
🍀
🍀
🍀
Revan menghempaskan badannya ke sandaran kursi kerjanya. Rasa pusing mulai menerjang otaknya.
Astaga apa yang aku fikirkan. Kenapa bisa sesakit ini.
Revan hendak gerak tubuhnya dan membuatnya seketika berdiri yang berakibat terjangan sakit kepalanya kian menyiksa membuatnya sejenak memejamkan matanya.
Setelah rasa sakit sedikit berkurang Revan membuka matanya. Revan segera menekan intercome yang terhubung dengan ruangan sekertarisnya Dimas.
"keruangan saya sekarang" Perintah sarkas Revan membuat Dimas segera beranjak dari duduknya.
Terlihat jelas kalau Dimas terburu-buru dan khawatir. Bagaimana tidak khawatir biasanya tuan merangkap sahabatnya itu memerintah dengan nada formal seperti itu.
Dimas berjalan dengan tergesa bahkan raut wajah khawatirnya terlihat jelas oleh Lala yang sedang meregangkan otot-ototnya.
Dimas membuka pintu dan menutupnya kembali dengan cepat menyisa tanda tanya untuk Lala.
Entah kenapa disaat melihat raut khawatir di wajah Dimas membuat Lala juga merasa khawatir.
Apa ada masalah?. Apa mungkin masalah kantor saja. Biasa juga begitu kan?.
Lala mencoba menenangkan dirinya. terus mensugesti diri kalau hal seperti ini sudah biasa terjadi. Bukankah ucapan sesepele apapun jika yang mengucapkan tuan muda Revan akan menjadi perintah yang menakutkan untuk semua orang.
Hanya masalah kantor La.
Sementara di dalam ruangan utama Dimas segera menghampiri Revan yang menyandarkan punggungnya di sofa dengan mata terpejam.
melihat itu Dimas merasa heran, terlebih tadi pagi sahabatnya ini masih terlihat baik-baik saja.
" ada masalah...?" Dimas bertanya hal klise setiap melihat ada perubahan pada sahabatnya.
Revan tidak menjawab hanya terdengar hembusan nafas kasar.
"loe sakit?. Astaga kau......?" Dimas terlihat geram setelah mengecek suhu tubuh sahabatnya dengan menempelkan telapak tangannya di kening sahabatnya. Bagaimana bisa sahabatnya bisa selalai ini dengan kondisi tubuhnya.
📱
" kekantor sekarang..!" sepertinya kebiasaan tuan Revan disaat tengah jengkel melekat juga pada Dimas. Berucap tanpa menjelaskan, tidak tahu kah dia orang yang dihubungi diseberang sana mulai kelabakan.
Selang beberapa menit setelah Dimas menghubungi seseorang. Terdengar lift terbuka.
Ting
Lift terbuka tampak pria dengan tampilan casual namun terlihat sangat rapi dan tampan keluar dari lift.
Meski ketampanannya masih di bawah tuan Revan tapi orang ini jelas nyaman dilihat apalagi jika terus diperhatikan.
__ADS_1
Melihat pria itu terus berjalan dengan cepat ke arah ruang utama. Membuat Lala reflek keluar dari meja kerjanya dan menghentikan jalan tamu asing ini.
"Maaf ada perlu apa ya dan Ingin bertemu siapa?" Lala langsung bertanya karena mengingat dia pernah mendapat masalah karena hal yang serupa. Dan dia tidak ingin mengulanginya.
"Iya saya maafkan, tapi saya di minta Dimas untuk datang kesini. Ah... Satu lagi saya Dokter keluarga tuan Ardian" jelas Sang tamu langsung seolah tidak ingin berlama-lama.
Melihat staf didepannya masih mencerna maksudnya sang dokter pun meminta ijin untuk masuk.
Anggap saja supaya semua lebih cepat.
"Saya boleh masuk sekarang?. Mungkin saya sudah ditunggu tuan muda didalam..!" Memberitahu langsung kalau dia diminta datang oleh tuan mudanya.
"Silahkan..." Jawab Lala pelan seraya menggeser tubuhnya.
Disaat pintu ruangan utama dibuka oleh dokter itu Lala melihat sekilas tuan sekaligus kekasihnya tengah duduk bersandar di sofa.
apa ada masalah?. Kenapa dokter datang ke kantor?. Siapa yang sakit?.
Macam-macam pertanyaan menghantui fikiran Lala. Apalagi setelah dia melihat kekasihnya yang bersandar dan terlihat lemah.
Meski hanya melihat sekilas karena pintu yang kembali di tutup, namun entah kenapa Lala seolah yakin kalau kekasihnya dalam kondisi lemah.
Lala bergegas ke pantry, sepertinya rasa penasaran dan khawatir membawa Lala ke ruangan ini.
Beruntungnya pantry khusus lantai tertinggi ada sendiri dan berada dilantai yang sama membuat Lala tidak perlu berjalan terlalu jauh.
Lala membuat teh hijau hangat dan beberapa jenis cokies tertata rapi di atas nampan
Merasa ada yang kurang. lala membuat jus buah dan memotong beberapa jenis buah untuk disajikan pula khusus untuk tuan yang merangkap kekasihnya itu.
