
🍀
🍀
🍀
Lala berlari setelah turun dari ojek yang dia naiki. Dejavu itu yang ia rasakan.
Dia pernah mengalami hal yang sama, disaat pertama kali menginjakan kaki di kantor ini.
Lala terus berlari tanpa memperdulikan sekitar, dan berhenti tepat disaat hendak memasuki pintu masuk kantor.
Lala tampak merapikan kembali penampilannya. Dan menghembuskan napasnya kasar.
seharusnya aku langsung tidur tadi malam. Jadinya kan tidak seperti sekarang
Lala terus mengomeli dirinya dalam hati. Bagaimana dia bisa sesantai itu dan memilih tidur malam hanya karena pengakuan.
Dia seharusnya tetap bersikap seperti tuan muda, dan tidak harus mengatakan apapun bukan. Menyebalkan
Disaat Lala melewati puntu utama, entah nasib sial apa lagi yang menemuinya sampai-sampai dia terjatuh. Dan lebih gilanya lagi dia tersandung dengan kakinya sendiri.
"Astaga Lala kamu ceroboh banget sih" ucapnya mencoba berdiri. " Awhhh...., Astaga kenapa bisa sesakit ini. Aku mohon jangan sakit sekarang.." sambung Lala.
Lala berjalan dengan tertatih. Tapi ini jauh lebih baik, karena setidaknya dia tidak terlambat.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai" Lala berucap syukur disaat sudah duduk di meja kerjanya.
"Apa mbak Sasa belum sampai?" Ucapnya disaat melihat meja kerja rekannya kosong.
Sasa tampak dengan tangan membawa minuman yang dia buat di pantry.
"Baru datang?" Tanya Sasa basa basi.
"Iya mbak"
"Lain kali datanglah lebih cepat. Kau lihat pekerjaan ini sudah lama menunggu dan aku tidak mau mengerjakan bagian mu" ucap Sasa terdengar kesal.
"Maaf mbak"
Akhir-akhir ini karena sering mengerjakan tugas tambahan dari tuan Revan membuat Lala melupakan pekerjaan di meja kerjanya.
Karena dia merasa sama-sama kerja tentu saja dia santai. Tapi setelah mendapat teguran langsung dari rekannya membuat Lala harus lebih teliti lagi.
"Aku enggak tau apa yang kamu kerjakan didalam, tapi kalau bisa tetap kerjakan pekerjaan mu. Jangan mau enaknya saja" sambung Sasa.
Entah memang mood yang buruk atau mungkin karena hal yang lain. Sasa selalu merasa kesal dengan rekannya, dia merasa kalau Lala mengambil keuntungan dari tugas-tugas yang diberikan tuan mudanya agar bisa bersantai.
Apalagi dia mengerjakan tugas dari tuannya di ruangan tuan mudanya.
Menyebalkan.
"Maaf mbak, lain kali saya akan lebih teliti lagi" Lala menjawab.
Meski bingung dengan sikap rekan kerjanya. Namun Lala memilih diam toh dia memang merasa bersalah karena sering meninggalkan pekerjaannya. Yang mengakibatkan rekannya yang harus menyelesaikan.
__ADS_1
Mereka memutuskan diam dan memulai kegiatan kerjanya.
Disaat tengah bekerja, fokus mereka teralihkan dengan suara derap langkah.
Tuan muda Revan dan sekertarisnya tampak berjalan beriringan.
"Pagi tuan. Pagi pak" ucap mereka bersamaan dengan posisi berdiri dan sedikit membungkukkan badan.
Lala dan Sasa kembali bekerja meski tidak ada balasan dari sapaannya. Hal ini sudah biasa bukan.
Menjelang jam makan siang. Lala masih sibuk menyelesikan pekerjaannya. Bahkan disaat rekannya sudah beranjak ke kantin kantor. Dia masih berkutat dengan berkas dan komputer didepannya.
Kali ini Lala harus memastikan pekerjaannya selesai. Baru dia akan istirahat. Jadi jika sewaktu-waktu dia dipanggil tuan mudanya untuk menyelesaikan pekerjaan lain. Dia akan sedikit tenang.
Lala terus fokus dengan dokumen jadwal tuan mudanya. sampai tidak menyadari seseorang berjalan kearahnya.
"kamu tidak istirahat?" tanya seseorang, sekaligus membuyarkan fokus Lala.
Lala mendongak dan seketika berdiri." iya pak" jawab Lala segera.
disaat akan beranjak untuk makan siang, Lala melupakan sakit di pergelangan kakinya yang menyebabkan dia mendesis panjang karena menahan sakit.
