Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 26


__ADS_3

Brukkkkk


Dimas menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruangan utama.


Dimas nampak memijat pangkal hidungnya untuk menghilangkan nyeri atau pusing yang menimpanya saat ini.


Revan yang melihat tingkah sekertarisnya merasa heran. setaunya tidak ada masalah di kantor. termasuk dalam rapat yang rutin dilakukan selama satu bulan sekali untuk mengevaluasi kinerja seluruh anak cabang Jaya Group termasuk juga kantor pusat yang sekarang mereka tempati.


"ada masalah...?" Revan memilih bertanya langsung.


"hahhhhh....." Dimas terlihat menghembuskan nafasnya kasar.


Revan makin heran, perasaan yang tengah bingung dengan perasaannya adalah dia. kenapa malah sekertarisnya yang terlihat lebih kacau.


"ada masalah dengan kantor cabang?" Revan mencoba bertanya lagi.


"hahhhhhh....." lagi-lagi Dimas menghembuskan nafasnya kasar.


" kampretttt...." melempar sahabatnya dengan kertas yang sudah diremas membentuk bola. " gue tanya bodoh..." kesal Revan.


"hahahhahahhahah" tawa Dimas menggelegar di dalam ruangan itu.


Dimas bahkan menahan perutnya untuk terus tertawa.


lucu sekali disaat melihat dia kebingungan gini. hah...untuk sahabat kalau enggak mungkin gue udah dipecat kali.


dengan tawa yang belum habis. Dimas terlihat menikmati wajah kusut tuan sekaligus sahabatnya ini.


"ok...' Dimas berkata. dengan mencoba mengatur ekpresinya. sepertinya semua tawanya belum habis dia tunjukkan pada sahabatnya.


Revan mendelik tajam pada sahabatnya. "kau melewati batasan mu Dim" ucap Revan tajam.


"baiklah.., tapi tunggu dulu" jawab Dimas santai seraya menghapus air mata yang keluar.


"kantor pusat dan seluruh anak cabang baik termasuk rapat bulanan tadi" memulai ceritanya.

__ADS_1


Revan tetap menatap sahabatnya yang artinya dia belum puas dengan penjelasan sahabatnya.


"natapnya santai aja dong!" dengan nada mengejek.


"ok" seraya membenarkan posisi duduknya Dimas tampak serius kali ini. "loe bisa enggak mengkondisikan sedikit raut wajah loe?, maksud gue disaat ada kegiatan kaya tadi. gini ya gue enggak tau loe penasaran atau benar suka sama staf didepan" menunjuk pintu keluar. " paling tidak, jangan sampai fokus loe benar-benar hilang" jelas Dimas panjang kali lebar.


Revan yang mendengarkan hanya mengerutkan keningnya.


apa aku separah itu


tanyanya pada diri sendiri.


" kenapa jadi aku?" tanya Revan mencoba menyangkal.


"lah terus siapa?, yang bos kan loe. lagian siapa yang matanya bisa jelalatan ke sembarang arah kecuali loe!. apalagi disaat rapat penting kaya tadi." Dimas mulai kesal.


"serius..?" tanya Revan pendek dengan raut masih tidak percaya.


"loe bisa cek CCTV ruang rapat kalau enggak percaya. terus loe liat sendiri deh muka loe yang kaya orang bego.." Dimas mulai tidak memfilter ucapannya.


tatapan tajam dihunuskan Revan." loe bosan hidup hah" geram Revan.


"cih..." Dimas mendelik." giliran dia aja


bebas mau ngatain gue apa. hah... nasib jadi anak buah ya gini" gumam Dimas namun masih dapat terdengar oleh Revan yang duduk dikursi kebesarannya.


"Dim......" suara Revan terdengar memanggil. namun fokusnya kelayar monitor di depannya. entah apa yang tengah dia lakukan.


"apaan" jawab Dimas pendek.


"hah...." sambil bersandar dikursi kebesarannya. Revan bahkan terlihat memijat keningnya gantian.


"lain kali, kalau aku begitu lagi ingatkan aku" lanjut Revan terdengar pasrah dan menahan malunya.


rupannya Revan mengecek CCTV ruang rapat yang terhubung langsung dengan kamputernya.

__ADS_1


"loe boleh ketawain gue sepuasnya" lanjut Revan lagi.


"hahahahhahahahhahah" Dimas kembali terpingkal mendengar pengakuan tuan sekaligus sahabatnya itu.


Revan terlihat mendelik tidak suka, padahal dia dengan jelas mengijinkan sahabatnya itu untuk mentertawakannya.


"kau sepertinya puas sekali ya?" Revan makin tidak suka disaat sahabatnya tidak kunjung berhenti mentertawakannya.


"Van, kamu bukan anak ABG yang kalau suka cewek masih malu-malu. tinggal ucapin aja kalau sudah yakin" nasehat Dimas seolah lupa dengan kisah asmaranya yang kandas sebelum mulai.


"gue perlu satu alasan untuk memantapkan perasaan gue. dan apa, kami cocok?" ucap Revan pelan seolah berbisik.


" kenapa loe merasa tidak cocok sama dia. bukannya loe tidak mempermasalahkan latar belakangnya" tanya Dimas penasaran.


"bukan itu... entahlah gue perlu alasan untuk mengklik kan hati gue" Revan lirih


"loe nyaman disaat modusin dia?"tanya Dimas penasaran.


Revan melihat Dimas dan mengangguk tanda mengiyakan.


"lantas kamu perlu alasan apa lagi?, apa rasa nyaman itu belum cukup untuk mengklikkan perasaan loe" terang Dimas.


Revan terpaku, seolah baru tersadar.


"dan loe bukan tipe orang yang gampang merasa nyaman dengan cewek apalagi sampe modusin anak orang" cerca Dimas


Revan masih diam meresapi maksud sahabatnya, dia terlalu sibuk memperhatikan stafnya sampai melupakan hal penting ini.


kalau dia nyaman disaat bersama dengan Lala (stafnya). entah disaat bekerja atau hanya membahas hal sepele seperti malam kemarin.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


__ADS_2