Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 74 Dua Sisi Berbeda


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Revan menatap datar namun terlihat jelas dia ingin bertanya pada Lala yang duduk tepat disampingnya.


Karena merasa diperhatikan, Lala tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan sikap kekasihnya(🤭). Bahkan Lala sampai memegang perutnya dan sedikit membekap bibirnya untuk mengurangi tawanya.


Sementara Revan yang penasaran dan kesal dengan sikap wanitanya. Malah ikut tersenyum melihat tawa lepas wanitanya.


Cantiknya...


Malah fokus ke yang lain.


"khmmm, ada yang lucu" Tawa Lala terhenti disaat mendengar pertanyaan datar dari kekasihnya.


Lala menatap Revan, bersamaan dengan Revan yang melihat juga kearahnya. Dan tawa diantara keduanya meledak seketika.


entahlah apakah tawa mereka keluar karena alasan yang sama atau tidak. Tapi yang jelas mereka tengah bahagia karena kebersamaan mereka.


"maaf dan terimakasih.." ucap Revan serius dengan pandangan intens, Setelah menyelesaikan tawanya. Membuat Lala mengernyit seolah bertanya maksudnya apa?.


"maaf karena memaksa mu dan terimakasih karena tidak keberatan dengan paksaan yang diberikan mama" jelas Revan dengan wajah seriusnya. Walaupun Revan tau kemungkinan Lala benar-benar iklas menerima paksaan dari mamanya sangatlah kecil.


Lala tersenyum karena ucapan kekasihnya. Karena tanpa dipaksa pun dia akan senang hati menuruti. Apalagi setelah Lala menyadari perasaannya" terimakasihnya Lala terima tapi kalau untuk maafnya..." Lala menggantungkan ucapannya sambil mengetukkan jari telunjuk pada ujung pelipis sebelah kirinya.


""Hah......, seharusnya abang tidak melibatkan mama. Tapi jujur abang tidak minta mama melakukan itu. Dan lagi abang hanya cerita biasa saja" menjelaskan lagi, kalau semua ini memang murni ide sang mama.


" dan lagi mama berlebihan bilangnya" ucap Revan prustasi. Dia tidak mau wanitanya berfikir kalau dia memaksa kehendaknya lagi.


" berlebihannn...?" tanya Lala


" hmmm, mama bilang perusahaan hampir bangkrut karena CEO nya yang galau"


"hahahahaahhaha" tertawa lepas.


"puas banget kayanya..." Revan mengalihkan pandangan kearah depannya. Bahkan mereka masih berada diparkiran gedung Jaya Group.


"emang benar gitu ya?" bertanya tanpa merasa bersalah


"menurut kamu...?"


mengangguk" kayanya sih benar, sampai-sampai mama turun tangan kaya gini.." ucapnya dengan senyuman mengejeknya.


Bukannya kesal, Revan ikut tersenyum merasa puas dengan panggilan wanitanya untuk sang mama.


"berarti sekarang sudah tidak ragu lagi" Revan memastikan dengan pandangan serius.

__ADS_1


"hmmm..., alasan awalnya memang karena takut. Lala enggak mau hidup Lala kaya di drama-drama. Kalau untuk sekarang Lala lebih tenang karena sudah yakin kalau mama tidak keberatan dengan kehidupan Lala." jelas Lala jujur.


Revan mengernyit tidak suka, apalagi setelah tau penyebab keraguan wanitanya " tontonan mu tidak bagus. Kalau pun sampai kejadian, abang tidak akan tinggal diam. Apalagi abang sendiri yang memilih kamu" Menjelaskan bahwa ketakutan Lala tidak berarti apapun. Revan juga mengenal baik orangtuannya.


Orangtuanya bukan orangtua kolot yang tidak memahami cinta. Malah Revan banyak belajar dari mereka. Bagaimana mereka saling mencintai, saling percaya dan saling menjaga.


Revan berharap kisahnya kali ini semulus kisah orangtuannya.


"terimakasih" ucap Lala berubah serius dengan tangan saling terjalin satu dengan lainnya.


"kalau boleh abang tau terimakasih untuk apa?" Revan bertanya. Karena jujur selama ini dia lebih dominan dalam menyatakan perasaannya apapun itu. Dan akan sangat aneh wanitanya mengucapkan kata yang harusnya bersumber dari dirinya.


Lala menatap tuan merangkap Kekasihnya dengan serius " karena mengistimewakan Lala. Karena setelah orangtua Lala meninggal tidak ada yang memperlakukan Lala seperti ini" jelas Lala, membuat Revan menarik tangan kanan Lala dan menggenggamnya erat.


Keduanya seolah menikmati suasana sahdu yang tengah mereka rasakan saat ini. Mempunyai orang yang bisa diandalkan dalam hal apapun memang selalu diharapkan Lala. Tapi mendapat orang yang luar biasa seperti tuannya adalah keajaiban baginya.


...****************...


Buk...


Hempasan tas kearah sofa terdengar jelas." huh...,nyamannya. Aku baru tau kalau bermalasan seperti ini cukup nyaman" Ucap Dimas sendiri setelah beberapa lama berbaring menatap langit kamar. Setelah menghempas tas kerja kesofa Dimas juga langsung menghemaskan badannya keranjang tempat tidur. Dan mulai menikmati rasa dari kegiatan istirahatnya.


