
🍀
🍀
🍀
Lala masih menajamkan pandangannya kearah orang yang membuatnya terkejut.
"kenapa ekpresi mu gitu...?, tidak suka abang disini?" Revan mengernyitkan dahi melihat reaksi kekasihnya.
Iya orang yang berbisik itu adalah tuan muda Revan. Revan bergegas untuk pulang disaat melihat sepupunya yang keluar dari ruangannya.
Pembahasan kali ini dengan Radit sepupunya memang merupakan kali pertama mereka berbicara berdua dengan durasi waktu yang lama, tanpa ditemani sekertaris Dimas.
Bahkan Dimas seolah sengaja memberi ruang untuk tuan Radit agar bisa menyampaikan maksudnya ke pada tuan Revan tanpa harus merasa di intimidasi.
Kalau pun mereka tidak akur tapi Dimas merasa mereka perlu berbicara entah itu tentang masalah pribadi, keluarga, maupun kantor Jaya Group.
"kenapa diam?. Kamu benar tidak suka abang disini?" bertanya kembali karena kekasihnya masih diam sejak tadi.
Lala terkejut bukan main, bagaimana bisa orang yang di anggapnya kurang ajar adalah kekasihnya. Dan bukankah Revan sudah memberinya ijin untuk berbelanja sendiri.
Tapi kenapa sekarang keksihnya ini ada di sini. Bahkan Lala tidak sadar sama sekali.
Ah membingungkan.
"bukan gitu bang.." Lala melihat kembali troli belanjanya. Dan setelah itu kembali menatap kekasihnya.
"Lala fikir abang akan tetap dikantor. Tapi kenapa sekarang sudah ada disini?" Lala masih merasa bingung.
"tentu saja aku disini, aku pakai mobil dari kantor, masuk dan langsung mencari mu . Tadi sempat keliling tapi syukurlah akhirnya ketemu disini.." Revan menjelaskan.
Dan memang Revan sudah lumayan lama berkeliling dan disaat dia fikir akan menunggu di mobil bersama pak Yanto dia melihat kekasihnya tengah termenung kearah troli dengan tangan yang masih memegang plastik yang entah apa isinya.
Karena iseng Revan berniat untuk mengejutkan kekasihnya dan benar berhasil bukan?. Tidak hanya terkejut bahkan dia mendapatkan plototan mata dari kekasihnya.
"kerjaannya sudah selesai?" bertanya lagi. Dengan gerakan tangan Lala yang mengembalikan bungkusan keasalnya.
"buktinya abang disini..." ucap Revan seraya merentangkan tangannya. Menunjukan kehadirannya.
Lala mencebik " kalau tau gitu Lala berangkat dengan abang saja tadi.." ucap Lala pelan.
Revan membuka smartphone dan menghubungi Dimas untuk meminta pak Yanto langsung pulang.
"kenapa...?" bertanya karena melihat kekasihnya memainkan HPnya.
"abang yakin kau dengar sayang...." Revan memasukan smartphone nya kedalam saku jasnya.
"ayo lanjut belanjanya..." Revan maraih troli dengan satu tangan sedeng tangan lainnya menggandeng kekasihnya.
"ah hampir lupa bang...." Lala kembali menghadap kearah troli dan mulai menurunkan beberapa jenis daging yang ada di trolinya.
Tadinya Lala berfikir akan membagi dua biaya belanjanya, jadi tidak masalah walaupun banyak. Tapi karena sang kekasih ada disini dia merasa tidak enak. Lala tidak mau sikapnya akan membuat kekasihnya tersinggung.
__ADS_1
Revan mengernyit " kenapa diturunin..?" merasa tidak habis fikir dengan tindakan sang kekasih.
"ini terlalu banyak abang. Sepertinya Lala sedikit mabok tadi sampai- sampai memasukan barang sebanyak ini" jelas Lala dengan tangan terus menurunkan barang yang menurutnya kurang penting.
"astaga aku fikir apa..." Revan menggelengkan kepalanya. " masukan kembali....?" perintahnya.
Lala mengalihkan pandangannya kearah sang kekasih. dan seolah bertanya apa kekasihnya ini tidak mengerti maksudnya tadi.
Karena sudah jelas sekali dia bilang kalau ini terlalu banyak.
"masukkan kembali apapun yang tadi kau simpan...!" kembali memerintah.
"abang yakin itu semua kamu butuhkan, dan lagi kenapa harus dikurangi?. Anggap saja ini untuk kebutuhan bulan selanjutnya bila perlu.." Revan berpendapat.
"astaga bang bukan gitu, lagian Lala juga bingung mau nyimpan belanjaannya dimana?. Ini terlalu banyak..." menjelaskan lagi
"kalau gitu pindah rumah yang lebih besar saja.." ucap Revan enteng
"abang...." menatap tajam menunjukan kalau dia tidak suka dengan ucapan kekasihnya.
"loh kenapa?, abang benar dong...." masih membela diri seolah lupa dengan saran yang diberikan sang mama.
"kalau gitu abang saja yang belanja...." Lala berjalan meninggalkan troli dan kekasihnya.
Revan menghembuskan nafas seolah baru tersadar dengan tindakannya yang berlebihan.
Revan memilih menelpon seseorang dibandingkan mengejar kekasihnya.
Lama panggilan di angkat, namun sepertinya Revan tidak ingin menyerah.
