
🍀
🍀
🍀
"Kenapa loe?, Kusut amat" Revan menegur sahabatnya yang masuk ruangannya.
Dimas menyimpan map yang dibawanya" ini laporan minggu ini, kamu cek dulu deh kalau-kalau ada yang salah" bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya malah membahas map yang dibawanya.
Revan meraih map yang disodorkan sahabatnya dengan pandangan tetap fokus ke arah sahabatnya.
Revan mulai membuka laporan yang dibawa sahabatnya. Tidak perlu waktu lama Revan menutup kembali laporan yang baru saja di bukanya.
Revan menatap Dimas intens seolah berkata ngomong enggak loe, kalau enggak mampus loe.
Dimas sangat paham arti dari pendangan tuan merangkap sahabatnya itu. Tapi dia ragu apalagi dia sudah bilang pada nona Riva kalau dia akan tutup mulut.
"Kalau mau diam aja, kembali kerja sana. Nanti gue panggil kalau sudah beres" Revan menyudahi rasa ingin taunya. Mungkin saja sahabatnya ini masih ragu atau mungkin masalahnya yang terlalu pribadi.
"Baik pak, saya keruangan" ucap Dimas dengan sedikit menundukan kepala.
"Stresss..." Revan bergumam merasa tidak suka dengan perubahan sikap sahabatnya.
Dimas membalikan badan, bersiap akan pergi. Untuk sejenak dia terdiam dan kembali membalikan badannya.
"Kamu tau nona Riva dijodohkan?" Bertanya langsung.
Revan yang memang masih fokus dengan sahabatnya hanya bisa mengernyitkan dahi.
"Perjodohan....?" Revan mengulang ucapan sahabatnya.
"Enggak tau ya. Baiklah..." Percuma bertanya pada sahabatnya ini. Dia lupa kalau sahabatnya baru sembuh dari galaunya. Dan sudah dapat dipastikan kalau dia pasti tidak tahu.
"Loe tau dari mana?" Bertanya kembali
"Nona Riva. Dia meminta ku untuk mencari informasi mengenai laki-laki itu" mengalah, karena dia merasa tidak sanggup kalau harus kembali merelakan dan diam.
"Terus, hasilnya?" Semakin penasaran." Apa dia baik dan pantas untuk kak Riva" memastikan
"Hah..." Menghela nafas " sangat pantas. aku enggak nemuin hal aneh dari laporan yang aku dapat" menjelaskan dengan lesu.
"Lantas...?" Masih bingung.
"Bantu aku ngelupain dia. Terserah mau pakai cara apa, gue nurut aja" Dimas terdengar putus asa.
"Yakin?" Memastikan kembali.
__ADS_1
"Hmmm..." Menjawab dengan deheman saja. Karena mau diberusaha sekeras apapun dia memang tidak pantas.
"Kamu tau?, Hubungan ku dengan Lisa hampir tidak tertolong. Apalagi dengan sikap Lisa yang tidak mau terbuka. Dan loe tau dia seperti itu karena apa?" Melempar pertanyaan untuk menyadarkan fikiran sahabatnya.
"Insecure" jawab Revan sendiri." Dia merasa tidak pantas, terlalu rendah diri yang menyebabkan dia selalu merasa ingin menjauh" jelas Revan panjang lebar.
"Kasusnya beda Van" Dimas prustasi. Karen merasa situasinya berbeda.
Revan mengernyit," apanya?"
"Kamu menginginkannya. Dan kamu bisa menutupi itu. Sedang aku?. Ah sudahlah, aku memilih menyerah. Terserah kamu mau bilang apa!" Ucapnya putus asa.
Setelah perbicangannya dengan Dimas yang masih tergantung karena jadwal kerja selanjutnya membuat Revan kurang fokus.
Bagaimana tidak, dia yang baru mencintai Lala saja, sangat sulit saat diminta untuk melupakan. Apalagi Dimas yang menyukai kakaknya sejak lama. Bahkan percintaan Dimas lebih tragis karena dia bahkan tidak mempunyai nyali untuk mengatakannya.
Ini bukan karena nyali yang kurang tapi lebih ke rasa segan karena merasa tidak pantas. Dimas harus menjadi orang kepercayaan Revan mengikuti jejak ayahnya. Dimana ayahnya masih bekerja dengan tuan besar Jaya Group. Bahkan jangankan untuk menyandingkan, hanya sekedar menyimpan rasa saja, sebenarnya sangat tidak sopan. Tapi apalah daya hati memilih dengan siapa dia berlabuh.
Dan dengan tidak tau dirinya perasaan Dimas tertaut pada Nona mudanya.
Entahlah mungkin karena intensitas pertemuan mereka yang sering karena Dimas yang mengikuti ayahnya bekerja. Membuatnya harus bertemu dengan nona Riva dan tuan Revan.