Pekerjaan dua hari ini cukup membuatnya terkejut. Bagaimana tidak pekerjaan yang harus dikerjakan orang lain harus dia selesaikan seorang diri. Dan gilanya lagi dia tidak bisa bilang tidak. Bukan karena takut tapi lebih ke rasa tanggungjawabnya. Dan lagi Dimas sengaja memberikan waktu dua hari ini untuk sahabatnya dalam menyelesaikan urusan asmaranya.


Dan ditengah menikmati kegiatannya suara ponsel terdengar.


Dan suara dering ponselnya terdengar sangat mengganggu. " Hah...., please kali ini saja, stop dulu tuan muda!" ucapnya sendiri.


Dimas memutuskan untuk mengabaikan ponsel yang kembali berdering. Dan sepertinya kewarasannya masih lebih dominan membuatnya beranjak kearah sofa dimana ponselnya berada.


Dimas membuka tas dan mengambil ponsel yang mengganggu waktunya tadi, tapi disaat ponsel sudah ada digenggaman deringnya mati. Dan alangkah terkejutnya Dimas setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.


Dan tanpa berfikir dua kali Dimas kembali men deal nomor yang menghubunginya tadi.


"maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" jelas Dimas disaat sambungan telpon terhubung. Karen yang mnghubunginya nona Riva bukan sahabatnya.


"Haissss, panggil kakak aja kaya Revan. Jangan terlalu formal kecuali kalau didepan ayah, mama dan paman" suara diseberang sana terdengar tidak suka. Membuat Dimas tersenyum samar mendengar gerutuan nonanya.


"maaf nona, ah maksud saya kak" Dimas meralat panggilannya.


Kalau sayang aja gimana?


Batin Dimas bermonolog berharap angannya bisa menjadi nyata. Tapi apalah daya, setiap harinya kakak dari sahabatnya yang merangkap sebagai nona tertua dari Jaya Group terlihat makin sulit digapai.


Terasa sulit dari dulu, tapi sekarang lebih sulit lagi. Seharusnya perasaan ini layu tidak berkembang.


"Dim kakak minta tolong boleh?, maaf ya kakak ganggu waktu istirahat mu" Riva berbicara tanpa tau orang diseberang sana tengah termenung dengan fikirannya.


seolah tersadar kembali " maksudnya kak...?" bertanya

__ADS_1


"kakak mau minta tolong, apa boleh?" Mengulangi ucapannya.


"bisa kak. Ka Riva tidak perlu meminta tolong segala. Toh ini memang tugas saya kak" Dimas menjelaskan sungkan. Toh memang benar adanya kalau dia hanya sekertaris biasa.


" sebenarnya kakak bisa minta asisten kakak sih. Tapi takut ketauan ayah. Jadi pastikan kalau ayah jangan sampai tau. Oke"


Dimas mengernyitkan dahi merasa aneh hal apa yang perlu dilakukannya sampai nona mudanya meminta kedia langsung. Terlebih tuan Ardian tidak boleh juga.


" memangnya mau minta tolong apa kak?" penasaran.


"cari tau mengenai seseorang. kakak kirim foto dan namanya" Riva meminta


Ting


Pesan masuk dan tampak foto laki-laki mapan dan tampan. Bahkan hanya melihat foto saja Dimas bisa mengetahui kalau orang ini orang penting.


" kakak minta cari tau semua hal tentangnya. Dan kalau bisa secepatnya!" ucapnya meminta.


"Huh..." Dimas memhembuskan nafasnya. Entah perasaan apa ini tapi melihat wanita yang sejak lama di inginkannya malah lebih penasaran dengan orang lain menimbulkan perasaan ngilu.


"maaf kak sebelumnya, apa saya boleh tau alasannya?" Dimas masih berharap kalau laki-laki ini bukan orang spesial untuk kak Riva.


"hmmmm" ragu, tapi demi Dimas supaya tidak keberatan membantunya Riva menjelaskan." Dia anak kenalan mama, dan entah apa maksud mama sampai dia terang-terangkan datang menemui dan mengatakan suka. Karena itu kakak perlu informasi tentangnya" menjelaskan tanpa menutupi. sedang Dimas yang mndengar itu hanya bisa menarik nafas pelan namun penuh.


Tersenyum getir, dia harus mencari informasi tentang laki-laki yang menjadi rivalnya.


Bahkan kata itu tidak cocok untuk Dimas ucapkan. karena memang Nona Riva tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar sahabat merangkap orang kepercayaan adiknya.


"iya kak. Dimas akan coba bantu" ucapnya terpaksa.


"oke, terimakasih Dimas. Ah satu lagi jangan bilang sama Revan oke. kakak malas membahas ini dengannya" meminta lagi.


"iya kak" ucap Dimas lemah bersamaan dengan sambungan telpon yang terputus.


Kenapa harus hari ini.


Dimas ingin teriak keras, tapi dia memilih untuk tetap waras agar bisa berfikir jernih.


Dimas mendeal nomor di smarphone nya untuk meminta seseorang mencari tau siapa sebenarnya laki-laki yang dibawa nyonya kehadapan nona mudanya.


Dimas ikut merasa penasaran dan tidak ingin kecolongan lagi. Apalagi sampai membuat wanitanya tersakiti lagi.


Oke Dim untuk sekarang tenanglah


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


__ADS_2