Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 60 Suasana Hati


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Suasana kamar mewah serba putih tampak sunyi bahkan dari suara dengkuran.


Revan bergelung dengan selimut tebal masih membungkus badannya. guling ke kiri guling lagi kekanan.


Beberapa kali kegiatan tidak penting itu terus berulang. Di luar sana pasti tidak ada yang percaya kalau tuan muda Revan akan bertindak sama dengan kebanyakan manusia di muka bumi ini jika sedang mager.


Iya mager karena suasana hati yang kurang kondusif membuat Revan terlihat banyak sekali fikiran hanya dari cara dia bersikap.


"Hah............." membuang nafas kasar.


waktu yang disepakati sebentar lagi habis, sedangkan Revan tampak belum memenangkan hati dari staf yang merangkap kekasihnya itu.


Dari awal Revan sudah mengatakan jika Stafnya tidak memiliki perasaaan padanya selama masa percobaan ini maka Revan akan menerima apapun keputusannya.


Entah itu melanjutkan atau mengakhiri hubungan mereka.


Dan sialnya lagi Lala mengingatkannya perihal waktu itu tadi malam.


Iya pembicaraan mengenai masa percobaan itu mengingatkan Revan kalau waktu yang dimiliki kurang dari satu bulan lagi.


Bagaimana bisa aku meyakinkannya. Bahkan kekuasaan ku tidak mampu membuatnya mendekat yang ada malah semakin menjauh.


Tok tok tok


Pintu kamarnya sudah diketuk itu artinya sudah waktunya sarapan. Bahkan Revan masih bergelung dengan selimutnya.


Tok tok tok


Suara ketukan terdengar lagi.


"astaga tidak sabaran..." geram Revan beranjak dari kasurnya.


" saya sarapan dikamar.." beritahu Revan langsung pada kepala pelayan yang memanggilnya.


"baik tuan" mbak Keke menundukan kepalanya. Dan bergegas meninggalkan depan kamar tuannya untuk menyiapkan sarapan pagi untuk tuan mudanya.


"Revan mana mbak?" nyonya Fatma bertanya karena melihat kepala pelayannya keluar seorang diri.


" tuan muda meminta sarapannya di bawa ke kamar nyonya.." jelas kepala pelayan.


Nyonya Fatma terlihat berfikir " apa Revan sakit yah..?" bertanya pada suaminya.

__ADS_1


Sementara Riva sudah lebih dulu berangkat ke Butik dengan alasan ada pesanan yang mendesak untuk segera di selesaikan.


" datangin aja ma, tanya langsung sama anaknya.." dengan santai tuan Ardian menyarankan membuat Nyonya Fatma mencebikkan bibir tidak suka dengan saran suaminya yang terkesan biasa saja.


Terlihat mbak keke dengan satu pelayan lain yang membawa sarapan untuk tuan muda Revan bersiap akan naik ke lantai atas.


"mbak biar saya saja" Nyonya Fatma beranjak mengmbil alih untuk mengantar sarapan dengan di ikuti pelayan yang membawa sarapan menuju lantai atas. Sedang mbak keke kembali ke tempatnya.


Tuan Ardian menggelengkan kepalanya tidak habis fikir. Menurutnya istrinya terlalu berlebihan.


Mungkin saja kan Revan hanya sedang malas. Wajar saja bukan?, ini waktu libur dan anggap saja putranya sedang ingin me time saja.


Tuan Ardian tetap melanjutkan sarapannya seolah tidak terganggu sama sekali.


Sesampainya di lantai atas tepatnya di depan kamar putranya nyonya Fatma mulai mengetuk pintu. Ini kebiasaan baik keluarga besar tuan Ardian selalu menghargai kehidupan pribadi anak-anaknya. Walaupun hal kecil seperti selalu mengetuk pintu sebelum masuk kamar mana pun sebagai warning.


Tok tok tok


"Van mama masuk ya..?" ucapan Nyonya Fatma dibarengi dengan ketukan.


"masuk ma" suara dari dalam terdengar tidak bersemangat. Membuat Nyonya Fatma semakin yakin kalau anaknya memang sedang tidak baik-baik saja.


"kenapa minta makan di kamar sayang?,.." Nyonya Fatma bertanya setelah masuk kamar dan bergegas menghampiri ketempat tidur dimana anaknya masih berbaring dengan selimut menutupi separuh badannya.


Nyonya Fatma meraba kening putranya, merasa perlu mengecek keadaan putranya langsung.


"enggak ma, Revan lagi malas saja. Mumpung libur juga kan" menjelaskan dengan mata terpejam.


"terus kenapa tidak makan dibawah?, jangan bikin orang khawatir dong..!" Nyonya Fatma terdengar tidak suka dengan sikap anaknya.


