
🍀
🍀
🍀
Lala tampak duduk termenung menunggu ojek online yang dia pesan.
Kondisi jalanan tampak lenggang pada petang ini. Kegiatan kerja sudah berakhir beberapa jam lalu.
Beberapa jenis kendaran mulai melanju dengan normal karena keadaan jalan yang kembali santai.
Lala masih termangu dengan tangan mendekap tas kerjanya menutup dada.
tin tin tin
Ditengah kegelisahan menunggu jemputan datang Lala mendengar suara klakson mobil.
Lala menatap mobil yang berhenti tepat di depannya. Merasa aneh karena tidak mengenali mobil itu.
Apalagi merasa memesan mobil online, sama sekali tidak.
Lala terus memperhatikan sampai klakson mobil itu berbunyi lagi. Bersamaan dengan jendela mobil yang terbuka.
"Tuan muda.." Sapa Lala pada orang yang ada di balik kemudi. Pantas saja dia tidak mengenali mobil itu rupanya milik tuan mudanya.
Lala menyapa dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Masuk" suara Revan terdengar
"Saya tuan?" Bertanya karena merasa tidak yakin. Tapi disaat melihat kiri dan kanan. Ternyata di halte itu hanya ada dia sendiri.
"Terus siapa lagi?. Ayo cepat naik!. Ini sudah malam" suara Revan kembali terdengar dengan pandangan langsung tertuju ke stafnya.
" Tapi saya sudah memesan ojek tuan, mungkin sebentar lagi datang" jawab Lala lagi.
"Masuk" kali ini suara Revan terdengar lebih tegas dan tidak ingin dibantah.
Lala yang melihat perubahan raut wajah tuannya memilih mengalah dan masuk ke mobil.
__ADS_1
Lala menatap lurus jalanan, tidak berani menatap tuan disampingnya.
astaga seharusnya aku tetap menunggu ojek saja. Tenang La semua akan baik-baik saja.
Beberapa menit berlalu tapi mobil belum beranjak dari halte, ingin bertanya mengapa tapi sungkan.
"Hah..." Revan mencondongkan badannya ke arah Lala setelah menghembuskan nafasnya.
"Pasang sabuk pengamannya?" Ucap Revan dengan tangan memasangkan pengaman tersebut.
Lala sangat terkejut. Tapi melarang pun tidak bisa karena tuan Revan sudah memasangkannya.
Dia terus menggerutu dan mencaci diri sendiri, karena deg-deg an membuat dia melupakannya.
Lala terus menahan nafas disaat tuan Revan belum kembali ke posisi awalnya.
Setelah tuan Revan kembali ke posisi awal baru lah Lala bisa bernafas dengan normal.
Dalam perjalanan pulang suasana tampak hening. Sesekali pembicaraan terjadi disaat Revan bertanya arah ke kos stafnya.
"Berhenti di sini saja tuan, kebetulan kos saya masuk gang ini" tunjuk Lala pada gang yang hampir di lalu mobil tuan Revan.
Revan menghentikan mobilnya tidak jauh dari gang itu.
"Sedikit lagi sampai tuan" Lala memberitahu setelah keluar dari mobil tuannya.
"Sekali lagi terimakasih tuan, sudah mau mengantar" ucap Lala sambil sedikit membungkukkan badannya.
Revan tidak merespons, tapi tatapan matanya mengarah pada jalan gang yang akan dilewati stafnya.
"Ayo.." setelah yakin Revan mengajak stafnya untuk mulai jalan menuju kosnya.
"Iya tuan?" Lala bertanya, karena merasa bingung dengan tuannya hendak berjalan ke arah gang menuju kosnya.
"Kenapa?" Melihat kebingungan stafnya Revan malah bertanya.
" Sampai sini saja tuan, kos saya sudah dekat kok" Lala menjelaskan. Entah kenapa dia yakin kalau tuannya akan mengantar dia sampai kos.
"Dan kebetulan kos saya khusus perempuan tuan" tidak perdulu mau disebut kepedean tapi yang jelas Lala tidak ingin merepotkan tuan mudanya.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo..... Ini sudah malam!" Jawab Revan santai. " Pimpin jalannya sekarang atau kita jalan beriringan supaya saya tidak salah jalan" Revan sepertinya tidak perduli dengan penolakan dari stafnya tadi. Walaupun itu tidak disampaikan dengan terang-terangan.
Revan cukup paham maksud dari stafny itu.
Meski kurang nyaman, Lala tetap mengikuti tuannya. Dan mulai mensejajarkan langkah mereka.
Sesekali Lala menatap tuannya, karena tinggi Lala yang hanya sebatas dagu tuan Revan membuat Lala sedikit mendongakkan wajah untuk melihat wajah tuannya.
"Seharusnya tuan tidak perlu mengantar saya, apalagi sampai masuk gang segala" ucap Lala tidak enak.
"kalau naik ojek biasanya sampai mana?" entah kenapa Revan malah penasaran dengan itu.
"sampai depan kos" jawab Lala polos
"lalu...?" Revan bertanya dengan tatapan yang tidak lepas dari staf istimewanya. Yang entah kenapa terlihat sangat manis malam ini.
Lala mengernyitkan kening seolah bertanya, entah keberanian dari mana, sekarang Lala membalas tatapan tuannya.
"kenapa tukang ojek boleh sementara aku tidak?" Dari sekian banyak pembahasan hanya kata itu yang membuatnya penasaran.
"emmmmm.." berfikir sejenak." karena tuan bukan tukang ojek" jawab Lala akhirnya.
"hah......, kenapa rasanya menyebalkan begini. Berasa pentingan tukang ojek!" kesal Revan.
"hahhahahahaahaha" Lala tertawa, susah payah menahan tawanya, tapi pembahasan soal tukang ojek ini terasa sangat menggelikan.
"kenapa rasanya anda sedang cemburu dengan tukang ojek ya?" ucap Lala dengan senyuman terus mengembang.
Revan terus memperhatikan Lala yang tertawa dengan lepas.
Cantik
senyum Revan mengembang " iya, sepertinya aku cemburu!" akhirnya kata itu keluar dan membuat Lala terdiam dan berhenti seketika.
Untuk sejenak mereka diam dan saling tatap.
Lala yang lebih dulu tersadar, mengalihkan pandangannya ke arah jalan ke kosnya. Merasa salah tingkah.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