
🍀
🍀
🍀
Suasana dalam ruangan utama tampak sepi sepeninggal Dimas dan Sam. terlihat Revan memijat pangkal hidungnya menghilangkan nyeri di kepalanya.
Lala tetap diam, merasa bingung untuk memulai bicara. Lala takut salah ucap apalagi sekarang suasana terasa mencekam untuknya.
Lala khawatir tapi takut untuk mendekat. "kemari...!" Revan berucap pelan dengan posisi yang sama. Duduk sedikit tertunduk dengan tangan terus memijat pangkal hidungnya.
Lala segera beranjak untuk menghampiri tuan muda yang merangkap kekasihnya.
mendekat dengan berdiri tepat disamping kekasihnya yang masih tertunduk.
"abang...." Lala memanggil sangat pelan seolah takut mengganggu kekasihnya.
Revan sedikit mendongak disaat mendengar nama dipanggil, menarik tangan kekasihnya memaksanya untuk mendekat dan duduk di sofa tepat disampingnya.
Lala terkejut disaat tangannya ditarik dengan lembut membuatnya langsung terduduk di sofa.
Revan merebahkan kepalanya dipangkuan kekasihnya.
"abang...." merasa tidak nyaman.
"sebentar saja. Abang lelah.." Revan berucap tidak kalah pelannya.
Lala terdiam disaat mendengar ucapan lirih kekasihnya. Seorang tuan muda Jaya Group terdengar sangat sendu dan ini pertama kalinya menurut Lala.
Sejak awal tuan Revan menunjukan ketertarikannya padanya, sama sekali Lala tidak pernah melihat sikap lemahnya seperti ini.
Setahu Lala tuan Revan selalu enerjik dengan sifat dingin dan angkuhnya menurut orang yang melihat secara sekilas.
"Vann obatnya....upps sory.." Dokter Sam yang mengantar obat sahabatnya langsung menerobos masuk.
Dan tentu saja suasana dan pandangan yang disajikan di sofa membuatnya diam terpaku dan sedikit meringis karena mengganggu tua mudanya.
Lala berniat bangun dari duduknya untuk mengambil obat namun tangan Revan menahannya membuatnya pasrah. Dan membuat dokter muda itu melihat apa yang mereka lakukan. Hanya tidur berbantal paha tapi tetap saja Lala merasa aneh karena setahu Dokter itu dia hanya staf tuan mudanya.
"simpan di meja Sam. Dan kau bisa keluar setelahnya" jawab Revan langsung mengusir sahabatnya sekaligus dokter keluarganya itu. Bahkan mengucapkan terimakasih pun tidak.
"oke...." Sam berjalan dan menyimpan obat bersamaan dengan makanan yang dibawa Lala tadi.
__ADS_1
Sam menatap Lala seolah merasa lucu sedang Lala meringis karena menahan malu.
"pergi Sam. Jangan membuat ku marah. Kau fikir kau sedang menatap siapa sekarang....!"Revan geram menatap sahabatnya. Bagaimana bisa dia berani menatap wanitanya.
Astaga apa perlu aku colok matanya.
"hehehhe, oke aku keluar" Sam melenggang hendak keluar. Disaat akan membuka pintu Sam menatap sahabatnya kembali " apa aku bisa bertanya pada Dimas mengenai ini" tunjuk Sam dengan jari telunjuk dan tengah membentuk hurup V ke arah mereka berdua.
Revan akan beranjak dari tidurnya membuat Dokter Sam keluar ruangan dengan segera.
Lala yang menyaksikan perdebatan mereka tersenyum. Bagaimana bisa mereka bisa bersikap sesantai itu. Padahal mereka sedang dikantor sekarang.
"apa dia selucu itu sampai kau tersenyum. Cih......" Revan kesal sendiri melihat wanitanya tersenyum. Bukan karena senyumnya melainkan karena penyebab tersenyumnya.
Revan akan kembali merebahkan badannya disaat Lala langsung merentangkan tangannya kedepan menyangga badan kekasihnya.
" Eittttt, makan dulu baru boleh rebahan lagi. Ingat harus makan dan minum obat..." Lala mengingatkan.
"hmm, tapi suapin ya.." pinta Revan dengan melemahkan sedikit suaranya.
"iya, Lala suapin kok" Lala beranjak dari duduknya dan mengambil makanan yang dia siapkan tadi. Dan kebetulan yang datang adalah bubur. Tapi entahlah bubur apa karena dari tampilannya saja Lala sudah merasa asing.
Satu suap, dua suap Lala terus menyuapi kekasihnya. meski mengeluh pusing beruntung tuan merangkap kekasihnya ini masih tetap mau makan.
"kenapa kerja bang kalau memang sakit. Apalagi sampai jemput Lala. Pasti kepalanya sakit banget ya...?" Lala mengeluarkan rasa tidak nyamannya.
"aku boleh tidak masuk dan tidak menjemput mu?" tanya Revan sarkas akan makna.
