Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 44 Kesempatan


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Revan menatap tajam, Lala yang keluar dari lift. Sementara Lala bingung dengan reaksi tuan sekaligus kekasihnya ini.


"selamat pagi tuan" sapa Lala membuang canggung.


"cihhh...." melengos " kenapa lama sekali?" memilih bertanya langsung


"saya nunggu lift yang anda naiki bergerak tuan" jawab Lala.


"apa...?" terdengar sangat kesal.


"tadi saya nunggu lift anda____" belum selesai Lala mengulang kalimatnya. Revan lebih dulu beranjak dan meninggalkannya.


"ishhh...., sikapnya orang +62 banget sih" juga merasa kesal.


Lala memilih memulai kerjanya, dari pada harus memikirkan sikap tuannya yang terbilang kekanakan. Berbeda jauh dengan citranya selama ini.


Tidak terasa jam makan siang hampir tiba, Lala mulai menyelesaikan pekerjaannya dan membereskan sedikit mejanya.


Dia senang, karena tadi mbak Sasa mengajaknya makan siang bersama. Itu artinya dia tidak akan makan sendiri.


Lala menolak disaat tuan muda mengajaknya makan siang bersama, dia hanya tidak ingin orang kantor ada yang curiga.


Dan masalah rekan kerja yang lain, Lala tampak kesusahan mencari teman lantaran pekerjaannya tidak terhubung dengan keryawan yang lain.


"La.." teriak Sasa di saat dia melihat Lala masuk ke arah kantin, dan Sasa melambaikan tangannya.


" kenapa tidak turun bersama saja mbak" karena menurutnya itu lebih efektif.


"anggap saja, saya keep tempat dulu, hahaha" Sasa tertawa riang.


"kebetulan juga, tadi tuan Radit keluar lebih cepat. Dan aku belum dibutuhkan untuk mengurus pekerjaan diluar kantor. Jadinya....., aku bisa makan siang tepat waktu" Jelas Sasa


Lala tersenyum, "mbak sudah tidak marah sama Lala?" karena Lala melihat sikap Sasa kembali seperti awal mereka berkerja bersama, Ramah.


"hmmm..., maaf ya kalau sikap ku berlebihan selama ini" Sasa menatap langsung ke lawan bicaranya.


"entah kenapa aku merasa kalau kau di istimewakan oleh tuan muda. Padahal itu bukan urusan ku sama sekali" Sasa mulai menjelaskan kesalahpahamannya.


"iya mbak, tidak apa-apa. Tapi kalau mbak berfikir saya di istimewakan mbak salah besar. Karena di ruangan tuan muda saya mengerjakan hal yang terbilang tidak masuk akal" Lala tampak tersenyum ramah seperti biasanya.


"isshhh, kau masih saja bersikap formal pada ku, bersikap biasa saja. Layaknya teman sebaya. Iya aku minta maaf soal itu. Apa kita masih tetap rekan kerja dan juga teman?" Sasa memajukan tangannya untuk bersalaman tanda pertemanan

__ADS_1


Lala tersenyum dan menerima jabat tangan rekan kerjanya itu.


Mereka terus bercerita banyak hal, kadang serius, sendu dan bahkan tertawa dengan gerakan tangan yang sedang menikmati makan siangnya seolah seirama dengan cerita yang semakin seru.


Setelah melihat jam makan siang yang hampir habis, mereka berdua memilih menyudahi acara bercerita rianya.


Mereka berjalan bersama dan naik dengan lift yang sama.


Ting


"aku duluan ya..., dahh" Sasa melambaikan tangannya pada Lala yang masih berada dalam lift.


Sebelum lift berjalan seseorang masuk lift yang sama. Dan berdiri tepat di depan Lala dengan posisi bersedekap dada.


Dia tidak memencet lantai yang ditunju karena sudah melihat, penumpang yang sama akan menuju lift yang sama pula.


Lala ingin menegur tapi rasanya sungkan sekali.


astaga, bagaimana ini. Tegur tidak ya?. Kalau ditegur nanti dibilang sok akrab tapi kalau enggak ditegur entar dibilang tidak sopan.


Kejadian tempo hari juga kurang nyaman, pasti di ingat dengan jelas.


Orang seperti mereka biasanya susah lupa sama orang yang membuatnya tersinggung.


"hah...."menghela nafas pelan. Menghilangkan ketegangan yang dia buat sendiri.


Lift terbuka, mereka keluar dari lif dengan Lala yang berjalan pelan, seolah takut mendahului orang didepannya.


