Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 83 Makan Malam


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Tatapan tajam Dimas menyorot langsung pada salah satu meja diujung Restoran tempatnya sekarang. ingin datang menyapa tapi segan.


jadilah dirinya hanya bisa memandang dari jauh saja.


kamu payah Dim, berharap mendapat balasan tapi tidak ada pergerakan.


batinnya bermonolog. menyayangkan sikap pengecutnya.


sementara meja dimana orang yang tengah ditatap tidak menyadari masih tenang menunggu kedatangan orang yang minta bertemu.


"Sorry, lama ya?" suara seseorang mengejutkan Riva yang tengah fokus pada email di tab nya.


Riva mengalihkan pandangan, dan menatap orang yang tadi menegurnya.


Riva menyipitkan pandangannya, seolah meyakinkan orang yang ada didepannya memang orang yang tengah ditunggunya.


" Riva dari Jaya Group kan?" orang tersebut kembali memastikan.


Riva menatap laki-laki yang ada didepannya, bahkan tidak berminat menjawab pertanyaan yang dilontarkan.


Riva belum mengalihkan pandangan sampai laki-laki didepannya duduk. pandangan mereka bertemu tapi tidak ada yang membuka mulut.


"khmm, Sorry telat. oh ya perkenalkan aku Dika SD Company" mengulurkan tangannya. sambil membuang rasa canggung yang entah kenapa terasa sangat tidak nyaman.


Dika menarik kembali tangannya karena merasa tidak ada respon. wanita didepannya masih diam dengan pandangan belum beralih dari dirinya.


apa dia marah atau bagaimana?. kenapa diam terus. ah jangan bilang dia terpesona.


baiklah Dika ayo tunjukan semua pesona mu. hehe


terkekeh dalam hati merasa lucu dengan pikiran sendiri.


"gini...." sebelum Dika kembali melanjutkan kata-kata Riva lebih dulu memotong ucapannya.


" kamu tau soal perjodohan yang orangtua kita lakukan?" bertanya langsung. dia harus memastikan sesuatu hal.


Meski kesal karena ucapannya terpotong, Dika senang mendengar pertanyaan wanita didepannya ini.


ah, lebih tepatnya dia senang karena akhirnya wanita didepannya mulai bicara.


"perjodohan?, aku..." lagi-lagi ucapan Dika terpotong.

__ADS_1


"kalau tidak baguslah. kalau kamu penasaran siapa saya dan ingin memastikan. memang benar saya Riva dari Jaya Group, dan lupakan semua hal yang direncakan orangtua kita" ucap Riva tegas.


"kalau saya setuju bagaimana?" merubah gaya bicaranya, karena merasa kesal. " satu lagi, soal perjodohan saya tidak peduli dengan anda atau bahkan dengan yang lain saya tidak tertarik!. tapi sepertinya saya berubah pikiran" terdengar tegas bercampur kesal.


Riva tertawa lepas setelah melihat reaksi laki-laki didepannya. membuat Dika mengernyitkan dahi tidak mengerti.


"apa berhubungan dengan orang Jaya Group menguntungkan untuk perusahaan mu?" sengaja memancing kekesalan laki-laki didepannya.


"tentu saja" jawab Dika sambil bersandar dengan tangan terlipat didada.


menarik


"anda tau, dulu saya hampir menikah. tapi laki-laki itu selingkuh padahal dia tau persis siapa saya" menceritakan fakta. namun entah tujuannya apa.


Dika masih mendengarkan dan merasa makin tertarik.


"apa anda akan tetap menyetujui perjodohan itu kalau saya bukan dari Jaya Group" masih penasaran.


"mungkin iya, tapi mungkin juga tidak" jawab Dika ambigu.


" saya mungkin menolak kalau bertemu dengan orang lain. tapi kalau itu anda apalagi dengan wajah anda, saya tidak punya alasan untuk menolak" sambung Dika terus terang.


Riva menganggukkan kepalanya " oke kalau gitu" jawab Riva pendek.


lagi-lagi Dika mengernyitkan dahi tidak mengerti.


Disaat Riva dan Dika masih berbicara dengan pemahaman mereka masing-masing. Dimas tidak mengalihkan pandangan barang sedikit pun dari objeknya setelah laki-laki itu datang.


