tiba-tiba dan tak terkendali tapi terasa sangat menyenangkan. Seolah jantung sengaja memompa adrenalinnya.


Bahkan senyuman pun senantiasa menghiasi seolah tidak akan yang perduli dengan hari esok.


Menikmati rasa kangen yang muncul bahkan disaat akan berpisah. Bukankah lucu. Pantas sih banyak yang bilang cinta bisa membuat orang gila mungkin tepatnya terlihat seperti orang gila.

__ADS_1


Dan Revan kali ini menikmati vase itu, meski terkadang masih ada cekcok tidak masalah. Itu Revan anggap sebagai bumbu menyedap cinta.


manisnya........


Batin Revan disaat mengingat kekasihnya yang menampilkan wajah terkejutnya disaat dia bertanya boleh tidaknya dia menginap.


Bahkan disaat jawaban belum Revan dapat, dia sudah tidak tahan untuk tidak tertawa terbahak melihat raut kaget kekasihnya.


Melihat sikap kekasihnya pasti dia berfikir kalau hanya main-main saja bertanya soal itu.


Mungkin untuk sekarang iya, tapi dikemudian hari siapa yang akan tau kan?.


"van......?" suara dari ujung tangga terdengar menyapa sekaligus menegurnya.


Revan berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya "ma..., kenapa belum tidur?" tanya Revan lagi dengan langkah kembali ke tangga bawah menghampiri sang mama.


Disaat sampai tangga terakhir Revan menggandeng tangan sang mama posesif.


"tumben belum tidur, apa ayah membuat masalah..?" Revan bertanya lagi setelah duduk di sofa ruang keluarga dengan tangan yang terus saling menggenggam.


"tidak, kami baik-baik saja. Hanya saja mama terbangun mendengar deru suara mobil disaat mama akan keluar kamar sebentar" jawab sang mama yang mulai menunjukan rasa khawatirnya.


"tadi juga habis ngobrol sama kaka juga, makanya mama belum tidur.." jelasnya lagi.


Revan menatap sang mama " itu orang kenapa lagi. Masalah di Butik belum selesai juga....?" Revan terlihat kesal takut sang kakak membuat masalah yang mengganggu sang mama.


"hus..., kenapa ngomong gitu. Dia kakak kamu loe!" peringat sang mama.


Revan menghembuskan nafasnya pertanda lega seraya merebahkan badannya ke pangguan sang mama.


Rasanya sudah lama sekali tidak bermanja dengan sang mama. Rasanya masih tetap nyaman dan Revan suka ini.


Meski dibilang anak mama Revan tidak perduli yang penting dia nyaman begitu pula untuk sang mama.


"kakak kamu tidak memberitahu masalah di Butik karena yakin bisa menyelesaikannya " lagi bela mama Fatma untuk putri sulungnya.


"iyalah, orang masalah kaya gitu aja kok. Dia hanya perlu di latih sedikit lagi maka akan sangat berguna di Butik mama. Hahahahha" Revan tertawa renyah dengan posisi masih berbaring.


"kamu itu, kalau kakak mu dengar dia bisa saja salah paham." mama Fatma memperingati putranya.


"enggak lah ma, kakak sudah paham. Orang Revan yang dimanfaatin ayah aja dia biasa saja. Dan kali ini mama harus bisa juga manfaatin dia.." goda Revan pada sang mama.


Revan terus tertawa membayangkan wajah kesal kakaknya kalau sampai harus mendengar ucapannya barusan. Dengan sang mama terus mengelus rambut putranya dengan sayang.


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


__ADS_2