Meski tidak ada perintah, kali ini Lala berinisiatif sendiri karena rasa penasaran dan khawatirnya kali ini.
Apalagi kalau mengingat sikap sekertaris Dimas tadi disaat akan masuk keruangan kekasihnya di susul dengan hadirnya Dokter seolah menambah rasa penasaran Lala.
Sementara di ruangan utama setelah Dokter Sam masuk ruangan Dimas langsung menghampiri.
"Coba periksa!, Tuan muda terus mengeluh pusing " Dimas menjelaskan tanpa diminta.
"Oke loe tenang dulu. gue cek dulu.." Sam terlihat santai namun sejujurnya dia juga merasa khawatir.
Ah rupanya kau bisa sakit juga tuan muda.
Dokter Sam mulai mengecek dengan hati-hati memastikan kalau tuan muda mereka baik-baik saja.
"coba berbaring dulu. supaya lebih mudah.." Sam menuntun Revan untuk berbaring disofa dengan Dimas yang menyiapkan bantalannya.
"pelan-pelan" ucap Sam dan Dimas terdengar sangat hati-hati.
"semuanya...." ucapan Sam terpotong dengan suara ketukan pintu.
"maaf menganggu, saya mau mengantar ini....?" ucap Lala dengan menunjukan nampan yang dibawanya.
__ADS_1
Setelah masuk Lala terpaku melihat tiga orang pria tampan tersebut. Dan tentu saja bukan hanya ketampanan mereka yang membuatnya diam melainkan posisi mereka.
Dimana Revan sang kekasih tampak berbaring dengan posisi terlentang seraya menutup matanya dengan punggung tangannya.
"simpan di sana saja" tunjuk Dimas pada meja yang biasanya berada di depan sofa sekarang dibuat menggeser menjauh sedikit.
"ah iya, baik pak" jawab Lala gagap.
Meski berjalan ke arah meja terkadang Lala mencuri pandang ke arah sofa dimana kekasihnya tengah berbaring. Dan tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Apa dia benar sakit?.
Lala cemas dan ingin mendekat untuk bertanya tapi merasa sungkan karena kekasihnya yang diam saja.
"sudah pesan makanan?. aku sudah meminta asistenku untuk mengantar obatnya." Dokter Sam bertanya pada Dimas.
"sudah, sebentar lagi sampai." jawab Dimas masih menatap Revan.
"oh iya Lis, tolong kamu siapkan makan siang tuan muda. Sekarang sudah ada dilobi. Sebentar lagi yang mengantar tiba di lantai ini" ucap Dimas meminta tolong seraya menunjukan chat pesanan dengan pekerja Restoran yang mengantar makanan khusus tuan muda.
"baik pak.." Lala keluar dan benar saja makanan sudah ada di depan meja bersama OB yang mengantarnya.
"tuan muda kenapa?" Dimas bertanya pada Dokter Sam.
"semuanya normal, hanya kelelahan dan banyak fikiran saja membuat stres dan memicu sakit di kepalanya. Tapi aman kok. Ini masih normal. Dan kalau dibawa istirahat gue yakin akan baik asal... Pola makan di jaga dan kurangi fikiran yang kurang penting dulu" jelas Sam panjang lebar.
Revan mendengar penjelasan Sam, dan sedikit mendengus. Bagaimana bisa dia bilang tidak apa-apa. Karena jelas sekali kepalanya pusing bukan main.
Dimas juga mendengarkan dengan seksama" sepertinya pekerjaan gue akan bertambah nih?" Sam mengernyit mendengar ucapan Dimas.
"bukankah memang selalu seperti itu...!" Sam serius menanggapi.
"Hah......" Dimas mengeser kembali meja yang berisi nampan yang dibawa Lala tadi. Mendekatkan pada Revan dan Sam.
Setelah selesai menyiapkan makanan yang di pinta sekertaris Dimas, Lala bergegas kembali masuk keruangan utama tanpa mengetuk pintu.
Dan pandangan kembali teralihkan padanya. Termasuk juga Revan yang sudah mengangkat tangannya dan membuka matanya.
"ini makanannya..." ucap Lala menyimpan nampan lagi keatas meja yang sudah digeser.
"kau yakin aku baik-baik saja?" tanya Revan pada Sam setelah melihat staf istimewanya menyimpan makanannya.
"iya, asal kau ingat apa yang sudah aku jelaskan tadi" jawab Sam pasti.
"hem..." mengangguk," kalau gitu kau bisa kembali dan kau" menunjuk Dimas. "pastikan tidak ada yang mengganggu istirahat ku. Dan undur semua jadwal ku yang tidak bisa di wakilkan." perintah Revan sekaligus mengusir dua sahabatnya ini.
Dimas dan Dokter Sam saling pandang. Namun sejurus kemudian Dimas segera menganggukan kepalanya untuk mengiyakan perintah tuan mudanya. Dan Sam mengikuti tanpa bertanya lagi.
Revan mengibaskan tangannya membuat dua sahabatnya keluar dengan pasrah.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