Dimas mengepalkan tangannya tidak suka. tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam dan melihat dari kejauhan.


mereka bahkan terlihat cocok walau cuma duduk saja.


frustasi sendiri dengan semua pikirannya sendiri pula.


lihat Dim dan sadarlah, seharusnya kamu tidak merubah keputusan awal mu untuk menyerah. dan lihatlah sekarang....


"Hah," menghela nafas kasar


Dimas terus memperhatikan sampai yakin kalau lawan bicara nona mudanya pergi dan tidak kembali lagi.


sementara Riva yang tidak tau menahu kalau sedang diperhatikan kembali fokus dengan makanannya setelah lawan bicaranya pergi.


"Hah merepotkan sekali!" gerutunya kesal. " dari awal seharusnya aku tidak perduli. lihatlah sekarang bahkan makan sendiri pun lebih menyenangkan" masih berbicara sendiri.


Riva menikmati acara makan solonya dengan pandangan dia edarkan ke segala penjuru restoran. seolah menilai tempat ia makan sekarang.


sampai matanya menangkap wajah seseorang yang sangat dikenalnya. beruntungnya Riva melihat disaat Dimas mengalihkan pandangannya sebentar.

__ADS_1


"cih, apa dia mengikuti ku. dasar Revan gila" marah tidak tentu arah.


karena merasa orang kepercayaan adiknya itu tengah mengikutinya dengan perintah Revan tentunya.


"Dia kurang pintar bersembunyi" masih menggerutu sendiri.


merasa sudah puas makan. Riva beranjak dan meninggalkan tempat duduknya setelah membayar bil.


"bahkan aku harus membayar sendiri makanan ku!, padahal aku kesini untuk bertemu laki-laki!" kembali merasa kesal.


disaat Riva sudah masuk mobil dia tidak langsung melajukan mobilnya, terlihat menunggu seseorang karena pandangannya fokus pada pintu keluar.


"kena kau sekarang!" masih menunggu. namun sampai setengah jam yang ditunggu belum juga keluar.


"apa tugasnya hanya sampai dalam saja?. kenapa tidak keluar, membuang waktu ku saja!" semakin kesal. dan saat mobil siap melaju Riva melihat Dimas keluar dari restoran dengan santainya.


Riva bergegas membuka pintu mobil dan keluar mendatangi Dimas yang bersiap membuka pintu mobilnya.


"Kamu dikasih apa sama Revan?" langsung bertanya, membuat orang yang ditanya membalikkan badan. dan membuatnya jelas terkejut.


Bagaimana bisa nonanya masih disini. padahal seingatnya nonanya sudah meninggalkan meja setengah jam yang lalu.


"Nona!" jelas merasa terkejut


" kenapa wajah mu begitu, bukankah yang harusnya kesal adalah aku. kau bahkan mengikutiku sampai kesini!" meluapkan kekesalannya.


Dimas menghela nafas. seperti nya nonanya tengah salah paham.


"saya disini untuk menghabiskan waktu saya nona. dan tidak ada hubungannya dengan tuan Revan, nona atau siapa pun!" jawab Dimas tegas seolah tidak ingin memperpanjang pembicaraan. apalagi alasannya karena kesalahpahaman. memuakkan.


Riva mendelik namun tidak menjawab. seperti nya dia sadar kalau dia tengah salah paham. meski masih ada rasa ragu.


"ishhh, baikkah" memutar badan dan bersiap meninggalkan tangan kanan adiknya itu. memilih mengalah.


tapi sebelum Riva beranjak dari tempatnya Dimas dengan cepat menahan tangannya. membuat Riva jelas terkejut. dan menatap datar kearah tangan Dimas yang menahan tangannya.


Riva kembali menghadap Dimas seolah bertanya ada apa. sementara Dimas masih diam seolah menikmati suasana canggung yang tercipta dengan tangan masih memegang erat.


"aku harus pulang" Riva berucap dan berharap Dimas melepas tangannya.


"pulanglah" melepas pegangannya. " saya akan mengikuti dari belakang" sambung Dimas.


"terimakasih. tapi tidak perlu saya bisa sendiri" entah kenapa Riva merasa kurang nyaman dengan pandangan sahabat adiknya ini.


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


__ADS_2