Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 53 Perasaan


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Diruangan lain dilantai dua pada Restoran yang biasa di datangi tuan Revan dan semua sahabat-sahabatnya.


Dino tengah termenung, tampak tersenyum samar seolah merasa lucu dengan cerita tuan mudanya.


Hah....,aku tidak menyangka kalau anda sepolos itu tuan muda. Bagaimana bisa ada cerita cinta seperti ini.


Astaga aku bahkan tidak pernah terfikir selama ini.


Wajar juga sih, dia kan tuan muda Revan yang bisa bertindak diluar jangkaun kita.


Jatuh cinta pada staf nya saja sudah merasa lucu apalagi dengan cerita yang lainnya.


Dino terus merasa bermonolog dalam batinnya, merasa lucu dengan kejadian siang tadi.


Dimana tuan muda yang selalu bersikap dingin, tiba-tiba kelimpungan karena kekasihnya yang sedang ngambek. Ditambah lagi nona muda dan sekertaris Dimas yang ikut dipusingkan dengan permasalahan itu.


Dino sebenarnya ikut dipusingkan, tapi perannya cukup dengan menyediakan tempat berbicara di restorannya ini.


"apa anak-anak yang lainnya juga tau ya soal percintaan tuan Revan?. Kalau seandainya yang lain sudah tau itu artinya aku menjadi yang terakhir yang tahu. " gumam Dino lebih kepada dirinya sendiri.


Merasa kesal? Tentu sama sekali tidak. bagaimana bisa dia bisa melakukan itu. Toh dengan tuan Revan menceritakan kepadanya saja Dino sudah merasa tersanjung.


Dino malah akan merasa sangat menyesal jika dia menjadi orang yang terakhir tahu dari semua sahabat-sahabat mereka. Karena merasa tidak peka dengan semua sikap yang ditunjukan tuan mudanya.


Dino turut merasa senang mendengar kabar mengenai kisah asmara tuannya, sekaligus merasa gemas karena tuan mudanya terlihat sangat polos dalam mengekpresikan perasaannya.


...****************...


"Selamat sore nona" mbak Keke menyapa nona mudanya yang baru saja tiba.


"iya mbak" jawab Riva singkat.


"nona, nyonya berpesan kalau nona pulang diminta menghadap" mbak Keke memberitahu.


Riva berbalik dan menghadap langsung kepala pelayan dirumahnya itu. Merasa aneh karena mendapat panggilan tiba-tiba.

__ADS_1


Meski begitu Riva tetap merasa bersyukur karena yang memanggil adalah mamanya.


"tumben mbak, mama dimana sekarang?" merasa aneh.


"nyonya di kamar nona" jawabnya langsung.


" bilang sama mama, aku kesana kalau sudah mandi ya mbak. Terimakasih" ucapnya dengan langkah mengayun ke lantai dua dimana kamarnya berada.


"baik nona"


tok tok tok


"masuk va, mama di dalam" nyonya Fatma terdengar bersuara.


Riva menemui mamanya setelah menyelesaikan acara bersih-bersihnya. Berhubung yang memanggil mama jadi Riva bisa lebih santai dalam bersiap.


Riva berjalan kearah sofa dimana mamanya tengah duduk santai menghadap ke arah TV yang menampilkan berita terkini.


"tumben..." Ucap Riva seraya duduk di dekat mamanya.


"papa kemana ma?," melihat keseluruh ruangan kamar orangtuannya.


"papa diruang kerjanya, sedang Zoom atau apalah mama kurang tau juga. Oh ya mama mau tanya soal adik kamu" membuka obloran yang memang membuat mama Fatma penasaran.


Riva mengernyitkan dahi, heran tapi merasa penasaran dengan apa yang akan ditanyakan sang mama. Riva memilih diam dan menunggu kelanjutan dari pertanyaan sang mama.


"apa Revan sedang dekat dengan seseorang?" mama Fatma bertanya.


Mencoba mengorek apa yang diketahui putrinya.


"oh...."Riva menjawab pendek dengan santainya.


" apa memang benar?" lagi nyonya fatma bertanya. Karena merasa ambigu dengan jawaban pendek putrinya.


Riva berfikir sejenak " kayanya sih iya..." jawabnya lagi. Semakin membuat sang mama tidak mengerti.


"astaga kamu ini, mama sudah serius loe" nyonya Fatma terlihat kesal dengan sikap santai putrinya.


