
🍀
🍀
🍀
"siapkan cemilannya" ucap Revan membalas sapaan stafnya.
"baik tuan" Lala menjawab pasti dan segera beranjak setelah melihat tuan merangkap kekasihnya itu memasuki ruangannya.
Lala selesai mempersiapkan cemilan untuk tuan mudanya, potongan aneka buah dan segelas jus buah segar. Dibuat Lala dengan senyuman yang tak pernah surut.
Terasa nyaman disaat kita menikmati kegiatan kita bukan?.
"selesai.." Lala bersenandung pelan. Dan mengangkat nampan pesanan tuan mudanya.
Tok tok tok
"masuk" Suara dari dalam terdengar.
Lala melangkah masuk dan menyimpan pesanan tersebut di meja kerja tuannya.
Revan tersenyum melihat sikap kekasihnya yang sedikit lebih santai akhir-akhir ini.
"jadwal ku hari ini apa saja?" Revan bertanya pada stafnya. karena stafnya mengetahui semua hal yang berhubungan dengan pekerjaannya.
"sejauh ini, jadwal anda hanya berada di kantor tuan. Dan ada beberapa___" Revan memotong penjelasan Lala, Dengan kening berkerut.
"apa?, aku kurang dengar" tanya Revan dengan bahasa santainya.
" jika tidak ada perubahan dari sekertaris Dimas jadwal anda__" lagi-lagi ucapannya terpotong.
Revan menatap tajam, membuat Lala mengernyit heran.
"apa sih?" Akhirnya Lala bertanya karena merasa bingung dan kesal.
"ishhh.....," Revan mendelik kesal.
Lala tertawa kecil melihat tuan sekaligus kekasihnya itu.
"kan lagi di kantor dan masih jam kerja" Lala menjelaskan. Dia sadar apa yang membuat kekasihnya kesal.
Astaga, apa memang selalu selucu itu.
Revan mengerutkan kening melihat wanitanya tertawa sedikit di tahan.
"kenapa ketawa..?" bersikap dingin untuk menggoda wanitanya.
"maaf tuan " Lala spontan menjawab dan mengembalikan mimik wajahnya layaknya staf utama.
Revan tersenyum samar, dan beranjak dari duduknya menghampiri wanitanya.
"terimakasih buahnya sayang" ucap Revan tepat di telinga Lala. Membuat Lala terkejut dan segera mengalihkan pandangannya pada tuan sekaligus kekasihnya itu. Membuat tatapan mereka bertemu dan mengunci.
Hawa panas yang dirasakan Lala pada wajahnya membuatnya mengalihkan pandangannya.
"ada yang bisa saya bantu lagi" Lala mencoba menormalkan cara bicaranya, dengan bertanya.
"ishh......., kita sedang bedua loe ini!" Revan kembali kesal dan bediri dengan tangan bersidekap dada.
__ADS_1
"kalau gitu saya permisi tuan" Lala mencari aman.
"panggil yang benar dulu, baru boleh keluar" Revan menahan kekasihnya masih dengan kata-kata.
Lala menatap tuan dengan sedikit memelas, meyakinkan kalau dia akan bersikap biasa kalau mereka diluar kantor.
"kalau gitu duduk disitu dan jangan keluar" Revan kembali ke meja kerjanya. Dia ingin melihat bagaimana cara kekasihnya membujuknya kali ini.
"abang..." panggil Lala lebih ke pada keluhan.
Revan diam dan menatap kekasihnya, dia masih menunggu sikap kekasihnya selanjutnya.
"ishhh...." Lala mengerucutkan bibirnya. " Lala keluar ya, kerjaan masih banyak soalnya" Lala memohon dengan sedikit merayu dan hendak beranjak.
"sini.." Revan meminta Lala datang menghampirinya.
"apa lagi, kalau ada yang masuk gimana coba...." Lala menggerutu namun tetap melangkah ke arah tuan sekaligus kekasihnya.
Disaat Lala sudah dekat, Revan menarik tangan kekasihnya dan membenamkan kepalanya di pinggang ramping Lala. Dengan posisi tangan kanan menggenggam tangan kekasihnya sementara tangan kiri melingkar erat pada pinggang kekasihnya.
"astaga abang...." Lala memukul pelan bahu kekasihnya, dengan tangan yang terbebas.
"sebentar saja" Revan berucap pelan.
Lala yang mendengar ucapan kekasihnya memilih diam. Seolah ikut menikmati kegiatan mereka.
"abang enggak kerja?" Lala memecah kesunyian dan mengganggu kenyamanan kekasihnya.
"ishhh...., lagi menikmati malah di ingatkan masalah kerjaan. enggak asik" merajuk ala tuan muda mode on.
"hahahahhaha...." Tertawa lepas. " enggak gitu bang. Kita dikantor sekarang dan ini masih jam kerja" Lala mengingatkan kekasihnya.
"kemana?" memilih bertanya langsung dengan pandangan saling mengunci.
"kemana aja, asal kita jalan berdua. Hah...., aku harus ngeyakinin kamu segera." Revan menghela nafas. Seolah kegiatannya sangat mengganggu fikirannya.