"abang aneh, tentu saja boleh. Apalagi abang sakit kaya gini. Ini kantor abang dan lagian Lala bisa kok berangkat sendiri." jelas Lala dengan yakin. Toh dia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
"bukan karena kamu memang enggak suka abang di sekeliling kamu?" suara Revan tegas memukul telak.
Lala mengernyit" maksud abang...?" memilih bertanya.
"entahlah...." Revan mengalihkan pandangannya.
"abang marah sama Lala" mencari tahu sumber masalahnya.
"Hah......, kamu selalu mengingatkan abang mengenai posisi abang. walau abang jelaskan berapa kali kalau abang mencintai dan sayang kamu dengan tulus. Tapi sepertinya abang tidak pernah membuat kamu nyaman. Apa jalan dan pergi sama abang semenyebalkan itu...!" Revan mengeluarkan unek-uneknya. Merasa kesal entah karena apa.
"abang sayang kamu, sedangkan kamu meminta abang untuk selalu mengingat tetang perjanjian konyol itu." Revan meninggikan suaranya dan sedikit tersentak karena suaranya sendiri.
"Kita sudah separuh jalan dan abang bahkan belum bisa membuat mu nyaman." sambung Revan memelankan suaranya.
__ADS_1
Revan menatap wanita yang sangat diinginkannya ini " aku harus apa?, apa sebaiknya kita cukupkan saja seperti yang kamu mau" Revan berucap seolah menantang. Padahal dia tahu betul siapa yang akan paling menderita jika mereka pisah.
Lala diam seribu bahasa mendengar semua ucapan kekasihnya. Seolah semua kesalahan bermuara darinya.
Apa ini yang abang rasakan selama ini.
bertanya-tanya apakah dia sejahat itu. Dia hanya ingin melindungi dirinya karena memang dia sudah terbiasa untuk itu.
Revan membuang pandangannya tidak sanggup menatap wajah staf istimewanya ini.
Lala beranjak dan menyiapkan obat yang harus diminum kekasihnya sesuai dengan petunjuk dan menyimpannya di atas piring kecil.
"abang minum obatnya dulu" ucap Lala seraya menggeser piring kecil dan air mineral kearah sang kekasih.
"kita bicarakan ini nanti. Sekarang abang minum obatnya dulu." sambung Lala seolah tidak ingin dibantah.
Revan mendengus tapi tetap meraih obat dan air yang disediakan. Dan meminumnya dengan cepat.
Setelah melihat kekasihnya meminum obatnya Lala mulai bersiap untuk melanjutkan obrolannya.
"abang meminta waktu dan membuat kesepakatan. Tapi abang merasa terganggu dengan ucapan Lala mengenai apa yang abang buat. Dan....abang menyalahkan Lala" Lala mulai mengeluarkan unek-uneknya.
Sepertinya ini saat yang tepat untuk menyadarkan anda tuan muda.
"Lala sadar diri, siapa Lala. Dan semua kekhawatiran Lala jelas sumber dan tujuannya. Sedang abang mengeluh karena merasa sudah berusaha. apa abang pernah berfikir apa yang Lala fikirkan dan rasakan setiap bersama abang?. abang bilang Lala tidak merasa nyaman!, jujur Lala sangat merasa nyaman. Bagaimana bisa Lala tidak merasa nyaman sementara ini pertama kalinya Lala merasa di istimewakan. Tapi apa abang tau, setiap kali Lala merasa nyaman Lala mencoba menepis itu semua karena Lala takut terlalu merasa nyaman." Lala menghentikan sejenak ucapannya. sedang Revan mengepalkan tangannya mendengar semua ucapan wanitanya.
"bagaiman kalau abang merasa bosan dan lelah sama Lala. Sementara Lala sudah terlanjur merasa nyaman dengan semua perhatian abang." Lala melanjutkan ucapannya.
" Tapi, kita sama-sama tidak nyaman karena prasangka kita. Dan kalau memang sudahan menjadi jalan keluarnya Lala bisa apa?. Itu semua hak abang dan lagi__ bukankah abang lebih dulu tau bagaimana sikap lala dan sekarang tiba-tiba abang merasa terganggu. Kalau memang respon abang begini dengan sikap was-was Lala seharusnya kita tidak mencobanya sama sekali." ucap Lala menutup ucapannya yang entah kenapa membuatnya merasa sesak.
Lala bangun dari duduknya " saya permisi maaf mengganggu waktu anda..." ucap Lala dengan sedikit membungkukkan badannya bersikap normal layaknya staf seperti awal dia datang. Seolah melupakan apapun pembahasan mereka.
Lala kembali ke tempat kerjanya. Bahkan Lala melupakan makan siangnya.
Sementara Revan duduk menatap kearah pintu. Hatinya merasa lega dan sepi secara bersamaan. Dia memang naif tapi Dia perlu memastikan sesuatu.
Jadi biarlah seperti ini dulu. Sampai hatinya benar-benar yakin.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1