Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 84 Mau Mama Fatma


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Meski menolak Riva tetap membiarkan Dimas mengikutinya. Bukan tidak mampu melarang tapi hanya malas berdebat untuk hal yang tidak perlu.


Dan sepertinya Riva menyesali keputusannya menghampiri sahabat adiknya itu. Dia baru tau kalau Dimas bisa bersikap tegas dan menyeramkan disaat yang bersamaan.


Dasar bodoh, seharusnya aku langsung pulang saja tadi.


masih merutuki keputusan dangkalnya.


Berbeda dengan Riva yang terus menggerutu di balik kemudi mobilnya. Dimas diam dan mengikutinya dengan tenang.


Merasa tersinggung. Tidak sama sekali. Karena memang dia tidak datang atas perintah sahabatnya, tapi kalau dia tau dari awal kalau Riva ada di restoran itu barulah tepat.


Dimas menghentikan laju mobilnya disaat melihat mobil didepannya memasuki gerbang tinggi rumah Utama Jaya Group.


Melihat gerbang setinggi ini membuat nyalinya kembali menciut.


Hah, aku bahkan hampir tiap hari kesini, tapi kenapa rasanya gerbang ini makin meninggi.


Perasaan rendah diri yang sulit dia kesampingkan.


Riva menghentikan laju mobilnya berniat untuk menyapa atau sekedar mengucapkan terimakasih kepada Dimas karena sudah mengiringinya pulang. Karena dia juga melihat mobil sahabat adiknya itu berhenti tepat diluar gerbang.


Disaat Riva akan keluar laju mobil yang di kemudi Dimas meninggalkan area perumahannya tanpa memberi kode apapun, yang entah kenapa membuat Riva merasa kesal.


"hais, apa di langsung pulang?. Dia bahkan pamit atau bahkan sekedar membunyikan klakson. Dasar menyebalkan!. Hah sepertinya aku terlalu baik padanya." Riva mendecak tidak suka sendiri, dan urung keluar dari mobilnya.


Riva kembali melajukan mobilnya sampai tepat depan rumah. keluar dari mobil dan menutupnya dengan kasar.


biarlah kali ini dia seenaknya, toh mobil akan diambil alih oleh sopir dan memindahkannya ke area parkir.

__ADS_1


Riva berjalan dengan rasa kesal yang entah apa penyebabnya. Dia sendiri pun masih bingung. bahkan karena rasa kesal yang dominan Riva tidak memperhatikan ruang keluarga yang dilaluinya. dimana orang tua dan adiknya tengah bersantai.


"Bagaimana sayang?" suara mama Fatma mengagetkan Riva. bagaimana tidak. Dia yang hanya fokus ke depan agar cepat sampai ke kamarnya malah dikagetkan dengan teguran sang mama.


Mama Fatma yang mendengar langkah melewati ruang tempatnya bersantai langsung bertanya. karena yakin kalau putrinya yang datang. Dan mama Fatma bingung dengan mood putrinya yang terlihat sangat buruk.


Apa terjadi masalah dengan pertemuannya.


membatin.


Iya, mama Fatma tau kalau Riva akan menemui anak dari temannya itu. tapi untuk membahas itu sekarang sepertinya Riva sedang tidak ingin.


sementara dua orang yang sibuk dengan tontonannya di Sofa ruang keluarga itu, ikut menyimak pembicaraan mereka. terlebih Revan yang perlu informasi tentang itu.


"apa sih ma." menjawab malas, dan bergegas menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Ditanya malah melengos. lihat tuh yah anak-anak ayah susah sekali dikasih taunya" mama Fatma sewot sendiri.


" Sudah lah ma, nanti kalau ketemu yang cocok pasti langsung dibawa ke rumah" Jawab sang suami santai.


"Masalahnya kapan Yah?. anak-anak kita terlalu santai. di tuntut salah di bawa santai malah makin santai!" kesal Mama Fatma.


"umur kita udah enggak muda loh. sama anak-anak juga!" sambung Mama Fatma.


Revan mendengus mendengar alasan sang mama yang yang terkesan memaksa anak-anaknya untuk segera menikah.


"Kayanya mama enggak perlu ikut arisan atau perkumpulan apalah itu namanya deh, mama jadi aneh gini!" Ayah Ardian menunjukkan ketidaksukaannya kepada sang istri yang terkesan memaksa.


Karena semenjak sering berkumpul dengan teman-teman arisannya membuat Mama Fatma semakin gencar untuk menjodohkan anak-anaknya. bahkan Revan beberapa kali disodorkan foto-foto perempuan anak dari teman-temannya. beruntung Revan bisa membuktikan kalau dia tengah berjuang untuk cintanya. membuat mama Fatma menyerah pada akhirnya.


"Hah..." menghembuskan nafasnya kasar. mengakui kalau dia memang memaksa anak-anaknya untuk berkeluarga.


"ayah benar. mama baiknya dirumah aja" Mama Fatma mengalah dan beranjak dari duduk santainya. meninggalkan suami dan putranya.


Tuan Ardian yang melihat istrinya terlihat lesu setelah mendengar ucapannya, membuatnya merasa bersalah.

__ADS_1


"apa ayah salah?" bertanya pada Revan yang kembali fokus pada Smartphone nya.


Revan mengalihkan pandangannya ke sang ayah" tidak." jawab Revan pendek.


"hah" menghela nafas karena merasa bersyukur masih ada yang membelanya.


" tapi mama juga tidak salah Yah. mama punya hak atas kami, termasuk meminta kami untuk menikah. bukan tidak suka tapi mungkin mama ingin rumah ini lebih ramai saja." sambung Revan yang kembali fokus dengan smartphone nya.


Tuan Ardian mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan jawaban putranya.


"itu kamu tau masalahnya dimana. kenapa sampai sekarang anak orang belum kamu kenalkan dengan kami!" tuding Tuan Ardian pada Revan.


Revan melepas smartphone nya, dan menatap sang ayah. seolah mengatakan dengarkan aku baik-baik ayah. tapi tuan Ardian mana tau kalau Revan tidak bicara.


"pasti ayah, tapi masih belum untuk beberapa saat ini. Revan tidak ingin memaksanya dan akhirnya malah membuatnya menjauh" jelas Revan apa adanya.


"kamu terlalu loyo jadi laki-laki. bagaimana kalau dia siapnya 5 sampai 10 tahun ke depan, iya apa kamu tunggu terus....." menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


Revan menanggapi ucapan sang ayah dengan tawa renyahnya. " tidak akan selama itu yah. percaya sama Revan" sambung Revan seraya beranjak dari duduknya, untuk kembali ke kamarnya.


"Revan duluan yah." ucapnya santai. tapi setelah beberapa langkah Revan berhenti dan berbalik kearah sang ayah " kayanya ayah tidur di sofa deh malam ini. semangat ayah" ucapnya Revan meledek sang ayah dengan tangan terkepal keatas memberi semangat.


Tuan Ardian yang tersadar maksud dari putranya merasa geram dan melempar bantal sofa kearah Revan yang berjalan cepat kearah kamarnya. tentu saja dengan suara tawa yang masih menyisa.


Tuan Ardian hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. melihat tingkah Revan yang lebih terbuka dan santai akhir-akhir ini.


Sepertinya staf itu membawa dampak baik.


gumam tuan Ardian melihat tangga dimana Revan berlari menuju kamarnya.


"Hah. kayanya benar, aku harus bersiap tidur di sofa" menghela nafas kasar dan pasrah.


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


__ADS_2