📱
Ucap Revan dengan pandangan lurus kedepan. Rupanya yang Revan hubungi adalah kekasihnya.
Entah kenapa dia memilih menelpon alih-alih mengejar.
Lala yang mendengar suara dari seberang sana menoleh ke arah kekasihnya. Lala seolah tersadar kalau kekasihnya tipe orang yang aneh.
Bahkan banyak yang berasumsi kalau tuan Revan mempunyai kepribadian ganda. Hal itu tentu saja menurut orang yang memang dekat dengannya.
Mood Revan berubah cepat sekali bersamaan dengan sikap yang ditunjukannya, sama seperti kali ini hanya masalah belanjaan dan lebih gilanya lagi dia yang mengeluarkan ide gilanya dan membuat orang merasa tidak nyaman.
meski begitu dia menjadi orang yang paling kesal karena mood nya yang berubah.
Lala harus mengalah lagi kali ini, karena kalau tidak Lala akan menyaksikan tindakan lain dari kekasihnya.
📱
"abang bilang kembali sekarang.....!"
Suaranya terdengar sangat kesal.
Dan Lala merasa takut dan memilih mengalah. Lala memutuskan sambungan telepon seraya menghampiri Revan dimana mereka bertemu tadi.
__ADS_1
Disaat Lala sudah sampai di dekat troli belajaan, Lala masih memilih diam. Dan menatap kesembarang arah.
"lihat abang...." ucap Revan dengan tangan sedikit menarik tangan sang kekasih untuk lebih dekat padanya.
"abang kelewatan....?" bertanya. " tapi abang serius dengan ucapan abang. Bukan karena belanjaan, bukan juga karena tempatnya yang sempit. Tapi karena abang ingin kamu tinggal ditempat yang lebih dekat dengan kantor dan tentunya lebih nyaman" menjelaskan maksud dari pernyataannya.
"maaf kalau abang berlebihan menurut mu.." sambung Revan datar.
"bukannya abang sendiri yang bilang kalau kita masih tahap percobaan. Hubungan kita belum pasti bang dan Lala tidak ingin terlalu terbawa dengan semua perhatian dan kemewahan yang abang kasih. Lala takut..." jelas Lala menyampaikan segala kegundahannya mengenai hubungan mereka.
Karena menurut Lala pindah tempat tinggal bukan hal yang main-main.
"Hah......., " menghembuskan nafas kasar. Revan memang harus sabar untuk meyakinkan wanitanya.
"dengar ya, abang sayang sama kamu dan masalah perhatian abang anggap saja itu salah satu cara abang meyakinkan mu.." Revan menjelaskan maksudnya.
"tap___.." apapun sanggahan yang akan di ucapkan Lala semuanya seolah tertelan kembali dengan ucapan dari kekasihnya ini.
"percaya sama abang. Kamu cukup meyakinkan hati mu dan fokus hanya sama abang.." meyakinkan dengan tangan yang menggenggam erat.
"e,em.." jawab Lala pasrah
"belanjanya lanjut atau enggak..?" bertanya kembali karena memang banyak barang yang ada dalam troli dikembalikan oleh wanitanya.
"udah aja, lagian sudah semua kok. yang Lala kembalikan tadi tidak ada dalam daftar belanja.." Lala menjelaskan untuk sekedar mencari alasan. Tapi memang begitu adanya. Barang yang ada ditroli melebihi dari daftar belanja yang sudah dibuatnya.
Revan menatap semua barang yang ada dalam troli, setelah yakin Revan menggandeng wanitanya dengan satu tangan sedang tangan satunya untuk mendorong troli.
Lala yang digandeng memilih diam, sampai mereka tidak dijajaran es cream yang sangat menggoda. Ini merupakan tempat yang sangat dihindari Lala bukan karena berat badan melainkan karena harga yang mahal dan Lala akan sulit mencegah dirinya untuk tidak membeli.
Lala menghembuskan nafasnya pelan. Seolah prustasi.
Revan membuka box dan mengambil beberapa jenis es cream, mulai dari yang cup, sampai yang bentuknya kerucut dengan berbagai varian rasa.
Lala hanya bisa melongo dengan tindakan kekasihnya, dia ingin mencegah tapi untuk yang satu ini sepertinya dia memilih diam dan mengikuti maunya tuan sekaligus kekasihnya ini.
" kita beli ini buat stok, karena abang akan sering ke kos kamu" ucap Revan santai dengan tangan yang terus memasukan es cream yang diperkirakan ada sekitar 20 buah.
"abang rasa cukup. Kamu mau rasa yang lain?" karena melihat kekasihnya hanya diam Revan bertanya dengan hati-hati.
"udah ini saja...." jawab Lala pasti. Toh kekasihnya ini sudah memasukan hampir semua varian rasanya.
"abang bilang akan sering ke kos, maksudnya apa...?" setelah sadar Lala menanyakan maksud kekasihnya.
Kenapa kekasihnya akan sering datang. Lala memicingkan matanya menatap kekasihnya setelah mencoba menebak maksud kekasihnya.
"bwahahahahhaah..." Revan tertawa terpingkal melihat reaksi wanitanya.
" tidak perlu difikirkan sayang. bukannya abang sudah bilang anggap saja semua perhatian dan sikap abang adalah cara abang meyakinkan kamu. Oke" membulatkan carinya sebagai tanda persetejuan.
"oke" jawab Lala pasrah.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