Walau bagaimana pun, mereka terbiasa makan bersama, kumpul bersama dan terkadang hanya sekedar ngobrolin hal-hal yang tidak terlalu penting.


"Kak Riva aja tetap ke Butik walau libur juga. Lah kenapa kamu malas-malasan gini. Kaya bukan Revan anak mama." Nyonya Fatma terus dengan omelan khasnya.


"Kak Riva aja yang kelewat rajin ma. Revan mau istirahat aja sebentar." menenangkan sang mama.


"ayo sarapan dulu baru lanjut lagi tidurnya" menyarankan agar anaknya segera sarapan. Toh ini sudah termasuk siang. Dan putranya belum juga sarapan.


"mau mama suapin?" bertanya seraya mengaduk pelan nasi goreng dalam piring. Berharap tindakannya akan menghilangkan sedikit uap panas pada nasinya.


Revan termenung, sikap mamanya ini mengingatkan dia mengenai kejadian semalam. Dimana dia makan disuapi dengan menu yang sama. Sama-sama nasi goreng.


Plak


"disuruh makan malah ngelamun" menyadarkan Revan dengan gerakan fisik. " kesambet baru tau rasa" Revan tertawa mendengar mamanya. Yang entah kenapa terdengar sangat lucu dan kolot.


"Revan bisa sendiri kok ma" Revan mengambil alih piring. Dan memakan sarapannya dengan pelan. Tidak mau membuat mamanya khawatir Revan menghabiskan nasi goreng yang disiapkan.

__ADS_1


Setelah nasi goreng habis, Revan meraih gelas yang berisi air putih meneguknya sampai tidak tersisa. Dan menyerahkan gelasnya pada sang mama.


"habis kan ma. Revan baik -baik saja jadi, tenang saja. Oke" membulatkan jarinya sekaligus sebagai tanda untuk meyakinkan sang mama.


"baiklah..." Mama Fatma menyimpan Gelas dan piring bekas makan ke nampan. Dan bersiap akan keluar sampai suara putranya menghentikannya lagi.


"ma....." hanya panggilan dengan suara pelan saja sudah mampu menghentikan gerakan Nyonya Fatma.


"mau cerita?" tanyanya setelah duduk kembali di dekat putranya yang tengah duduk bersandar. Entah kenapa Nyonga Fatma yakin sekali kalau putranya tengah ada masalah.


" kesofa saja ma" Revan menarik tangan sang mama dan membawanya ke sofa yang ada dikamarnya.


Setelah Nyonya Fatma duduk Revan merebahkan badannya berbantalkan pangkuan sang mama.


"masalah yang kemarin..?" menebak masalah yang tengah difikirkan sang putra.


"tersisa satu bulan lagi ma.." Revan mulai berbicara. Walau masih ragu untuk menjelaskan kondisinya pada sang mama.


" apanya..?" Masih bingung.


"Revan suka sama dia, tapi dia enggak. Revan berusaha ngeyakinin dia dengan memberinya masa percobaan selama dua bulan. Dan akan menyerahkan keputusan apapun padanya mengenai perasaan dan kelanjutan hubungan kami" Revan mulai menjelaskan.


"dan masalahnya sampai saat ini, dia masih menjaga jarak dengan Revan. apapun yang Revan tunjukan untuknya seolah mental. Dia selalu mengingatkan Revan dengan perjanjian kami." sambung Revan terdengar prustasi.


Nyonya Fatma masih mendengar penjelasan putranya. Dia tidak ingin memotong sampai cerita benar-benar tuntas.


Karena Nyonya Fatma bisa bertindak setelah memahami masalah yang tengah dihadapi putranya.


"jujur Revan cape ma. Tapi Revan sayang dia. Enggak tau apa sebabnya?. Tapi yang jelas Revan ingin tetap ada di sampingnya" Revan mengakhiri ceritanya dengan menutup mata menggunakan punggung tangannya.


"Hahh......, mama tidak menyangka kalau anak-anak mama akan menghadapi kisah asmara yang rumit. Sebenarnya tidak rumit hanya saja kalian terlalu terpaku sampai terkadang tidak berfikir logis" mama Fatma mulai berbicara.


"dari yang mama tangkap, hubungan kamu sudah tidak sehat sayang. Tidak sehat karena hanya ada satu hati. Walau kemungkinan besar kekasihmu juga menaruh hati yang sama tapi caranya yang lambat dan terkesan mengulur-ulur waktu menunjukan kalau dia tidak yakin dengan mu." jelas Mama Fatma.


"terus Revan harus apa?" Revan serius bertanya.


"yakin ingin mendengar saran mama..?" bertanya kembali.


"hm..." Revan mengangguk dan menatap wajah sang mama dengan posisi masih berbaring dengan pangkuan sang mama sebagai bantalnya.


"tinggalkan" Ucap Mama Fatma yakin membuat Revan reflek beranjak dari posisi rebahannya.


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2