Riva menatap sang mama" ma, Riva tau diantara kami Revan adalah yang paling dekat dengan mama. Jadi mama tenang saja kalau memang dia sudah punya kekasih dia pasti akan cerita ke mama. Jadi..." penjelasan Riva terpotong langsung dengan tatapan tajam sang mama.


"siapa yang bilang gitu. Mama deket sama semua anak mama. Lagian anak mama cuma kalian aja. Enggak ada yang lebih atau kurang, perhatian mama sama ratanya untuk kalian.

__ADS_1


hanya saja kalian terlalu santai dan enggan terbuka sama mama. Apa mama yang harus selalu bertanya pada kalian baru kalian akan cerita sama mama" Mama Fatma menunjukan kekesalannya. Entah bagaimana bisa putri sulungnya ini berfikir kalau perhatiannya lebih dominan untuk adiknya.


Sama sekali tidak. Nyonya Fatma mensamaratakan semuanya. Hanya saja Revan memang lebih terbuka padanya.


Riva tertegun dengan penjelasan sang mama yang terlihat tersinggung dengan kata-katanya.


"maksud Riva bukan itu ma..." Riva menatap sang mama dengan perasaan bersalah.


"Hah....., mama cuma tidak suka dengan cara berfikir kamu. Mama bertanya mengenai Revan karena mama merasa khawatir dengan kehadiran Laura. Mama sama sekali tidak bermaksud medominankan salah satu dari kalian. " Nyonya Fatma menjelaskan maksudnya. Sepertinya kali ini nyonya Fatma tidak ingin putrinya salah paham dan merasa tidak diperhatikan.


"mama juga ingin tau masalah tentang kamu, tapi sejauh ini semuanya baik-baiknya saja bukan?, kecuali masalah kecil yang ada di Butik tempo hari. Dan...., mama juga tidak melihat atau mendengar kamu sedang dekat dengan siapa pun. Dan mama juga tidak ingin mempertanyakan itu, takutnya kamu merasa tidak nyaman karena hal yang lalu" lanjut Nyonya Fatma.


"hahahahha....., biasa aja kali ma. Riva juga paham kok. Lagian siapa yang enggak bakalan penasaran dengan kisah Revan. Secara diakan misterius banget semenjak putus dari mantannya yang lalu.


Lagian ya ma, kalau masalah itu biar Revan langsung cerita sendiri saja. Soalnya ini lumayan sensitif juga kan, Riva takut salah" Riva menjelaskan panjang lebar. Intinya Riva tidak ingin sang mama salah paham soal pendapatanya tadi.


"baiklah, kalau gitu sekarang mama tanya soal kamu. Apa sudah ada kemajuan?, ingat mama sama ayah sudah tua loe!" Riva mengernyitkan dahi mendengar ucapan mamanya.


Karena kalau dilihat sekilas orangtuanya terlihat sangat muda berbeda jauh dengan umurnya. Mungkin faktor perawatan dan hati yang damai


tapi entahlah.


Riva merasa aneh dengan kalimat yang diucapkan sang mama, namun merasa malas untuk memperpanjang seolah tahu kemana ujung dari kalimat itu.


...****************...


"abang langsung pulang kan?" Lala bertanya sebelum membuka gerbang kosnya.


Seperti biasa Revan akan mengantar pulang kekasihnya. Meski sempat merasa tidak nyaman dengan kejadian pagi ini. Tapi untungnya Revan bisa bersikap kembali seperti sebelumnya, bertindak seolah tidak pernah terjadi hal apapun.


Revan mempertajam tatapannya, tidak suka dengan pertanyaan kekasihnya " kamu ngusir abang..?!" pertanyaan yang terselip kekesalan itu dikeluarkan Revan tatapan belum mengendur sedikit pun.


"hahahahaha, bukan bang. Maksud Lala apa abang langsung pulang?" memperjelas maksud dari pertanyaannya.


Revan tersenyum samar melihat tawa kekasihnya " pengennya sih main dulu" Revan memancing reaksi kekasihnya.


Kali ini Lala yang menajamkan pandangannya " mau main kemana jam segini bang?, enggak usah aneh-aneh deh lebih baik sekarang langsung pulang habis itu istirahat" Lala memperingatkan kekasihnya yang sialnya malah menampilkan senyum manisnya.


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


__ADS_2