Melihat orang itu langsung masuk ruangan sekertaris Dimas tanpa mengetuk pintu. Lala merasa biasa saja toh dia tidak akan mendapat masalah.


Lala duduk ditempatnya dan memulai mempersiapkan hal yang akan dikerjakannya.


"Lis.." Lala mendongak ketika seseorang memanggilnya."Periksa segera berkas ini, pastikan tidak ada yang terlewat dan kalau sudah simpan di meja kerja saya!..., ingat segera dan langsung simpan di meja kerja saya!" ulang Dimas mengisyaratkan betapa pentingnya berkas itu.


"baik pak" jawab Lala


"silahkan nona" Dimas beralih pada orang yang ada disebelahnya. Yang tidak lain ialah Nona Riva.


Lala memperhatikan Kakak dari kekasih sekligus tuannya itu. Dia orang yang berada di depan Lala semenjak di lift tadi.


Lala makin menciut, bahkan disaat ada sekertaris Dimas sekalipun, dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya atau bahkan hanya senyum sedikit pun.


Setelah mereka masuk ruangan utama, Lala mulai kembali menekuri pekerjaannya. Dan di mulai dari berkas yang super penting menurut sekertaris Dimas.


Sedangkan diruang utama, Revan mengernyit melihat siapa yang datang. Revan sama sekali tidak menyangka kalau ucapan kakaknya tadi pagi bukan sekerdar joks.


"Aku ketemu Radit" Riva memulai pembicaraan disaat dia sudah duduk manis di sofa tempat biasanya ia duduk.

__ADS_1


"ngapain?" Revan merasa penasaran.


"Revan sudah bilang belum?, kalau sementara ini biarkan saja. anggap saja ini kesempatan terakhir!" Revan mulai serius.


Sepertinya dia memutuskan memberika kelonggaran untuk sepupunya itu sama seperti ayahnya. Walaupun, dia tidak tau alasan ayahnya apa.


"tetap perlu ultimatum Van" Riva sepertinya tidak setuju dengan keputusan adiknya.


"kak" Seraya beranjak dan duduk di sofa single di sebelah kakaknya. "kita di kantor sekarang. Kita bersikap profesional. Selama tindakannya tidak merugikan perusahaan Revan tidak masalah". Menjawab tegas.


"bagaimana kalau iya?. Dan disaat itu kalian baru sadar!" Riva menatap tajam adiknya.


Sementara Dimas mmemilih diam dan berdiri disamping tuannya layaknya sang ajudan.


" kakak terlalu berlebihan" Revan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"kamu menyelidikinya?" Riva tentu saja merasa aneh dengan sikap santai adiknya.


"tanpa Revan selidiki dia akan mengatakannya lebih dulu. Dan yang perlu kakak ingat dia bermasalah karena urusan pribadi bukan soal kerjaan" menjelaskan intinya. Lebih tepatnya menenangkan sang kakak yang jelas terlihat khawatir.


"hah....., kau terlalu lemah. Karena itu dia bertindak seenaknya dan kurang ajar." masih terdengar kesal.


"apa kakak kesini hanya karna ini?" Revan mulai mengalihkan pembahasan.


"kau makin menyebalkan. Kau tau?, aku juga sangat sibuk. Dan karena kata khawatir makanya aku sampai datang kemari. " mendelik.


"kalau bukan karena itu rasanya malas sekali membuang waktu ku hanya untuk bertemu orang sepertinya.!" ucap Riva yang sangat terdengar kesal.


"makasih" Revan berucap dengan tampang yang dibuat sedikit manis, untuk mengendurkan kekesalan kakaknya.


Riva mengernyit " astaga...., lakukan itu pada kekasih mu saja!. Dan kau Dim carikan dia wanita yang cocok!. Sepertinya dia mulai gila karena terlalu lama sendiri" perintah Riva, yang tentu saja merasa geli dengan sikap adiknya yang dibuat-buat.


Dimas tersenyum melihat ketegangan yang mulai mengendur. Namun tetiba terkejut disaat nonanya memintanya untuk mencari wanita untuk tuannya.


Dia tidak perlu lagi. Dan yang sangat perlu itu aku nona, cuma aku.


batin Dimas


"tidak perlu nona, tuan muda sudah___" ucapannya terpotong karena tatapan tajam tuan sekaligus sahabatnya.


"Dim......" menatap tajam yang membuat Dimas diam seketika dengan gerakan tangan mengunci.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2