Revan mengetuk pelipisnya dengan pulpen, memikirkan bagaimana caranya meyakinkan sahabatnya untuk jujur dengan perasaannya.
Dimas selalu mendukung apa yang dia lakukan dan Revan juga menginginkan hal yang sama. Terlebih dia bisa sepenuhnya percaya pada Dimas untuk menjaga sang kakak.
Tok tok tok
Revan masih tenggelam dengan fikirannya disaat pintu terdengar diketuk.
"boleh masuk" Lala meminta ijin dengan kepala menyembul pada pintu yang dia buka setengahnya.
Revan tersenyum menyambut kedatangan kekasihnya. Ahh bahkan rasa khawatirnya dengan masalah Dimas seolah menguap.
Maaf Dim aku akan bantu kamu nanti. Sekarang biarkan aku menikmati rasa ini.
"sini..." melambaikan tangannya agar kekasihnya menghampirinya.
Lala tersenyum manis, masuk dan menghampiri kekasihnya. " taraaa...., Lala bawa ini" menunjukkan bekal yang dibawanya. Dan tentu saja respon Revan sangat senang. Terlihat dari senyumnya yang makin mengembang.
"Buat apa hm?" bertanya sambil menarik tangan wanitanya agar lebih dekat.
"makan siang + potongan buah dan cookis" Lala menyebut apa yang dibawanya.
"hmmm, kayanya enak deh. Ayo...." beranjak seraya menarik tangan wanitanya untuk duduk di sofa agar lebih leluasa.
Lala mulai membuka bekal yang dibawanya, beberapa piring kecil untuk memindah makanan yang akan mereka makan.
__ADS_1
Revan memperhatikan wanitanya yang sedang menyiapkan bekal makan siangnya. "piringnya satu aja sayang. Abang mau disupin ya.." Revan tidak suka melihat piring kecil yang terlalu banyak.
"terus Lala gimana..?" serius bertanya. Membuat Revan mengulum senyumnya.
"makan sendiri lah sayang. Atau mau abang suapin juga...!" menawarkan diri dengan suka rela dengan menyelipkan modus dengan rapi.
Lala mengerucutkan bibirnya, membuat Revan tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan gemasnya.
"cantik banget sih.." ucap Revan terus terang. Membuat Lala mencebik. Merasa aneh karena kekasihnya mengatakan hal itu.
"abang tau?, cuma abang yang bilang Lala cantik.." ucapnya dengan gerakan sibuk dengan makanan yang akan diberikan untuk kekasihnya.
mengernyitkan dahi " kamu perempuan tentu saja cantik, ea kali abang bilang ganteng kan?. Aneh" Revan menjelaskan sambil ikut memerhatikan menu yang disiapkan kekasihnya.
Lala menatap tajam, bersamaan dengan Revan yang menatap kearahnya dengan sendok berisi daging kecap di tangannya.
"bwahahahhahaha" tertawa ngakak. Merasa lucu dengan reaksi wanitanya. Menunjukkan kurang sukanya disaat difuji. Tapi saat dia memplesetkan kata-katanya malah terlihat marah.
"ishhh, abang..." ucap Lala dengan nada sedikit tinggi.
"cantik kok. Makanya abang tidak bisa berpaling. apalagi kalau ditatap lebih dekat..." ucap Revan merapatkan posisi duduknya.
Lala tersenyum dia tau kalau kekasihnya hanya bercanda tapi menggodanya adalah hal yang menyenangkan saat ini.
"a.." pinta Lala pada Revan untuk membuka mulutnya.
Revan menurut patuh. Bahkan disaat makanan sudah masuk dia terlihat girang. Entah karena rasa makanannya atau karena hal yang mereka lakukan saa ini.
" kenapa enggak nanya...?" Revan heran.
Mengernyitkan dahi sambil menyuapkan kembali kekasihnya setelah sebelumnya dia suapkan juga untuk dirinya sendiri. " nanya apa..?" bertanya balik.
"soal masakan mu, enak atau tidaknya.." menjelaskan. Karena setau Revan perempuan agak sensitif soal hal seperti ini. Dia akan meminta pendapat disaat dia sudah tau bagaimana rasanya. Seolah meminta pengakuan untuk kemampuannya.
"Lala sudah tau kalau masakan Lala enak. Jadi enggak perlu tanya pendapat abang. Lagian kalau tidak enak pasti abang lepehin kan?" jelas Lala membaut Revan memberenggut.
"enggak seru..." ucapnya pelan.
"hahahhahah.., lagian Lala bisanya pacaran normal abang, bukan pacaran ala alien yang terlalu banyak basa basinya" jelas Lala kembali. " lagian nih ya kalau sudah tau jawabannya ngapain tanya coba, boros kosa kata" tambah Lala.
Revan menepuk keningnya " abang lupa sedang pacaran dengan siapa" gumamnya yang lagi-lagi memantik rasa lucu yang membuat Lala tertawa lepas.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1