Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
42 Abang


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


...Flasback on...


Karena merasa bersalah Lala menunduk dan meminta maaf, karena dia sama sekali tidak menyangka sikapnya selama ini menyinggung tuan mudanya.


"Maaf tuan, saya tidak bermaksud begitu. Apalagi sampai mengabaikan tuan" Lala menunduk.


Entah kenapa rasanya Lala ingin menangis.


"Hah....."Revan menghembuskan nafas


"Lupakan. mulai hari ini, anggap saja kita tidak pernah berbicara berdua. Untuk sekarang lanjutkan makan mu" Revan beranjak hendak pergi, rasa sesak ini sangat menyebalkan.


Lala mendongak disaat tuannya beranjak berdiri seakan meninggalkannya.


"Apa saya pantas menyukai anda" Lala bertanya mengenai kegelisahannya selama ini.


Dia merasa tidak pantas memiliki perasaan itu, Dia sadar dia siapa dan orang di depannya ini siapa.


Revan mengurungkan niatnya setelah mendengar ucapan dari stafnya.


"Memangnya kenapa?" Kali ini Revan yang bertanya.


"Saya hanya merasa tidak____" Revan menggeram setelah menyadari apa yang akan dikatakan oleh stafnya ini.


"Entah apa yang kamu fikirkan sekarang. Bukankah yang terpenting disini soal perasaan kita. Masalah pantas atau tidak pantas semua tergantung bagaimana kita bersikap. Dan aku tidak perduli dengan itu." Revan menegaskan kecemasan stafnya.


"Kau suka padaku?, Ah...tidak bukan itu. Apa kau tidak memiliki perasaan sedikit pun padaku?" Revan memastikan sekali lagi.


Lala bingung diberondong pertanyaan seperti itu. Apa perasaan itu ada atau tidak Lala tidak tau.


"Oke, gini aja. Kita coba berhubungan dua bulan ke depan. Dan kau bisa meraba hati mu dalam waktu itu. Tapi jika aku benar-benar tidak ada dalam hati mu atau kau tidak memiliki perasaan padaku dalam dua bulan kedepan, kita cukupkan hubungannya?" Revan memberitahu cara lain.


Lala terkejut, tapi menurutnya cara ini lebih baik saat ini.


"Baiklah, tapi jika dalam dua bulan anda berubah fikiran dengan perasaan anda berubah beritahu saya. Maka saya yang akan menjauh" Lala memilih setuju. Karena menurutnya tidak salah untuk di coba.


Tuannya benar, dia perlu waktu untuk meraba hatinya.


...Flasback of...


Di ruangan utama, mereka bekerja tanpa mengganggu satu sama lain.


Revan fokus dengan berkas di depannya begitu pun Lala, mereka bahkan tidak saling melihat walau duduk bersebelahan.


Revan berhenti sejenak, menekan pangkal hidungnya untuk menghilangkan penat.

__ADS_1


Meregangkan otot-otot yang kaku karena seharian duduk bersila.


"Astaga kaki ku.....!" Revan meringis di saat meluruskan kakinya.


Lala melihat semua yang dilakukan tuan mudanya.


"Kenapa anda tidak bekerja di meja kerja anda saja tuan?"Lala mengusulkan, toh tetap saja mereka satu ruangan kan.


"Aku cuma mengikis jarak" jawab Revan sekenanya.


Lala mengernyit dan menggelengkan kepalanya tidak habis fikir. Tuannya menyiksa dirinya sendiri hanya untuk alasan mengikis jarak.


yang benar saja.


"Kau belum mencintaiku jadi wajar kau tidak mengerti" kata Revan telak yang membuat Lala mendongakkan wajahnya kembali.


Revan menatap Lala intens.


"Kau akan selalu ingin bersamanya jika sudah memiliki rasa itu. Tetap fokus padaku selama waktu yang kita tentukan" mengingatkan kembali.


Lala terdiam namun pandangannya tidak beralih dari tuan mudanya.


"Setidaknya beri aku alasan, kenapa tuan merasa saya pantas memiliki rasa itu untuk anda" alasan untuk meyakinkan dirinya.


Revan mengubah posisi duduknya menghadap Lala, melupakan sakit yang dia rasakan sebelumnya.