"kaki kamu baik-baik saja?" tanya suara itu lagi yang tak lain adalah sekertaris Dimas.
"baik pak" jawab Lala lagi.
"sudah ke dokter? atau mau ke klinik kantor saja" Dimas menyarankan.
"iya pak. selesai ini saya langsung kesana" jawan Lala tidak enak.
Dimas masuk disaat Revan masih fokus dengan layar monitornya. Revan yang melihat sahabatnya masuk dengan tangan kosong menatap sejenak. Revan menurunkan kacamata kerjanya.
"kenapa...?"pertanyaan yang selalu Revan tanyakan pada sahabatnya setiap kali Dimas masuk tanpa pemberitahuan.
"tadinya mau ngajak makan siang diluar. bosen juga makan dikantor mulu" ucap Dimas santai.
Revan menarikan alisnya tanda tak mengerti, karena setaunya makan siang mereka berdua sudah ada yang mengurus secara khusus. dan ini pertama kalinya Dimas mengajaknya makan diluar tanpa ada hubungannya dengan kerjaan.
"tumben..?"
"tadinya itu juga..."
Revan makin tidak mengerti. ini sudah masuk jam makan siang dan sahabatnya masih memikirkan mengenai tempat.
astaga jam istirahat akan segera habis ini
"kenapa makan siangnya belum datang?" akhirnya Revan langsung menanyakan hal yang paling penting kali ini.
"aku cancel, sudah terlanjur bilang ke Dino juga" jawab Dimas tanpa merasa bersalah.
"lantas kita?..." Revan mulai kesal.
" hahahhha...., tenang aja kenapa sih. lagian makanan dikantin kantor tidak kalah okenya dengan masakan Dino bukan?" Dimas mencari pembenaran.
"masalahnya jam makan siangnya..." ucap Revan tegas.
__ADS_1
"ye.. ..staf di depan aja belum makan kok" kali ini Dimas malah membawa nama stafnya untuk menghilangkan kekesalannya.
"kenapa memang?, apa makanan di kantin tidak cukup atau..." ucapan Revan terhenti karena Dimas menyerobot langsung pembahasan
"kakinya sakit. jadi kalau buat jalan susah kayanya..." kali ini ucapan Dimas yang terpotong karena reaksi tuan sekaligus sahabatnya.
"sakit....." ucap Revan khawatir.
tanpa menunggu penjelasan sahabatnya Revan beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu ruang kerjanya.
"masuk keruangan saya sekarang..." ucap Revan tegas dengan wajah datarnya, disaat melihat orang yang dimaksud Dimas masih setia di meja kerjanya.
Revan masuk kembali tanpa menunggu jawaban stafnya. iya Revan memanggil staf istimewanya.
tok tok tok
setelah mendapatkan perintah secara langsung, Lala memilih segera mengikuti tuannya. Lala sedikit cemas karena melihat ketegangan diwajah datar tuannya.
dengan agak sedikit tertatih Lala memasuki ruangan setelah sebelumnya meminta ijin masuk.
disaat masuk ruangan tampak sekertaris Dimas tengah duduk disofa.
Lala terdiam dengan posisi masih berdiri di dekat sofa.
Dimas yang merasa kondisi agak sedikit canggung memilih mengalah dan pergi dia berfikir mungkin sahabatnya perlu ruang.
sebelum Dimas keluar Revan meminta sahabatnya mencari obat untuk stafnya.
setelah Dimas keluar, Revan menghampiri stafnya yang masih diam dengan posisi awal.
"duduklah" ucap Revan menunjuk sofa yang tadi diduduki Dimas.
Lala memilih langsung menuruti tuannya, meski masih bingung. Lala tetap berjalan dengan sedikit tertatih dan semua pergerakan itu tidak lepas dari penglihatan Revan.
disaat Lala duduk, Revan menghampiri dengan segera. dan berjongkok tepat didepan staf istimewanya.
"apa masih sakit" Revan bertanya dengan pandangan fokus pada kaki stafnya yang terlihat membiru.
Revan menyentuh kaki Lala dengan hati-hati. " huh.....bagaimana bisa sampai seperti ini..?" tidak habis fikir dengan lebam yang terlihat yang artinya lukanya sudah lumayan lama. dan stafnya menahan rasa sakit sampai sekarang.
"tidak apa-apa tuan" ucap Lala pelan dengan posisi sedikit menunduk untuk mencegah tuannya menyentuh kakinya.
"diam lah" ucap Revan menatap Stafnya. seolah mengatakan kenapa kau bisa seceroboh ini.
tok tok tok
suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.
"masuk" ucap Revan. dan kembali fokus melihat lebam di kaki stafnya.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1