"bukannya Lala sudah bilang, kita jalani dan nikmati saja" Lala menenangkan. Dia juga tidak ingin terkesan di paksa.
Menurut Lala sikap kekasihnya membuatnya selalu berfikir tentang hal yang sama. Padahal yang dia inginkan saat ini menikmati semuanya. Karena Lala yakin Cinta dan perasaan sejenisnya akan muncul karena terbiasa.
"aku maksa banget ya..? Revan berucap dengan pandangan yang makin terkunci.
Dia ingin lebih tapi Revan sadar, membujuk wanita harus pelan dan teratur. Meski belum pasti hasilnya sesuai, paling tidak dia terus berusaha dan tidak akan menimbulkan sesal di kemudian harinya.
"emm....." Lala mengangguk. Karena memang itu yang dia rasakan.
"aku tipe orang yang susah jatuh cinta. Tapi masalahnya kalau sudah jatuh cinta maka akan sejatuh-jatuhnya. Maaf kalau abang terkesan memaksa" Revan memilih jujur.
Rasa ingin memiliki sangat besar tapi terlalu memaksakan kehendaknya untuk sekarang ini Revan belum berani. Takut akan hasilnya yang lebih menyakitkan.
Lala merangkum wajah kekasihnya, memaksa kekasihnya untuk kembali menatapnya. "kita jalan kemana?, bagaimana kalau ada yang mengenali kita?" Lala memilih kembali ke pembahasan awal.
"abang terserah kamu, bagaimana ka___" ucapan Revan terpotong setelah mendengar suara pintu diketuk dan membuat Lala spontan melepas rangkuman dan menjauh darinya.
"aku ganggu?" Dimas bertanya setelah diijinkan masuk. Dia sadar situasinya saat ini sedang tidak baik -baik saja.
Semua diam, tidak satupun yang ingin menjawab.
"astaga apa aku benar mengganggu kalian?" Dimas makin penasaran.
__ADS_1
Mati aku....
...****************...
Suasana ruangan salah satu butik tampak sangat mencekam.
Terlihat beberapa orang butik menyampaikan laporan yang membuat Riva naik pitam.
Bagaimana bisa ada kesalahan yang sangat fatal menurutnya.
Pelanggan tetap dengan status VIP, untuk pertama kalinya mengeluh dengan hasil rancangan pesanannya yang tidak sesuai dengan kesepakatan.
"Hah.....,kenapa harus sekarang sih?. Astaga....." Riva mengurut keningnya sekedar menghilangkan pening yang mendera.
"kami sudah berusaha mbak, ini semua di luar kendali kami" asisten desainer membela diri.
Desainer yang lama memilih berhenti dan bekerja dengan yang lain. Dengan alasan kontrak yang hampir habis.
"kenapa tidak ada konfirmasi lebih cepat. Dan gilanya kalian membiarkan dia menerima pesanan yang terbilang penting." Riva geram.
"bagaimana solusinya" Riva bertanya ke asistennya.
"sejauhnya ini, pihak kita masih menawarkan ganti rugi" Sang asisten menjawab.
"mereka bukan orang sembarangan, tentu saja ganti rugi itu perlu. Tapi mengganti rasa tersinggungnya bagaimana?. Aku bahkan tidak yakin pihak mereka akan menerima ganti rugi" Riva menjelaskan dengan nada sedikit tinggi sebagai tanda kalau dia sedang sangat marah sekarang ini.
"pastikan dia menerima ganti rugi atau apapun itu namanya. Jangan sampai mama atau orang rumah tau masalah ini" Riva mewanti asistennya kembali.
Aneh memang karena asistennya adalah orang kepercayaan mamanya sebelumnya.
Tapi karena ini masalah butik, Riva yakin asistennya tidak akan membocorkan masalah ini pada mamanya. Apalagi ini, Riva sudah mewanti semua karyawannya.
"kroscek ulang semua pesanan dan lainnya, jangan sampai ada kesalahan lagi!" ucap Riva tegas pada asistennya.
"baik nona" sang asisten menjawab tak kalah tegasnya.
" saya pulang, ingat kalau ada masalah langsung hubungi saya!. Ingat hu_bungi saya!" Riva mengulang kembali ucapannya seolah mengingatkan jangan sampai orang rumah tau.
Riva mengendarai mobilnya dengan pelan, kondisi jalan sore ini agak lenggang karena memang belum waktunya jam pulang kerja.
Riva menghentikan mobilnya dan keluar duduk bersandar pada kap mobil di bagian depannya.
dia memilih taman kota untuk membuang jenuhnya. Menghilangkan rasa pusing yang tadinya mendera.
Riva masih tidak habis fikir, kenapa bisa ada kesalahan yang menurutnya sangat fatal seperti sekarang ini.
Dia masih berfikir, apa mungkin dia memang tidak bisa apa-apa. masalah yang datang di butik mamanya muncul disaat dia menggantikan sang mama.
"Huh...."menghembuskan nafas kasar.
dengan badan bersandar pada kam mobil bagian depan.
Sejenak menghirup udara, dengan memejamkan mata.
"ada masalah?" suara terdengar menyapa.
🍀
🍀
__ADS_1
🍀