"Kau pantas karena aku memilih mu langsung, bukan karena adanya perintah atau paksaan dari orang lain" Revan menjelaskan dengan tatapan mereka yang saling tertaut.


"Seperti yang pernah aku katakan, aku mencoba melupakan mu karena aku berfikir mungkin saja aku salah. Ternyata tidak bahkan setelah beberapa waktu fokus ku tetap pada mu" mencoba terus meyakinkan wanitanya.


Berharap kata-katanya dapat menembus benteng pertahanan wanitanya.


Lala yang mendengar itu tampak berkaca, jujur dengan semua sikap tuan mudanya selama ini dia merasa istimewa. Seakan seseorang melindunginya dan mengistimewakannya.


Hanya saja dia takut kalau ini semua hanya sementara dan semu.


Karena kaharuan yang dirasakannya, Lala beranjak dan memeluk tuan sekaligus kekasih barunya ini.


Mereka berpelukan seolah meluapkan semua rasa bahagia yang tengah mereka rasakan saat ini.


Revan membalas pelukan wanitanya, dia berharap ini awal yang baik untuk hubungannya mereka.


Untuk sejenak Lala mengurai pelukannya, seolah baru tersadar atas tindakannya.


"Maaf tuan" Revan mengernyit mendengar kata keramat itu lagi. "Maaf karena bersikap berlebihan" sambung Lala karena jujur dia malu sekali bahkan rona merah di pipinya mulai terlihat.


"Tidak masalah, aku malah senang kalau kau berlebihan setiap saatnya" goda Revan


Lala manyun seolah protes karena tuannya mempertegas kekhilafannya.


"maaf " pinta Revan dengan menyentuh wajah sebelah kiri Lala. " boleh aku minta sesuatu?" menatap dengan lembut wanitanya.

__ADS_1


"Apa?.." Lala merasa tidak punya sesuatu untuk diberikan pada tuannya ini.


Yang membuatnya bingung, apa gerangan yang akan di pinta tuannya ini.


"disaat kita berdua, apa boleh diganti panggilannya?, kalau bisa ke yang lebih nyaman saja" pinta Revan dengan tangan berpindah menyentuh tangan Lala.


"mau dipanggil apa memangnya" merasa bingung.


"apa saja asal jangan seperti biasanya" Revan terlihat tidak suka dengan panggilannya.


"apa ya?" berfikir keras


"panggil nama saja" Revan mengusulkan


"enggak sopan ah" Lala reflek memukul tangan tuannya yang masih bertaut dengan tangan kirinya.


"terus....?" Revan juga bingung.


pengennya dipanggil sayang tapi pasti terdengar aneh. Batinnya


"kalau mas" Lala mengusulkan


"emang aku mas mas jawa?, enggak ah!" langsung menolak keras.


"akang?, lebih enggak mungkin. Kakak?, nanti di kira punya kakak lagi. Kalau abang? Kaya tukang bakso enggak sih?" Lala menyerah dan Revan yang melihat perubahan wajah wanitanya tidak bisa menyembunyikan tawanya.


"hahahahhahahha. Astaga kamu lucu sekali. Hahahahah" Revan tertawa sampai memegang perutnya.


Entah lucu bagian mananya, Lala tidak mengerti.


Lala mencebik, kesal karena tuan merangkap kekasihnya ini malah tertawa bukannya membantu mencari panggilan yang pas.


Padahal dia yang mau nama panggilannya di ubah.


Lala menatap tajam, " kalau gitu panggil seperti biasa saja" kesal Lala akhirnya.


"oke maaf" Revan menghentikan tawanya. " panggil abang saja, enggak apa-apa deh kaya tukang bakso, atau tukang bangunan juga" akhirnya Revan memilih panggilan yang menurutnya tepat.


"Coba panggil, aku pengen denger!" meminta senyum hangatnya.


"Abang..." Lala memanggil sesuai perintah.


Revan memejamkan mata " sekali lagi" pintanya


"Abang" panggil Lala lagi dengan suara yang lebih dilembutkan.


Revan tersenyum lebar dan menautkan kembali tangan mereka.


" Terimakasih" ucapnya sambil mengecup tangan yang dia genggam.


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


__ADS_2